NILAI MORAL
DALAM PUISI PARA PEMINUM
KARYA
SUTARDJI CALZOUM BACHRI
Oleh:
Nur Anif, S.Pd. (Guru SMK Negeri
Nusawungu)
ABSTRAK
Penelitian sajak Para Peminum karya
Sutardji Calzoum Baachri ini bertujuan untuk menganalisis nilai moral yang
terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan
pendekatan moral. Pendekatan moral adalah pendekatan dalam meneliti karya
sastra dengan memfokuskan pada nilai moral (manfaat atau kegunaan) yang
terdapat dalam karya sastra. Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan
bisa dijadikan bahan kesadaran diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam
sajak Para Peminum terkandung
kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas
memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam mencapai cita-cita, janganlah mudah putus asa, meskipun
dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah yang menghadang. Hal
ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan kegiatan yang dilakukan
oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan apa yang dicita-citakan,
mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak
bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai
pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.
A.
Pendahuluan
Sejak awal pertumbuhannya, kehidupan sastra Indonesia Modern tidak
terlepas dari situasi masyarakat pada suatu masa. Munculnya corak dan bentuk baru
dalam sastra Indonesia banyak berkaitan dengan perubahan, perkembangan dan
gejolak yang ada dalam masyarakat. Secara nyata sastra kontemporer Indonesia
mulai dipopulerkan tahun 1970-an. Gerakan puisi kontemporer yang melanda dunia
gaungnya terdengar di Indonesia dan memberi corak terhadap kehidupan puisi
Indonesia.
Puisi Indonesia kontemporer di dalam dunia perpuisian Indonesia
dikejutkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan inprovisasinya yang menjadi
bagian penting dari proses penciptaan puisi-puisinya. Berbeda dengan
penyair-penyair sebelumnya, Sutardji menggebrak dengan puisi-puisinya yang berbentuk
baru. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri benar-benar member
wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia (Purba: 2012: 15)
Subagiyo Sastrowardojo menyatakan bahwa Sutardji merintis genre baru
dalam sastra Indonesia. Puisi-puisi Sutardji menunjukkan orisinalitas,
sedangkan Dami N. Toda menyatakan bahwa Sutardji mempunyai kedudukan yang sama
pentingnya dalam sejarah puisi Indonesia dengan Chairil Anwar. Jika Cahiril
diumpamakan sebagai mata kanan, maka Sutardji adalah mata kiri (dalam catatan
mengenai puisi Tardji di O, Amuk, dan Kapak) (Waluyo, 2010: 333).
Pada tahun 1979 Sutardji mendapatkan hadiah puisi dari Dewan Kesenian
Jakarta 1976-1977 untuk kumpulan puisinya Amuk (1977), sedangkan tahun 1979
memperoleh Hadiah Sastra Asean. Kumpulan puisinya antara lain: O (1973), Amuk (1977), dan Kapak
(1979). Karya puisi Sutardji telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa
Inggris dan dikumpulkan dalam antologi Arjuna
in Meditation (Calcutta, India), Writing
from the World (Amerika Serikat), Westerly
Review (Australia). Karyanya juga dimuat dalam dua antologi berbahasa
Belanda: Dichters in Rotterdam (1975)
dan Ikwil nog Duizend jaar leven, negen
modern Indonesische dichters (1979). Tahun 1979 Sutardji berangkat ke
Bangkok untuk menerima hadiah South East
Asia Write Award (SEA Award) atas prestasinya dalam sastra. Kumpulan
puisinya O, Amuk, dan Kapak pada
tahun 1981 diterbitkan di dalam satu buku yang berjudul O Amuk Kapak (Waluyo, 2010: 333). Salah satu puisi Sutardji yang di
muat dalam O Amuk Kapak yaitu Para Peminum.
Untuk memahami sajak Para Peminum
karya Sutardji Calzoum Bachri, peneliti menggunakan pendekatan moral. Moral
dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang
bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran. Hal itulah yang ingin
disampaikan oleh pengarang kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2010: 321). Menurut
Kenney, moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang
berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat
diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Moral
merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal
yang berhubungan dengan masalah kehidupan, yakni: sikap, tingkah laku dan sopan
santun pergaulan (dalam Nurgiyantoro, 2010: 321).
