Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi:
TEORI SASTRA
A.
PUISI
1.
Pengertian
Puisi
Puisi berasal dari bahasa Yunani
yang artinya:
Membuat :
“poeima”
Pembuatan : “poesis”
Orang yang membuat disebut : “poet”
Puisi
adalah bentuk karya sastra yang diciptakan oleh penyair menggunakan bahasa tertentu
untuk mengungkapkan suatu perasaan tertentu. Puisi merupakan bentuk karya sastra yang paling tua.
Selain itu pendapat lain mengatakan bahwa puisi adalah :
Menurut Kamus
Istilah Sastra (Zaidan: 2007), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh
irama, mantra, rima, dan tata puitika yang lain
Menurut H.B. Jassin puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung suatu pikiran-pikiran dan sebuah tanggapan-tanggapan..
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya
sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan
disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian
struktur fisik dan struktur batinnya.
2.
Jenis-jenis Puisi
a.
Puisi Lama
yaitu puisi
yang terikat oleh aturan (lama), antara lain:
(1) jumlah suku kata dalam satu
baris,
(2) jumlah baris dalam satu bait,
(3) persajakan (rima), maupun
(4) irama.
Ciri-ciri puisi lama:
(1) merupakan puisi rakyat, yang
tak dikenal nama pengarangnya (anonim).
(2) menyebar dari mulut ke mulut,
sehingga dikatakan sastra lisan.
(3) terikat oleh aturan-aturan
(jumlah kata, baris, rima, dan irama).
Contoh puisi lama :
1)
Mantra
Yaitu ucapan-ucapan tertentu yang memiliki kekuatan ghaib.
Contoh : Assalamualaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
2)
Pantun
Yaitu puisi yang bersajak a-b-a-b, terdiri dari:
(1) tiap bait terdiri dari empat
baris
(2) tiap baris terdiri dari 8-12
suku kata
(3) baris pertama dan kedua
disebut sampiran
(4) baris ketiga dan keempat dinamakan isi
Contoh : Kalau ada jarum patah
jangan
dimasukkan ke dalam peti
Kalau
ada kataku yang salah
jangan
dimasukkan ke dalam hati
Pisau tak akan tajam selalu
karena itu harus diasah
Tuhan tak akan meninggalkanmu
di saat Engkau kena masalah
3)
Karmina
Yaitu pantun yang berisi dua baris,
(1) baris pertama merupakan
sampiran dan baris kedua disebut isi
(2) bersajak a-a
(3) biasanya digunakan untuk
menyampaikan sindiran
Contoh: Dahulu
perang, sekarang besi
Dahulu sayang, sekarang benci
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula
4)
Seloka
Yaitu pantun lama yang berkait, yang tidak cukup dengan satu
bait karena pantun ini berkait.
(1) Baris ke 2 dan ke 4, pada
bait 1
Dipakai sebagai
baris 1 dan ke 3, pada bait ke 2
(2) Baris ke 2 dan ke 4, pada
bait ke 2
Dipakai sebagai baris 1 dan ke 3, pada bait ke 3, . . . dst.
Contoh
: Lurus
jalan ke payukambah
Kayu
jati bertimbal jalan BAIT
Dimana hati takkan rusuh (PERTAMA)
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
BAIT
Ibu mati bapak berjalan (KEDUA)
Kemana untung diserahkan
5)
Gurindam
Yaitu puisi yang berdirikan tiap bait dua baris, dan berisi
nasihat atau kata-kata mutiara.
Ciri-ciri
gurindam:
(1) terdiri dari dua baris tiap
bait.
(2) jumlah kata tidak ditentukan,
tapi biasanya 10-14 suku kata.
(3) terdapat hubungan
sebab-akibat antara baris pertama dan kedua.
