Tuesday, April 14, 2020

ANALISIS NILAI MORAL DALAM PUISI PARA PEMINUM KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI


NILAI MORAL DALAM PUISI PARA PEMINUM
KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Oleh:
Nur Anif, S.Pd. (Guru SMK Negeri Nusawungu)



ABSTRAK
Penelitian sajak Para Peminum karya Sutardji Calzoum Baachri ini bertujuan untuk menganalisis nilai moral yang terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan pendekatan moral. Pendekatan moral adalah pendekatan dalam meneliti karya sastra dengan memfokuskan pada nilai moral (manfaat atau kegunaan) yang terdapat dalam karya sastra. Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan bisa dijadikan bahan kesadaran diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam sajak Para Peminum terkandung kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam mencapai cita-cita, janganlah mudah putus asa, meskipun dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah yang menghadang. Hal ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan kegiatan yang dilakukan oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan apa yang dicita-citakan, mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.

A.    Pendahuluan
Sejak awal pertumbuhannya, kehidupan sastra Indonesia Modern tidak terlepas dari situasi masyarakat pada suatu masa. Munculnya corak dan bentuk baru dalam sastra Indonesia banyak berkaitan dengan perubahan, perkembangan dan gejolak yang ada dalam masyarakat. Secara nyata sastra kontemporer Indonesia mulai dipopulerkan tahun 1970-an. Gerakan puisi kontemporer yang melanda dunia gaungnya terdengar di Indonesia dan memberi corak terhadap kehidupan puisi Indonesia.
Puisi Indonesia kontemporer di dalam dunia perpuisian Indonesia dikejutkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan inprovisasinya yang menjadi bagian penting dari proses penciptaan puisi-puisinya. Berbeda dengan penyair-penyair sebelumnya, Sutardji menggebrak dengan puisi-puisinya yang berbentuk baru. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri benar-benar member wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia (Purba: 2012: 15)
Subagiyo Sastrowardojo menyatakan bahwa Sutardji merintis genre baru dalam sastra Indonesia. Puisi-puisi Sutardji menunjukkan orisinalitas, sedangkan Dami N. Toda menyatakan bahwa Sutardji mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam sejarah puisi Indonesia dengan Chairil Anwar. Jika Cahiril diumpamakan sebagai mata kanan, maka Sutardji adalah mata kiri (dalam catatan mengenai puisi Tardji di O, Amuk, dan Kapak) (Waluyo, 2010: 333).
Pada tahun 1979 Sutardji mendapatkan hadiah puisi dari Dewan Kesenian Jakarta 1976-1977 untuk kumpulan puisinya Amuk (1977), sedangkan tahun 1979 memperoleh Hadiah Sastra Asean. Kumpulan puisinya antara lain: O (1973), Amuk (1977), dan Kapak (1979). Karya puisi Sutardji telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan dikumpulkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia). Karyanya juga dimuat dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (1975) dan Ikwil nog Duizend jaar leven, negen modern Indonesische dichters (1979). Tahun 1979 Sutardji berangkat ke Bangkok untuk menerima hadiah South East Asia Write Award (SEA Award) atas prestasinya dalam sastra. Kumpulan puisinya O, Amuk, dan Kapak pada tahun 1981 diterbitkan di dalam satu buku yang berjudul O Amuk Kapak (Waluyo, 2010: 333). Salah satu puisi Sutardji yang di muat dalam O Amuk Kapak yaitu Para Peminum.
Untuk memahami sajak Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, peneliti menggunakan pendekatan moral. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran. Hal itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2010: 321). Menurut Kenney, moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Moral merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, yakni: sikap, tingkah laku dan sopan santun pergaulan (dalam Nurgiyantoro, 2010: 321).
Horatius berkiblat bahwa fungsi sastra hendaknya memuat dulce (indah) dan utile (berguna). Karya sastra hendaknya membuat pembaca merasa nikmat dan sekaligus ada sesuatu yang bisa dipetik (dalam Endraswara, 2006: 116). Jadi, dalam karya sastra khususnya puisi aspek moralis (manfaat atau hikmat) biasanya lebih didahulukan oleh pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra tersebut (Teew, 2015: 142).
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri dan menyumbangkan pemikiran bagi perkembangan kritik sastra modern khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan unsur-unsur pembentuk puisi untuk memperoleh makna yang dalam pada sebuah sajak. Tujuan praktis adalah menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia sastra Indonesia yang selama ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Nilai adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Depdiknas, 2008: 783). Nilai disamping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian nilai tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila (KBBI, 1996). Dalam karya sastra khususnya puisi, senantiasa ditawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat luhur kemanusiaan tersebut pada hakikatnya bersifat universal. Artinya, sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh manusia sejagat (Nurgiyantoro, 2010: 322).
Dalam karya sastra, moral atau hikmah yang diperoleh pembaca lewat sastra, selalu dalam pengertian yang baik. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ajaran moral dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehiduan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan ke dalam persoalan, yaitu: hubngan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Jenis hubungan-hubungan tersebut masing-masing dapat dirinci ke dalam detail-detail wujud yang lebih khusus (Nurgiyantoro, 2010: 323).
Begitu juga dengan puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan moral. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai moral yang bermanfaat bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa nilai luhur dalam setiap baitnya dan dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.

B.     Metode Penelitian
Objek penelitian ini adalah puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian (puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1) menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan moral.

