Tuesday, May 27, 2014

TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi:




TEORI SASTRA


A.      PUISI
1.         Pengertian Puisi
Puisi berasal dari bahasa Yunani yang artinya:
Membuat : “poeima”
Pembuatan : “poesis”
Orang yang membuat disebut : “poet”
 Puisi adalah bentuk karya sastra yang diciptakan oleh penyair menggunakan bahasa tertentu untuk mengungkapkan suatu perasaan tertentu. Puisi merupakan bentuk karya sastra yang paling tua.
Selain itu pendapat lain mengatakan bahwa puisi adalah :
Menurut Kamus Istilah Sastra (Zaidan: 2007), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, dan tata puitika yang lain
Menurut H.B. Jassin puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung suatu pikiran-pikiran dan sebuah tanggapan-tanggapan..
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

2.         Jenis-jenis Puisi
a.         Puisi Lama
yaitu puisi yang terikat oleh aturan (lama), antara lain:
(1)   jumlah suku kata dalam satu baris,
(2)   jumlah baris dalam satu bait,
(3)   persajakan (rima), maupun
(4)   irama.
Ciri-ciri puisi lama:
(1)   merupakan puisi rakyat, yang tak dikenal nama pengarangnya (anonim).
(2)   menyebar dari mulut ke mulut, sehingga dikatakan sastra lisan.
(3)   terikat oleh aturan-aturan (jumlah kata, baris, rima, dan irama).
Contoh puisi lama :
1)      Mantra
Yaitu ucapan-ucapan tertentu yang memiliki kekuatan ghaib.
Contoh :   Assalamualaikum putri satulung besar
                        Yang beralun berilir simayang
                        Mari kecil, kemari
                        Aku menyanggul rambutmu
                        Aku membawa sadap gading
                        Akan membasuh mukamu

2)        Pantun
Yaitu puisi yang bersajak a-b-a-b, terdiri dari:
(1)   tiap bait terdiri dari empat baris
(2)   tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
(3)   baris pertama dan kedua disebut sampiran
(4)   baris ketiga  dan keempat dinamakan isi
Contoh :            Kalau ada jarum patah
                                    jangan dimasukkan ke dalam peti
                                    Kalau ada kataku yang salah
                                    jangan dimasukkan ke dalam hati
                                   
                                    Pisau tak akan tajam selalu
                                    karena itu harus diasah
                                    Tuhan tak akan meninggalkanmu
                                    di saat Engkau kena masalah
3)       Karmina
Yaitu pantun yang berisi dua baris,
(1)   baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua disebut isi
(2)   bersajak a-a
(3)   biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran
Contoh:           Dahulu perang, sekarang besi
                                  Dahulu sayang, sekarang benci

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula

4)      Seloka
Yaitu pantun lama yang berkait, yang tidak cukup dengan satu bait karena pantun ini berkait.
(1)     Baris ke 2 dan ke 4, pada bait 1
Dipakai sebagai baris 1 dan ke 3, pada bait ke 2
(2)     Baris ke 2 dan ke 4, pada bait ke 2
Dipakai sebagai baris 1 dan ke 3, pada bait ke 3, . . . dst.

Contoh :     Lurus jalan ke payukambah
                        Kayu jati bertimbal jalan                         BAIT
                        Dimana hati takkan rusuh                   (PERTAMA)
                        Ibu mati bapak berjalan

                      Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan                 BAIT
Ibu mati bapak berjalan                      (KEDUA)
Kemana untung diserahkan

5)        Gurindam
Yaitu puisi yang berdirikan tiap bait dua baris, dan berisi nasihat atau kata-kata mutiara.
Ciri-ciri gurindam:
(1)     terdiri dari dua baris tiap bait.
(2)     jumlah kata tidak ditentukan, tapi biasanya 10-14 suku kata.
(3)     terdapat hubungan sebab-akibat antara baris pertama dan kedua.
Contoh :   Kurang pikir kurang siasat
                      Tentu dirimu akan tersesat
           
                       Barang siapa tinggal-kan sembahyang
                       Bagai rumah tiada bertiang

                       Jika suami tiada berhati lurus
                       Istripun kelak menjadi kurus

6)       Syair
Yaitu puisi dalam bentuk terikat yang mementingkan irama dan sajak,
Ciri-ciri gurindam:
(1)     terdiri dari empat baris
(2)     bersajak a-a-a-a
(3)     bersumber dari arab
Contoh:    Pada zaman dahulu kala
                      Tersebutlah sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman sentosa
                      Dipimpin Raja nan bijaksana