Contoh : Kurang
pikir kurang siasat
Tentu
dirimu akan tersesat
Barang
siapa tinggal-kan sembahyang
Bagai
rumah tiada bertiang
Jika
suami tiada berhati lurus
Istripun
kelak menjadi kurus
6)
Syair
Yaitu puisi dalam bentuk terikat yang mementingkan irama dan
sajak,
Ciri-ciri
gurindam:
(1) terdiri dari empat baris
(2) bersajak a-a-a-a
(3) bersumber dari arab
Contoh: Pada
zaman dahulu kala
Tersebutlah
sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman sentosa
Dipimpin
Raja nan bijaksana
7)
Talibun
Yaitu pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6,8,10 baris.
Contoh
: Kalau
anak pergi ke pecan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu
b.
Puisi Baru
Yaitu Puisi
yang tidak terikat oleh (aturan) lama, seperti jumlah kata dalam satu baris,
jumlah baris dalam satu bait, rima dan irama.
Ciri-ciri puisi
baru :
(1) Bentuknya rapi, simetris
(2) Mempunyai persajakan akhir
yang teratur
(3) Menggunakan pola sajak dan
syair
(4) Sebagian besar puisi empat
seuntai
(5) Tiap-tiap barisnya atas
sebuah gatra
(6) Tiap gatranya terdiri dari
dari suku kata (4-5 suku kata)
(7) Gatra (kesatuan sintaksis)
Jenis-jenis dan contoh puisi
baru, yaitu :
a)
Menurut
isinya, puisi baru dibedakan atas :
1)
Balada
Adalah puisi yang berisi kisah atau cerita
Contoh
: Puisi “Perempuan-perempuan perkasa” Karya Hartoyo Andangjaya.
2)
Himne
Adalah puisi pujian untuk Tuhan, Tanah Air atau Pahlawan, biasanya mengandung tema keagamaan dan moral.
Contoh
: Puisi “Pangeran Diponegoro” karya Chairil Anwar
3)
Ode
Adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
Contoh
: Puisi “Perempuan-perempuan perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.
(bedanya ode dengan himne yaitu jika ode tidak harus pahlawan)
4)
Epigram
Adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
Contoh
: Puisi-puisi karya Taufik Ismail, contohnya puisi "Sajadah Panjang".
5)
Romance
Adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
Contoh
: Puisi “Senja di pelabuhan kecil”
karya Chairil Anwar.
Puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.
Puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.
6)
Elegi
Adalah puisi yang berisi ratap / tangis kesedihan
Contoh : Puisi-puisi
karya W.S. Rendra
7)
Satire
Adalah : puisi yang berisi sindiran / kritik.
b) Menurut bentuknya puisi dibagi menjadi, antara lain:
1) Distikon (sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama,
rima a-a atau b-b)
2) Terzina (sanjak 3 seuntai)
3) Quatrain (sanjak 4 seuntai)
4) Quint (sanjak 5 suntai)
5) Sextet (sanjak 6 seuntai)
6) Septima (sanjak 7 seuntai)
7) Stanza/octav (sanjak 8
seuntai)
8) Soneta (sanjak 14 seuntai)
B. PROSA
Prosa adalah bentuk karya sastra yang berbentuk karangan bebas yang
tidak terikat aturan (lama) yang mengisahkan tentang suatu sejarah atau
peristiwa.
1.
Prosa
Lama
Sifat
Prosa Lama yaitu:
(a) kurang
dinamis
(b) anonim
(tidak ada nama pengarangnya)
(c) kebanyakan
isinya kurang masuk akal
Prosa lama terbagi menjadi empat hal, yaitu :
(a) Cerita
pelipur lara (misal: dongeng,fabel)
(b) Hikayat
(misal: hikayat Hang Tuah, Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Cerita Iskandar
Zulkarnain, Cerita Amir Hamzah)
(c) Kitab-kitab
yang berisi sejarah (silsilah)
(d) Cerita-cerita
yang berhubungan dengan agama Islam
2.