Horatius berkiblat bahwa fungsi sastra hendaknya memuat dulce (indah) dan utile (berguna). Karya sastra hendaknya membuat pembaca merasa
nikmat dan sekaligus ada sesuatu yang bisa dipetik (dalam Endraswara, 2006:
116). Jadi, dalam karya sastra khususnya puisi aspek moralis (manfaat atau
hikmat) biasanya lebih didahulukan oleh pengarang dalam menciptakan suatu karya
sastra tersebut (Teew, 2015: 142).
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum
Bachri dan menyumbangkan pemikiran bagi perkembangan kritik sastra modern
khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan unsur-unsur pembentuk puisi untuk
memperoleh makna yang dalam pada sebuah sajak. Tujuan praktis adalah
menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia sastra Indonesia yang selama
ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Nilai adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak
dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal)
yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Depdiknas, 2008: 783). Nilai
disamping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah
dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian nilai
tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam
perbuatan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang
bernilai, berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi
kehidupan manusia.
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk
yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya; akhlak,
budi pekerti, susila (KBBI, 1996). Dalam karya sastra khususnya puisi,
senantiasa ditawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur
kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat luhur
kemanusiaan tersebut pada hakikatnya bersifat universal. Artinya, sifat-sifat
itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh manusia sejagat (Nurgiyantoro,
2010: 322).
Dalam karya sastra, moral atau hikmah yang diperoleh pembaca lewat
sastra, selalu dalam pengertian yang baik. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat
mencakup masalah, yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ajaran moral dapat
mencakup seluruh persoalan hidup dan kehiduan, seluruh persoalan yang
menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan
kehidupan manusia itu dapat dibedakan ke dalam persoalan, yaitu: hubngan
manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup
sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam dan hubungan manusia dengan
Tuhannya. Jenis hubungan-hubungan tersebut masing-masing dapat dirinci ke dalam
detail-detail wujud yang lebih khusus (Nurgiyantoro, 2010: 323).
Begitu
juga dengan puisi Para Peminum karya
Sutardji Calzoum Bachri, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan
moral. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai moral yang bermanfaat
bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa nilai luhur dalam setiap baitnya
dan dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.
B.
Metode
Penelitian
Objek
penelitian ini adalah puisi Para Peminum karya
Sutardji Calzoum Bachri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh
karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau
data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah
metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah
yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian
(puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana
adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat
kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1)
menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah
puisi Para Peminum karya Sutardji
Calzoum Bachri, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan
tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan moral.
C.
Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai moral dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum
Bachri. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai
kehidupan/moral yang bisa di sampaikan kepada pembaca. Puisi Para Peminum mengisahkan Para Peminum yang digambarkan sebagai
orang yang sedang berusaha keras menggapai cita-citanya. Dalam menggapai
cita-cita serigkali mereka menghadapi berbagai rintangan yang menghadang.
Namun, mereka tetap maju, jatung bangun, agar bisa mencapai cita-cita tersebut.
Dalam puisi tersebut, pengarang hendak mengungkapkan nilai-nilai kehidupan yang
bisa dijadikan perbaikan hidup bagi pembaca.
PARA PEMINUM
Karya: Sutardji Calzoum Bahri
di lereng lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
mereka oleng
tapi mereka bilang
--kami takkan karam
dalam lautan bulan--
mereka nyanyi nyai
jatuh
dan mendaki lagi
di puncak gunung mabuk
mereke berhasil memetik bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan
Bait ke 1:
di lereng lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka
terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
Sutardji menggambarkan
bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan sesuatu, walau sesuatu itu tak
mungkin digapai. Dalam penggalan puisi “Di
lereng-lereng”, digambarkan situasi hidup yang sulit dan penuh tantangan.
Namun, para peminum yaitu orang-orang yang berusaha menggapai cita-cita, tetap
berusaha mendaki. Dalam penggalan puisi “Gunung
mabuk dan memetik bulan”, dilambangkan suatu cita-cita yang tak mungkin
diraih, hanya merupakan khayalan belaka. Namun, para peminum tak putus asa,
walau terjatuh mereka bangun lagi dan terus berusaha menggapai cita-cita
tersebut.