7)      Talibun
Yaitu pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6,8,10 baris.
Contoh :    Kalau anak pergi ke pecan
                        Yu beli belanak beli
                        Ikan panjang beli dahulu
                        Kalau anak pergi berjalan
                        Ibu cari sanak pun cari
                        Induk semang cari dahulu


b.        Puisi Baru
Yaitu Puisi yang tidak terikat oleh (aturan) lama, seperti jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, rima dan irama.
Ciri-ciri puisi baru :
(1)     Bentuknya rapi, simetris
(2)     Mempunyai persajakan akhir yang teratur
(3)     Menggunakan pola sajak dan syair
(4)     Sebagian besar puisi empat seuntai
(5)     Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra
(6)     Tiap gatranya terdiri dari dari suku kata (4-5 suku kata)
(7)     Gatra (kesatuan sintaksis)
Jenis-jenis dan contoh puisi baru, yaitu :
a)        Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas :
1)        Balada
Adalah puisi yang berisi kisah atau cerita
Contoh : Puisi “Perempuan-perempuan perkasa” Karya Hartoyo Andangjaya.

2)        Himne
Adalah puisi pujian untuk Tuhan, Tanah Air atau Pahlawan, biasanya mengandung tema keagamaan dan moral.
Contoh : Puisi “Pangeran Diponegoro” karya Chairil Anwar

3)        Ode
Adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
Contoh : Puisi “Perempuan-perempuan perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.
(bedanya ode dengan himne yaitu jika ode tidak harus pahlawan)

4)        Epigram
Adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
Contoh : Puisi-puisi karya Taufik Ismail, contohnya puisi "Sajadah Panjang".
                       
5)        Romance
Adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
Contoh : Puisi “Senja di pelabuhan kecil” karya Chairil Anwar.
Puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.

6)        Elegi
Adalah puisi yang berisi ratap / tangis kesedihan
Contoh : Puisi-puisi karya W.S. Rendra

7)        Satire
Adalah : puisi yang berisi sindiran / kritik.

b)        Menurut bentuknya puisi dibagi menjadi, antara lain:
1)      Distikon    (sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama, rima a-a atau b-b)
2)      Terzina      (sanjak 3 seuntai)
3)      Quatrain    (sanjak 4 seuntai)
4)      Quint         (sanjak 5 suntai)
5)      Sextet        (sanjak 6 seuntai)
6)      Septima     (sanjak 7 seuntai)
7)      Stanza/octav (sanjak 8 seuntai)
8)      Soneta       (sanjak 14 seuntai)

B.     PROSA
Prosa adalah bentuk karya sastra yang berbentuk karangan bebas yang tidak terikat aturan (lama) yang mengisahkan tentang suatu sejarah atau peristiwa.
1.         Prosa Lama
Sifat Prosa Lama yaitu:
(a)     kurang dinamis
(b)     anonim (tidak ada nama pengarangnya)
(c)     kebanyakan isinya kurang masuk akal

Prosa lama terbagi menjadi empat hal, yaitu :
(a)     Cerita pelipur lara (misal: dongeng,fabel)
(b)     Hikayat (misal: hikayat Hang Tuah, Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Cerita Iskandar Zulkarnain, Cerita Amir Hamzah)
(c)      Kitab-kitab yang berisi sejarah (silsilah)
(d)     Cerita-cerita yang berhubungan dengan agama Islam

2.         Prosa Baru
Sifat Prosa Baru yaitu :
(a)     sangat dinamis
(b)     ada nama pengarangnya
(c)     isinya masuk akal

Prosa baru terbagi menjadi tiga yaitu :
(a)     Roman ( tahun 1917 )
(b)     Cerpen ( tahun 1920 )
(c)      Novel   ( tahun 1945 )

  Perbedaan Puisi Dan Prosa
PUISI
PROSA
Merupakan aktivitas jiwa, menangkap kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan dan dipusatkan.
Merupakan aktivitas menyebarkan ide/gagasan dalam bentuk uraian.
Merupakan pencurahan jiwa yang bersifat singkat, emosional, dan ekspresif.
Merupakan pengungkapan gagasan yang bersifat naratif.
Seringkali isi dan kalimat-kalimatnya bermakna konotasi (makna kias/tidak sebenarnya).
Pada umumnya bermakna denotasi (makna sebenarnya), walaupun ada beberapa karya sastra yang isinya konotasi.
                                                                                                            