Prosa
Baru
Sifat
Prosa Baru yaitu :
(a) sangat
dinamis
(b) ada
nama pengarangnya
(c) isinya
masuk akal
Prosa baru terbagi menjadi tiga yaitu :
(a) Roman
( tahun 1917 )
(b) Cerpen
( tahun 1920 )
(c) Novel ( tahun
1945 )
Perbedaan Puisi Dan
Prosa
PUISI
|
PROSA
|
Merupakan aktivitas jiwa, menangkap
kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan dan dipusatkan.
|
Merupakan
aktivitas menyebarkan ide/gagasan dalam bentuk uraian.
|
Merupakan pencurahan jiwa yang bersifat
singkat, emosional, dan ekspresif.
|
Merupakan pengungkapan
gagasan yang bersifat naratif.
|
Seringkali isi dan kalimat-kalimatnya
bermakna konotasi (makna kias/tidak sebenarnya).
|
Pada umumnya
bermakna denotasi (makna sebenarnya), walaupun ada beberapa karya sastra yang
isinya konotasi.
|
3.
Unsur
Intrinsik Prosa
a.
Tokoh
(Penokohan)
Tokoh adalah individu rekaan yang
mengalami peristiwa didalam cerita. Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan
penciptaan citra tokoh di dalam cerita.
Dibagi menjadi 3 dimensi, yaitu :
(1) Dimensi
Fisiologis (bentuk muka, jenis kelamin, bentuk fisik)
(2) Dimensi
Psikologis (moral, akhlak)
(3) Dimensi
Sosiologis (status sosial, jabatan, pendidikan)
Pembagian Tokoh :
1)
Berdasarkan keterlibatan dalam cerita
(a) Tokoh
utama (Sentra)
Tokoh utama adalah tokoh yang perannya diutamakan dalam karya sastra yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
Tokoh utama adalah tokoh yang perannya diutamakan dalam karya sastra yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
(b) Tokoh
Tambahan (Perifera)
Pemunculan tokoh-tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung atau tidak langsung.
Pemunculan tokoh-tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung atau tidak langsung.
2)
Berdasarkan watak
(a) Protagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
(b) Antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
Tokoh protagonis adalah tokoh pembawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis yang justru membawa kejahatan atau malapetaka.
(c) Tritagonis
(d) Figuran
Cara menggambarkan watak tokoh ada dua, yaitu:
1)
Langsung : Segala yang berkaitan dengan tokoh
dijelaskan semua oleh pengarang.
Contoh:
"Pemuda pendiam, hobi menjalankan puasa Daud, tangkas dan cepat dalam mehafal al-Qur’an, pandai berdiskusi, ramah dan banyak senyum, hobi membaca, dipadu dengan wajah yang lumayan dan perawakan yang elok itu tidak lain adalah Mansyur.
Berdasarkan kutipan novel di atas, watak tokoh Mansyur digambarkan secara langsung. Mansyur mempunyai sifat pendiam, rajin berpuasa Daud, ramah, rajin membaca dan lain sebagainya.
Contoh:
"Pemuda pendiam, hobi menjalankan puasa Daud, tangkas dan cepat dalam mehafal al-Qur’an, pandai berdiskusi, ramah dan banyak senyum, hobi membaca, dipadu dengan wajah yang lumayan dan perawakan yang elok itu tidak lain adalah Mansyur.
Berdasarkan kutipan novel di atas, watak tokoh Mansyur digambarkan secara langsung. Mansyur mempunyai sifat pendiam, rajin berpuasa Daud, ramah, rajin membaca dan lain sebagainya.
2)
Tidak Langsung :
Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang melalui narator. Metode tidak langsung dibagi menjadi:
Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang melalui narator. Metode tidak langsung dibagi menjadi:
(a) Melalui
penggambaran fikiran tokoh
(b) Melalui
perbuatan tokoh
(c) Melalui
sikap tokoh
(d) Melalui
penjelasan tokoh lain
Contoh:
"Azzam turun dan mendekati mereka berdua. Ia mendengar suara sesenggukan dari gadis berjilbab coklat muda. “Mmm, maaf Ukhti. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” sapa Azzam sesopan mungkin. Beberapa orang Mesir melihat mereka."