Dalam bait
pertama, Sutardji hendak menyampaikan
pesan moral: Supaya manusia jangan mudah putus asa dalam menggapai cita-cita.
Bait
ke-2:
mereka oleng
tapi mereka bilang
--kami takkan karam
dalam lautan bulan--
mereka nyanyi nyai
jatuh
dan mendaki lagi
Dalam bait kedua, Sutardji mengungkapkan berbagai tantangan dan
kesenangan hidup melanda dan menggoda dalam hidup manusia. Namun, mereka tetap berusaha. Dalam penggalan puisi “lautan bulan”, dilambangkan berbagai
kesenangan hidup yang berusaha mengalihkan perhatian para peminum dari
cita-citanya. Namun, para peminum tak mau beralih dari cita-citanya. Mereka tak
mau karam dalam laut bulan tersebut. Mereka terus berusaha menggapai
cita-cita walau kegagalan menimpa mereka. Dalam situasi gagal dan sulit mereka
berusaha nyanyi-nyanyi, sejenak menghibur diri sambil terus maju.
Pesan moral
yang hendak disampaikan pengarang dalam bait kedua yakni: Dalam kehidupan senantiasa banyak
rintangan yang menghadang. Untuk itu, kita harus tetap maju agar tercapai
cita-cita yang kita inginkan.
Bait ke-3:
di puncak gunung
mabuk
mereke berhasil memetik
bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan
menyimpan mereka
Dalam bait
ketiga, Sutardji mengungkapkan bahwa keberhasilan tetap memihak orang yang tak
mudah putus asa. Mereka berhasil meraih cita-cita yang awalnya dianggap tak
mungkin. Keberhasilan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka dan mereka
selalu mengenangnya.
Pesan moral
yang terdapat dalam bait keempat yakni: Keberhasilan itu milik orang-orang yang
tidak mudah putus asa.
Bait
ke-4:
di puncak
semuanya diam dan
tersimpan
Bait terakhir
puisi ini mempunyai makna tersendiri. Di puncak semuanya diam dan tersimpan.
Sutadji ingin menyampaikan bagaimana seorang yang tidak mudah putus asa,
menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak
bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai
pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan. Itulah bedanya orang yang tak
kenal putus asa dalam menggapai cita-cita dengan orang yang menggapai cita-cita
dengan cara pintas dan tidak halal.
Pesan moral yang hendak
disampaikan Sutardji dalam bait keempat yakni: Seorang pemenang itu adalah
seseorang yang tidak mudah putus asa, dan dalam menikmati keberhasilannya itu
dengan diam dan tetap rendah hati.
Demikianlah
Sutardji ingin menyampaikan suatu pelajaran hidup yang berguna untuk kita
sampai sekarang. Jangan pernah putus asa dalam meraih cita-cita, walau sulit
dan terasa tidak mungkin.
D.
Simpulan
Dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum
Bachri terkandung kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang
digunakan cukup jelas memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam menggapai
cita-cita, harus dilandasi dengan keseriusan. Puisi ini memiliki suatu makna yang
sangat dalam yakni janganlah mudah putus asa untuk mencapai sebuah impian atau
cita-cita meskipun dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah
yang menghadang. Hal ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan
kegiatan yang dilakukan oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan
apa yang dicita-citakan, mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap
rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan
semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Antilan, Purba. 2012. Sastra Indonesia Kontemporer.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi
Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Kadaryati, 2012. “Diktat
Sejarah Sastra” Modul. Purworejo.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Teeuw, A.
2015. Sastra dan Ilmu Sastra.
Bandung: Pustaka Jaya.
Wartoyo, Agus. 2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam
Novel Pacar Gadhing Karya Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
Waluyo, Herman J. 2010. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga:
Widya Sari Press Salatiga.
http://crossfire-net.blogspot.com/2009/05/kumpulan-puisi-sutardji-calzoum-bachri.html
(diakses tanggal 2 Juni 2015 pukul 13.00).
No comments:
Post a Comment