C.    Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai moral dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai kehidupan/moral yang bisa di sampaikan kepada pembaca.  Puisi Para Peminum mengisahkan Para Peminum yang digambarkan sebagai orang yang sedang berusaha keras menggapai cita-citanya. Dalam menggapai cita-cita serigkali mereka menghadapi berbagai rintangan yang menghadang. Namun, mereka tetap maju, jatung bangun, agar bisa mencapai cita-cita tersebut. Dalam puisi tersebut, pengarang hendak mengungkapkan nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan perbaikan hidup bagi pembaca.

PARA PEMINUM
Karya: Sutardji Calzoum Bahri

di lereng lereng
 para peminum
 mendaki gunung mabuk
 kadang mereka terpeleset
 jatuh
 dan mendaki lagi
 memetik bulan
 di puncak

 mereka oleng
 tapi mereka bilang
 --kami takkan karam
 dalam lautan bulan--
 mereka nyanyi nyai
 jatuh
 dan mendaki lagi

 di puncak gunung mabuk
 mereke berhasil memetik bulan
 mereka menyimpan bulan
 dan bulan menyimpan mereka

 di puncak
 semuanya diam dan tersimpan


 Bait ke 1:
di lereng lereng
 para peminum
 mendaki gunung mabuk
 kadang mereka terpeleset
 jatuh
 dan mendaki lagi
 memetik bulan
 di puncak

Sutardji menggambarkan bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan sesuatu, walau sesuatu itu tak mungkin digapai. Dalam penggalan puisi “Di lereng-lereng”, digambarkan situasi hidup yang sulit dan penuh tantangan. Namun, para peminum yaitu orang-orang yang berusaha menggapai cita-cita, tetap berusaha mendaki. Dalam penggalan puisi “Gunung mabuk dan memetik bulan”, dilambangkan suatu cita-cita yang tak mungkin diraih, hanya merupakan khayalan belaka. Namun, para peminum tak putus asa, walau terjatuh mereka bangun lagi dan terus berusaha menggapai cita-cita tersebut.
Dalam bait pertama, Sutardji hendak  menyampaikan pesan moral: Supaya manusia jangan mudah putus asa dalam menggapai cita-cita.

Bait ke-2:
mereka oleng
 tapi mereka bilang
 --kami takkan karam
 dalam lautan bulan--
 mereka nyanyi nyai
 jatuh
 dan mendaki lagi

      Dalam bait kedua, Sutardji mengungkapkan berbagai tantangan dan kesenangan hidup melanda dan menggoda dalam hidup manusia. Namun, mereka  tetap berusaha. Dalam penggalan puisi “lautan bulan”, dilambangkan berbagai kesenangan hidup yang berusaha mengalihkan perhatian para peminum dari cita-citanya. Namun, para peminum tak mau beralih dari cita-citanya. Mereka tak mau karam dalam laut bulan tersebut.  Mereka terus berusaha menggapai cita-cita walau kegagalan menimpa mereka. Dalam situasi gagal dan sulit mereka berusaha nyanyi-nyanyi, sejenak menghibur diri sambil terus maju.
Pesan moral yang hendak disampaikan pengarang dalam bait kedua yakni: Dalam kehidupan senantiasa banyak rintangan yang menghadang. Untuk itu, kita harus tetap maju agar tercapai cita-cita yang kita inginkan.

Bait ke-3:
 di puncak gunung mabuk
 mereke berhasil memetik bulan
 mereka menyimpan bulan
 dan bulan menyimpan mereka
Dalam bait ketiga, Sutardji mengungkapkan bahwa keberhasilan tetap memihak orang yang tak mudah putus asa. Mereka berhasil meraih cita-cita yang awalnya dianggap tak mungkin. Keberhasilan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka dan mereka selalu mengenangnya.
Pesan moral yang terdapat dalam bait keempat yakni: Keberhasilan itu milik orang-orang yang tidak mudah putus asa.

Bait ke-4:
 di puncak
 semuanya diam dan tersimpan

Bait terakhir puisi ini mempunyai makna tersendiri. Di puncak semuanya diam dan tersimpan. Sutadji ingin menyampaikan bagaimana seorang yang tidak mudah putus asa, menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan. Itulah bedanya orang yang tak kenal putus asa dalam menggapai cita-cita dengan orang yang menggapai cita-cita dengan cara pintas dan tidak halal.
Pesan moral yang hendak disampaikan Sutardji dalam bait keempat yakni: Seorang pemenang itu adalah seseorang yang tidak mudah putus asa, dan dalam menikmati keberhasilannya itu dengan diam dan tetap rendah hati.

Demikianlah Sutardji ingin menyampaikan suatu pelajaran hidup yang berguna untuk kita sampai sekarang. Jangan pernah putus asa dalam meraih cita-cita, walau sulit dan terasa tidak mungkin.

D.    Simpulan
Dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri terkandung kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan cukup jelas memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam menggapai cita-cita, harus dilandasi dengan keseriusan. Puisi ini memiliki suatu makna yang sangat dalam yakni janganlah mudah putus asa untuk mencapai sebuah impian atau cita-cita meskipun dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah yang menghadang. Hal ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan kegiatan yang dilakukan oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan apa yang dicita-citakan, mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA
Antilan, Purba. 2012. Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Kadaryati, 2012. “Diktat Sejarah Sastra” Modul. Purworejo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Teeuw, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Wartoyo, Agus. 2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Pacar Gadhing Karya Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
Waluyo, Herman J. 2010. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari Press Salatiga.
http://crossfire-net.blogspot.com/2009/05/kumpulan-puisi-sutardji-calzoum-bachri.html (diakses tanggal 2 Juni 2015 pukul 13.00).


No comments:

Post a Comment

TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...