Contoh:
"Azzam turun dan mendekati mereka berdua. Ia mendengar suara sesenggukan dari gadis berjilbab coklat muda. “Mmm, maaf Ukhti. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” sapa Azzam sesopan mungkin. Beberapa orang Mesir melihat mereka."
b.
Alur
(Plot)
Alur adalah unsur dengan wujud
jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu. Latar
diwujudkan oleh hubungan sebab-akibat, tokoh, tema, atau ketiganya. Alur
meliputi :
1)
Pengenalan
2)
Pergesekan TAHAP
I
3)
Pertikaian
4)
Klimaks
5)
Anti klimaks TAHAP
II
6)
Peleraian
7)
Penyelesaian
(solusi)
8)
Konklusi TAHAP III
Kaidah Alur :
1)
Menurut M.H. Abrams:
(a) Plausabilitas
(masuk akal)
(b) Suspense
(menarik / rasa ingin tahu)
(c) Surprise
(penuh kejutan)
(d) Unity
(membangun satu kesatuan yang utuh)
2)
Menurut Kenney:
(a) Plausabilitas
(masuk akal)
(b) Suspense
(menarik / rasa ingin tahu)
(c) Surprise
(penuh kejutan)
(d) Unity
(membangun satu kesatuan yang utuh)
(e) Sub
plot (di dalam alur cerita ada alur cabang)
(f)
Ekspresif (mampu membawa pembaca hanyut dalam
cerita)
Jenis Alur :
1)
Berdasarkan Peristiwa, meliputi :
(a) Alur
maju (progresif)
(b) Alur
mundur regresif)
(c) Alur
campuran
2)
Berdasarkan Kualitas, meliputi :
(a) Alur
rapat (alur tidak boleh bercabang)
(b) Alur
renggang (boleh disisipkan alur lain)
3)
Berdasarkan akhir cerita, meliputi :
(a) Alur
terbuka (akhir cerita tidak jelas / ngambang)
(b) Alur
tertutup (akhir cerita alurnya jelas (happy ending/sad ending)
4)
Berdasarkan kuantitas, meliputi :
(a) Alur
tunggal (alur yang rangkaian peristiwanya mengandung satu peristiwa primer)
(b) Alur
jamak (alur yang rangkaian peristiwanya mengandung beberapa peristiwa primer)
c.
Sudut
Pandang
Sudut pandang dapat diartikan
sebagai posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita.
Macam-macam sudut pandang yaitu :
1)
Sudut pandang orang pertama, meliputi :
(a) Sudut
pandang orang pertama tokoh utama (aku)
yaitu : Penulis
adalah “aku” sebagai tokoh utama cerita (first person central) dan mengisahkan dirinya sendiri, tindakan, dan
kejadian disekitarnya.
(b)
Sudut pandang orang pertama tokoh bukan utama
(sampingan)
yaitu : Penulis adalah “aku ” dalam cerita tapi bukan tokoh
utama. Keberadaan “aku” hanya sebagai saksi/kawan tokoh utama. “Aku” adalah
narator yang menceritakan kisah yang dialami tokoh lain yang menjadi tokoh
utama.
2)
Sudut pandang orang ketiga
(a) Sudut
pandang orang ketiga mahatau
yaitu : segala sesuatu yang “dia” lakukan, aku(pengarang)
mengetahui semuanya (serba tahu)
(b) Sudut
pandang orang ketiga terbatas
yaitu : segala sesuatu yang “dia” lakukan, aku
(pengarang) tidak tahu semuanya, hanya sebagian.
d.
Latar
Latar adalah segala sesuatu yang
mengacu pada keterangan mengenai waktu, ruang, serta suasana peristiwanya.
Latar pada dalam pementasan biasanya dibuat panggung yang dihiasi dengan
dekorasi, seni lukis, tata panggung, seni patung, tata cahaya, dan tata suara.
Latar meliputi:
1)
Waktu
2)
Sosial
3)
Psikologi
4)
Tempat
5)
Suasana
e.
Gaya
bahasa (majas)
Bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan
dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda
lain atau hal lain yang lebih umum.