3.         Unsur Intrinsik Prosa
a.        Tokoh (Penokohan)
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa didalam cerita. Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh di dalam cerita.
Dibagi menjadi 3 dimensi, yaitu :
(1)     Dimensi Fisiologis (bentuk muka, jenis kelamin, bentuk fisik)
(2)     Dimensi Psikologis (moral, akhlak)
(3)     Dimensi Sosiologis (status sosial, jabatan, pendidikan)

            Pembagian Tokoh :
1)        Berdasarkan keterlibatan dalam cerita
(a)       Tokoh utama (Sentra)
        Tokoh utama adalah tokoh yang perannya diutamakan dalam karya sastra yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
(b)       Tokoh Tambahan (Perifera)
    Pemunculan tokoh-tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung atau tidak langsung. 
 
2)        Berdasarkan watak
(a)       Protagonis       
       Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
(b)       Antagonis      
       Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
(c)       Tritagonis         
(d)       Figuran           
Cara menggambarkan watak tokoh ada dua, yaitu:
1)        Langsung : Segala yang berkaitan dengan tokoh dijelaskan semua oleh pengarang.
Contoh: 
     "Pemuda pendiam, hobi menjalankan puasa Daud, tangkas dan cepat dalam mehafal al-Qur’an, pandai berdiskusi, ramah dan banyak senyum, hobi membaca, dipadu dengan wajah yang lumayan dan perawakan yang elok itu tidak lain adalah Mansyur.
    Berdasarkan kutipan novel di atas, watak tokoh Mansyur digambarkan secara langsung. Mansyur mempunyai sifat pendiam, rajin berpuasa Daud, ramah, rajin membaca dan lain sebagainya. 
 
2)        Tidak Langsung : 
      Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang melalui narator. Metode tidak langsung dibagi menjadi:
(a)      Melalui penggambaran fikiran tokoh
(b)      Melalui perbuatan tokoh
(c)      Melalui sikap tokoh
(d)      Melalui penjelasan tokoh lain
Contoh:
     "Azzam turun dan mendekati mereka berdua. Ia mendengar suara sesenggukan dari gadis berjilbab coklat muda. “Mmm, maaf Ukhti. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” sapa Azzam sesopan mungkin. Beberapa orang Mesir melihat mereka."

b.        Alur (Plot)
Alur adalah unsur dengan wujud jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu. Latar diwujudkan oleh hubungan sebab-akibat, tokoh, tema, atau ketiganya. Alur meliputi :
1)        Pengenalan
2)        Pergesekan         TAHAP  I
3)        Pertikaian
4)        Klimaks
5)        Anti klimaks        TAHAP  II
6)        Peleraian
7)        Penyelesaian (solusi)     
8)        Konklusi                             TAHAP  III

Kaidah Alur :
1)        Menurut M.H. Abrams:
(a)      Plausabilitas (masuk akal)
(b)      Suspense (menarik / rasa ingin tahu)
(c)      Surprise (penuh kejutan)
(d)     Unity (membangun satu kesatuan yang utuh)
2)        Menurut Kenney:
(a)       Plausabilitas (masuk akal)
(b)       Suspense (menarik / rasa ingin tahu)
(c)       Surprise (penuh kejutan)
(d)      Unity (membangun satu kesatuan yang utuh)
(e)       Sub plot (di dalam alur cerita ada alur cabang)
(f)        Ekspresif (mampu membawa pembaca hanyut dalam cerita)

Jenis Alur :
1)        Berdasarkan Peristiwa, meliputi :
(a)       Alur maju (progresif)
(b)       Alur mundur regresif)
(c)       Alur campuran
2)        Berdasarkan Kualitas, meliputi :
(a)       Alur rapat (alur tidak boleh bercabang)
(b)       Alur renggang (boleh disisipkan alur lain)
3)        Berdasarkan akhir cerita, meliputi :
(a)       Alur terbuka (akhir cerita tidak jelas / ngambang)
(b)       Alur tertutup (akhir cerita alurnya jelas (happy ending/sad ending)
4)        Berdasarkan kuantitas, meliputi :
(a)   Alur tunggal (alur yang rangkaian peristiwanya mengandung satu peristiwa primer)
(b)      Alur jamak (alur yang rangkaian peristiwanya mengandung beberapa peristiwa primer)