Majas dapat digolongkan
sebagai berikut.
1) Majas perbandingan
Majas perbandingan terdiri
dari 4 jenis, yaitu:
(a)
Majas Perumpamaan (asosiasi)
Perumpamaan
adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja
dianggap sama.
Contoh:
·
Bak
mencari kutu dalam ijuk. (Melakukan sesuatu yang mustahil)
· Bagai
kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan
sesuatu)
·
Semanis
madu.
·
Sedalam
laut.
·
Secantik
bidadari.
Perumpamaan
secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka,
sepantun, laksana, umpama.
(b)
Metafora
Metafora adalah
perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang
berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan
persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.
Contoh:
·
Kapan
Anda bertemu dengan lintah darat itu? (rentenir)
· Sang raja siang mulai menampakkan dirinya. (matahari)
(c)
Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang
menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau
bergerak.
Contoh:
·
Peluru
mengoyak-ngoyak dada musuh.
·
Banjir
besar telah menelan seluruh harta penduduk.
·
Matahari
mulai merangkak ke atas.
·
Kabut
tebal menyelimuti desa kami.
(d)
Alegori
Alegori pada
umumnya mengandung sifat-sifat moral manusia.
Contoh:
· Mendayung
bahtera rumah tangga. (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah
tangga)
· Dalam
sutu keluarga suami adalah sebagai nahkoda, dan istri sebagai juru mudi.
2)
Majas Pertentangan
Majas pertentangan terbagi
menjadi:
(a)
Hiperbola
Hiperbola
adalah majas yang menyatakan sesuatu
dengan berlebih-lebihan.
Contoh:
·
Keringatnya
menganak sungai.
·
Suaranya
menggelegar membelah angkasa.
(b)
Litotes
Litotes
adalah majas yang menyatakan
kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau
memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga
hiperbola negatif.
Contoh:
·
Tapi,
maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi
tenggorokan saja yang ada.
·
Tentu
saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya
terima dengan senang hati.
(c)
Ironi
Ironi
adalah majas yang menyatakan makna
yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut
juga majas sindiran.
Contoh:
·
Bagus
benar ucapanmu
itu, sehingga menyakitkan hati.
·
Kau
memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.
(d)
Antonomasia
Antonomasia
adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.
Contoh:
·
Sssssttt,
lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya.
·
Macam-macam!
Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.
·
Kemarin
saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo. Benar
tidak?
(e)
Oksimoron
Oksimoron
adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang
mengandung hal-hal yang bertentangan.
Contoh:
· Memang
benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari kesepakatan. Namun
tidak jarang menjadi wadah pertentangan para pesertanya.
·
Siaran
radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi
dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat
atau bangsa.
·
Olahraga
mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.
(f)
Paradoks
Paradoks adalah
pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi
mengandung kebenaran.
Contoh:
· Memang
hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak
berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
· Walaupun
ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di mana-mana, ia
bercerita padaku katanya kesepian.
3)
Majas Pertautan
Majas pertautan dibedakan
menjadi:
(a)
Metonimia
Metonimia
adalah majas yang memakai nama ciri
atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai
penggantinya.
Contoh:
·
Ayah
suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
· Andi berangkat kuliah mengendarai Kijang. (Maksudnya mobil merek Kijang).
(b)
Sinekdok
Sinekdok
adalah majas yang menyebutkan nama
bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Contoh:
·
Sudah
seminggu ini Iwan tidak tampak batang hidungnya. (Padahal yang dimaksud
bukan hanya batang hidung)
·
Indonesia
berhasil
memboyong kembali piala Thomas. (Padahal yang berhasil hanya satu regu bulu
tangkis)
Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan.
Contoh:
·
Jauh-jauh
telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
· Selama
ini kemana saja kau? Sudah lama tak nampak batang hidungmu. Nenek selalu
menanyakan kau.
· Ia
harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang
harus disuapi.
· Kita
akan mengadakan selamatan sebagai rasa syukur karena kita naik kelas semua.
Untuk itu biaya kita tanggung bersama tiap kepala dikenakan iuran
sebesar Rp 1.500,00
Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan
untuk maksud sebagian saja. Contoh:
· Dalam
musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam tahun ini, sekolah
kita harus tampil sebagai juara satu.
· Dalam
pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.
(c)
Alusio
Alusio
adalah majas yang menunjuk secara
tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang
sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi.
Majas ini disebut juga majas kilatan.
Contoh:
·
Menggantang
asap saja kerjamu
sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
·
Ah,
kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)
(d)
Eufemisme
Eufemisme
adalah majas kiasan halus sebagai
pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme
digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau
menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.
Contoh:
·
Orang
itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)
·
Kalau
dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
·
Pemerintah
telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan)
f.
Tema
Tema adalah : gagasan, ide, atau
pikiran utama yang digunakan sebagai dasar dalam menuliskan cerita.
Menuru Shipley, tema meliputi :
1)
Tema fisik
yaitu : tema yang ditonjolkan
aktifitas fisiknya (sedikit-sedikit bertikai).
2)
Tema organik
yaitu : tema yang berkaitan dengan moral manusia.
3)
Tema sosial
yaitu : tema yang berkaitan dengan
kehidupan sosial, ekonomi, politik.
4)
Tema egoik
yaitu : tema yang berhubungan
dengan reaksi-reaksi individu yang terjadi disekitarnya.
5)
Tema ketuhanan
yaitu : tema yang berhubungan dengan religius /
ketuhanan.
4.
Unsur
Ekstrinsik Prosa
Unsur ekstrinsik
prosa adalah faktor luar yang mempengaruhi pengarang pada saat penciptaan
cerita, seperti kondisi sosial, ekonomi, ideologi, politik, agama, budaya, dan
lain-lain. Pengarang melepaskan diri dari faktor-faktor itu. Bahkan tidak
sedikit yang lahir atas inspirasi pengarang dari unsur ekstrinsik itu.
Unsur ekstrinsik prosa fiksi meliputi :
a)
Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik,
ekonomi)
Nilai yang terkandung adalah salah satu
unsur penting dalam sebuah karya sastra. Nilai-nilai tersbut yang akan diambil
oleh pembaca dalam rangkuman isi dari karya penulis.
(1) Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang sangat
berkaitan dengan ajaran yang berasal dari ajaran agama.
(2)
Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai-nilai dalam cerita yang
sangat berkaitan dengan akhlak atau etika. Nilai moral dalam sebuah cerita bisa
jadi nilai moral yang baik, bisa juga nilai moral yang buruk atau jelek.
(3) Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan niali-nilai yang berkenaan dengan
kebiasaan atau tradisi atau adat istiadat yang berlaku pada suatu daerah.
b)
Latar belakang kehidupan pengarang
Latar belakang pengarang bisa mengikuti pemahaman kita
terhadap sejarah hidup dan juga sejarah hasil karangan-karang sebelumnya. Latar
belakang pengarang dapat terdiri dari tiga bagian
(1) Biografi
Biogarafi ini berisi tentang riwayat hidup pengarang yang ditulis
secara keseluruhan
(2) Kondisi Psikologis
Kondisi Psikologis ini berisi tentang pemahaman mengenai
kondisi muda serta keadaan yang mengharuskan seorang pengarang menulis cerpen.
(3) Aliran Sastra
Seorang penulis pasti akan mengikuti aliran sastra
tertentu. Ini sangat berpengaruh dalam gaya penulissan yang dipakai penulis
dalam menciptakan sebuah karya.
C.
DRAMA
1.
Pengertian
Drama
Drama adalah cuplikan penggalan hidup manusia yang dipentaskan di atas
panggung (cerminan kehidupan manusia)
Gunanya yaitu untuk menasehati / bahan refleksi / memperbaiki diri.
2.
Perbedaan
Drama dan karya sastra lain (Puisi, Novel, Cerpen)
a.