c.         Sudut Pandang
Sudut pandang dapat diartikan sebagai posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita. Macam-macam sudut pandang yaitu :
1)        Sudut pandang orang pertama, meliputi :
(a)      Sudut pandang orang pertama tokoh utama (aku)
yaitu : Penulis adalah “aku” sebagai tokoh utama cerita (first person central)  dan mengisahkan dirinya sendiri, tindakan, dan kejadian disekitarnya.
(b)      Sudut pandang orang pertama tokoh bukan utama (sampingan)
yaitu : Penulis adalah “aku ” dalam cerita tapi bukan tokoh utama. Keberadaan “aku” hanya sebagai saksi/kawan tokoh utama. “Aku” adalah narator yang menceritakan kisah yang dialami tokoh lain yang menjadi tokoh utama.
2)        Sudut pandang orang ketiga
(a)       Sudut pandang orang ketiga mahatau
yaitu : segala sesuatu yang “dia” lakukan,  aku(pengarang) mengetahui semuanya (serba tahu)
(b)      Sudut pandang orang ketiga terbatas
yaitu : segala sesuatu yang “dia” lakukan,  aku (pengarang) tidak tahu semuanya, hanya sebagian.

d.        Latar
Latar adalah segala sesuatu yang mengacu pada keterangan mengenai waktu, ruang, serta suasana peristiwanya. Latar pada dalam pementasan biasanya dibuat panggung yang dihiasi dengan dekorasi, seni lukis, tata panggung, seni patung, tata cahaya, dan tata suara. Latar meliputi:
1)        Waktu
2)        Sosial
3)        Psikologi
4)        Tempat
5)        Suasana

e.         Gaya bahasa (majas)
Bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda lain atau hal lain yang lebih umum.
Majas dapat digolongkan sebagai berikut.
1)        Majas perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 4 jenis, yaitu:
(a)      Majas Perumpamaan (asosiasi)
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja dianggap sama.
Contoh:
·         Bak mencari kutu dalam ijuk. (Melakukan sesuatu yang mustahil)
·     Bagai kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu)
·         Semanis madu.
·         Sedalam laut.
·         Secantik bidadari.
Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka, sepantun, laksana, umpama.
(b)      Metafora
Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.
Contoh:
·         Kapan Anda bertemu dengan lintah darat itu? (rentenir)
·         Sang raja siang mulai menampakkan dirinya. (matahari)
(c)      Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak.
Contoh:
·       Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh.
·       Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk.
·       Matahari mulai merangkak  ke atas.
·       Kabut tebal menyelimuti desa kami.
(d)     Alegori
Alegori pada umumnya mengandung sifat-sifat moral manusia.
Contoh:
·   Mendayung bahtera rumah tangga. (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga)
·        Dalam sutu keluarga suami adalah sebagai nahkoda, dan istri sebagai juru mudi.

2)        Majas Pertentangan
Majas pertentangan terbagi menjadi:
(a)      Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan.
Contoh:
·         Keringatnya menganak sungai.
·         Suaranya menggelegar membelah angkasa.
(b)      Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga hiperbola negatif.
Contoh:
·       Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi tenggorokan saja yang ada.
·       Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.
(c)      Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran.
Contoh:
·       Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati.
·       Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.
(d)     Antonomasia
Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.
Contoh:
·       Sssssttt, lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya.
·       Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.
·       Kemarin saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo. Benar tidak?
(e)      Oksimoron
Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang mengandung hal-hal yang bertentangan.
Contoh:
·  Memang benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari kesepakatan. Namun tidak jarang menjadi wadah pertentangan para pesertanya.
·    Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau bangsa.
·       Olahraga mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.

(f)       Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.
Contoh:
·   Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
·   Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di mana-mana, ia bercerita padaku katanya kesepian.

3)        Majas Pertautan
Majas pertautan dibedakan menjadi:
(a)      Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya.
Contoh:
·       Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
·     Andi berangkat kuliah mengendarai Kijang. (Maksudnya mobil merek Kijang).
(b)      Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Contoh:
·            Sudah seminggu ini Iwan tidak tampak batang hidungnya. (Padahal yang dimaksud bukan hanya batang hidung)
·            Indonesia berhasil memboyong kembali piala Thomas. (Padahal yang berhasil hanya satu regu bulu tangkis)
Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan. Contoh:
·           Jauh-jauh telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
·         Selama ini kemana saja kau? Sudah lama tak nampak batang hidungmu. Nenek selalu menanyakan kau.
·        Ia harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang harus disuapi.
·      Kita akan mengadakan selamatan sebagai rasa syukur karena kita naik kelas semua. Untuk itu biaya kita tanggung bersama tiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp 1.500,00
Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian saja. Contoh:
·       Dalam musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
·        Dalam pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.
(c)      Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan.
Contoh:
·         Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
·         Ah, kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)
(d)     Eufemisme
Eufemisme adalah majas kiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.
Contoh:
·         Orang itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)
·         Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
·         Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan) 

f.         Tema
Tema adalah : gagasan, ide, atau pikiran utama yang digunakan sebagai dasar dalam menuliskan cerita.
Menuru Shipley, tema meliputi :
1)        Tema fisik
yaitu : tema yang ditonjolkan aktifitas fisiknya (sedikit-sedikit bertikai).
2)        Tema organik
yaitu : tema yang berkaitan dengan moral manusia.
3)        Tema sosial
yaitu : tema yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik.
4)        Tema egoik
yaitu : tema yang berhubungan dengan reaksi-reaksi individu yang terjadi disekitarnya.
5)        Tema ketuhanan
yaitu : tema yang berhubungan dengan religius / ketuhanan.

4.         Unsur Ekstrinsik Prosa
Unsur ekstrinsik prosa adalah faktor luar yang mempengaruhi pengarang pada saat penciptaan cerita, seperti kondisi sosial, ekonomi, ideologi, politik, agama, budaya, dan lain-lain. Pengarang melepaskan diri dari faktor-faktor itu. Bahkan tidak sedikit yang lahir atas inspirasi pengarang dari unsur ekstrinsik itu.
Unsur ekstrinsik prosa fiksi meliputi :
a)        Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
Nilai yang terkandung adalah salah satu unsur penting dalam sebuah karya sastra. Nilai-nilai tersbut yang akan diambil oleh pembaca dalam rangkuman isi dari karya penulis. 

(1)     Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan ajaran yang berasal dari ajaran agama.
(2)     Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan akhlak atau etika. Nilai moral dalam sebuah cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa juga nilai moral yang buruk atau jelek.
(3)     Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan niali-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan atau tradisi atau adat istiadat yang berlaku pada suatu daerah.

b)        Latar belakang kehidupan pengarang
Latar belakang pengarang bisa mengikuti pemahaman kita terhadap sejarah hidup dan juga sejarah hasil karangan-karang sebelumnya. Latar belakang pengarang dapat terdiri dari tiga bagian
(1)     Biografi
Biogarafi ini berisi tentang riwayat hidup pengarang yang ditulis secara keseluruhan
(2)     Kondisi Psikologis
Kondisi Psikologis ini berisi tentang pemahaman mengenai kondisi muda serta keadaan yang mengharuskan seorang pengarang menulis cerpen.
(3)     Aliran Sastra
Seorang penulis pasti akan mengikuti aliran sastra tertentu. Ini sangat berpengaruh dalam gaya penulissan yang dipakai penulis dalam menciptakan sebuah karya.


C.      DRAMA
1.         Pengertian Drama
Drama adalah cuplikan penggalan hidup manusia yang dipentaskan di atas panggung (cerminan kehidupan manusia)
Gunanya yaitu untuk menasehati / bahan refleksi / memperbaiki diri.

2.         Perbedaan Drama dan karya sastra lain (Puisi, Novel, Cerpen)
a.         Drama : dipentaskan diatas panggung
Novel  : dibaca

b.        Drama : ditonton bersama-sama
Novel  : dibaca perorang / mandiri

c.         Drama : alurnya dapat divisualisasikan (dilihat dengan mata)
Novel  : alurnya ditulis / dibaca

d.        Drama : settingnya dapat dilihat dari tata panggung
Novel  : settingnya dapat dilihat dari penulis / imajinasi penulis

e.         Drama : drama berbentuk dialog
Novel  : berbentuk cerita / uraian

3.         Unsur – Unsur Drama
a.         Tema : pokok pikiran dari cerita
b.        Amanat : pesan yang ingin disampaikan pengarang / penulis
c.         Tokoh / perwatakan
d.        Setting / latar
e.         Alur
f.         Dialog : percakapan dari tokoh / pemain, ada 3 yaitu :

1)        Monolog : pembicaraan seseorang yang membahas sesuatu yang sudah berlalu.
Contoh :      20 tahun sudah aku hidup di dunia ini, sedih, senang aku jalani.
2)     Soliloque : pembicaraan seseorang yang mengungkapkan suatu keinginan masa depan.
Contoh :      Tahun depan aku sudah menginjak semester dua. Aku akan belajar lebih giat agar IP ku bagus. Aku ingin membahagiakan kedua orang tua.

3)        Aside : percakapan seorang tokoh, namun diungkapkan ke penonton.
percakapan tokoh tertentu yang berasal dari luar panggung.

·      Adegan adalah bagian dari Babak
·      Adegan  : ditandai padamnya lampu sementara
·      Babak     : ditandai sudah ada pergantian setting / tata panggung.

4.         Karakteristik Drama, Sandiwara Radio, Sinetron, dan Film
a.         Sandiwara Radio
1)        Tidak visual (tidak dapat dilihat dengan mata, melainkan hanya bisa didengar melalui efek suara )
2)        Penggambaran watak, setting, tema, dll, ditumpukan / didasarkan pada efek suara
Misalnya :   Tokoh antagonis  : bisa kita ketahui lewat suara tokoh yang keras
Tokoh protagonis : bisa kita ketahui lewat suara tokoh yang lembut

b.        Sinetron (Sinema Elektronik)
1)        Yang pertama kali menamakan adalah : Sumardjono
2)        Istilah lain adalah : Telenovela, dan Soap Opera (Inggris)
3)        Ditayangkan di Televisi
4)        Terdiri dari beberapa episode
5)        Mayoritas untuk tujuan komersial (sponsor)

c.         Film
Terbangun atas dua unsur
1)        Naratif : naskah
2)        Sinematik : unsur yang digunakan untuk membuat film (alat-alat pembuatan film)
3)        Bahasa film : perpaduan antara suara dan gambar / efek.

5.         Perbedaan Drama, Sandiwara, Film, dan Sinetron
a.         Drama :  merupakan pementasan langsung, sehingga hubungan antara pemain dan  penonton sangat intens (kuat), selain itu pementasannya pun harus perfect. Dari awal hingga akhir karena tidak ada pengulangan.
Film     : merupakan pementasan tidak langsung, sehingga hubungan antara pemain dan penonton tidaklah kuat, selain itu pementasannya pun tidak harus perfect karena bisa / ada proses pengulangan.

b.        Drama : didalam drama intonasi, tata rias atau busana, ekspresi harus ditampilkan secara kuat agar bisa dilihat / didengar oleh penonton.
Film     : didalam film intonasi, tata rias atau busana, ekspresi tidak harus ditampilkan secara kuat, karena bisa direkayasa / melalui proses editing agar film tersebut bisa terlihat sempurna.

c.         Drama : dibatasi dengan panggung, sehingga pemain harus pandai menyesuaikan tata panggung yang ada.
Film    : sedangkan film / sinetron panggung bisa berubah – ubah / berpindah – pindah tempat.

6.         Jenis-jenis Drama
a.         Drama Tragedi
Menurut Aristoteles  Drama Tragedi adalah drama yang dapat menimbulkan keharuan, kesedihan kebelas kasihan, kengerian,yang mampu menimbulkan efek penyucian jiwa (katarsis)  bagi penontonya.

b.      Drama Komedi
Drama yang dapat membuat orang / penonton bahagia.
                     Drama berasal dari kata “comoida” (membuat gembira)
Dan diakhiri dengan kata “comos” (keluar dari cerita dan dilanjutkan dengan pesta yang penuh kegembiraan).

c.       Melo Drama
Drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara menimbulkan rasa haru
pada penontonnya, namun tidak sampai menimbulkan efek penyucian jiwa (katarsis).
Cirinya :
1)    Pertentangan antara dua kubu (baik dan jahat)
2)    Pihak yang baik atau yang buruk masing-masing akan mendapat ganjaran/balasan
3)        Memperlihatkan penderitaan tokoh protagonis dan sebaliknya
4)        Mengangkat kehidupan rumah tangga, novel popular, dll

d.      Drama Tragedi-komedi
Yaitu dua hal yang berlainan yang dipadukan dalam tragedi manusia yang dihadapkan pada situasi alam dan nasib. Dalam komedi manusia dihadapkan pada sisi kebahagiaan dalam menentang nasib.

e.       Drama Parodi
Yaitu drama yang dapat menimbulkan efek jenaka.
Bedanya dengan komedi, parodi : mengandung unsur yang bertujuan satiris. Mengandung lagu-lagu yang dinyayikan sebagai tiruan lagu-lagu lain tetapi dengan memlesetkan syairnya.

KUNJUNGI JUGA:



TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...