Drama : dipentaskan diatas panggung
Novel : dibaca
b.
Drama : ditonton bersama-sama
Novel : dibaca
perorang / mandiri
c.
Drama : alurnya dapat divisualisasikan (dilihat
dengan mata)
Novel : alurnya
ditulis / dibaca
d.
Drama : settingnya dapat dilihat dari tata
panggung
Novel : settingnya
dapat dilihat dari penulis / imajinasi penulis
e.
Drama : drama berbentuk dialog
Novel : berbentuk
cerita / uraian
3.
Unsur
– Unsur Drama
a.
Tema : pokok pikiran dari cerita
b.
Amanat : pesan yang ingin disampaikan pengarang
/ penulis
c.
Tokoh / perwatakan
d.
Setting / latar
e.
Alur
f.
Dialog : percakapan dari tokoh / pemain, ada 3
yaitu :
1)
Monolog :
pembicaraan seseorang yang membahas sesuatu yang sudah berlalu.
Contoh : 20 tahun sudah aku hidup di dunia ini, sedih, senang aku jalani.
2) Soliloque
: pembicaraan seseorang yang mengungkapkan suatu keinginan masa depan.
Contoh : Tahun depan aku sudah menginjak semester dua. Aku akan belajar
lebih giat agar IP ku bagus. Aku ingin membahagiakan kedua orang tua.
3)
Aside :
percakapan seorang tokoh, namun diungkapkan ke penonton.
percakapan tokoh tertentu yang berasal
dari luar panggung.
·
Adegan adalah bagian dari Babak
·
Adegan : ditandai
padamnya lampu sementara
·
Babak :
ditandai sudah ada pergantian setting / tata panggung.
4.
Karakteristik
Drama, Sandiwara Radio, Sinetron, dan Film
a.
Sandiwara Radio
1)
Tidak visual (tidak dapat dilihat dengan mata,
melainkan hanya bisa didengar melalui efek suara )
2)
Penggambaran watak, setting, tema, dll,
ditumpukan / didasarkan pada efek suara
Misalnya : Tokoh antagonis : bisa kita
ketahui lewat suara tokoh yang keras
Tokoh protagonis : bisa kita ketahui lewat suara tokoh
yang lembut
b.
Sinetron (Sinema Elektronik)
1)
Yang pertama kali menamakan adalah : Sumardjono
2)
Istilah lain adalah : Telenovela, dan Soap Opera
(Inggris)
3)
Ditayangkan di Televisi
4)
Terdiri dari beberapa episode
5)
Mayoritas untuk tujuan komersial (sponsor)
c.
Film
Terbangun atas dua unsur
1)
Naratif : naskah
2)
Sinematik : unsur yang digunakan untuk membuat
film (alat-alat pembuatan film)
3)
Bahasa film : perpaduan antara suara dan gambar
/ efek.
5.
Perbedaan
Drama, Sandiwara, Film, dan Sinetron
a.
Drama :
merupakan pementasan langsung, sehingga
hubungan antara pemain dan penonton
sangat intens (kuat), selain itu pementasannya pun harus perfect. Dari awal hingga
akhir karena tidak ada pengulangan.
Film
: merupakan pementasan tidak langsung, sehingga hubungan antara
pemain dan penonton tidaklah kuat, selain itu pementasannya pun tidak harus
perfect karena bisa / ada proses pengulangan.
b.
Drama : didalam drama intonasi, tata rias atau
busana, ekspresi harus ditampilkan secara kuat agar bisa dilihat / didengar
oleh penonton.
Film : didalam film intonasi, tata rias atau
busana, ekspresi tidak harus ditampilkan secara kuat, karena bisa direkayasa /
melalui proses editing agar film tersebut bisa terlihat sempurna.
c.
Drama : dibatasi dengan panggung, sehingga
pemain harus pandai menyesuaikan tata panggung yang ada.
Film : sedangkan film / sinetron panggung bisa
berubah – ubah / berpindah – pindah tempat.
6.
Jenis-jenis
Drama
a.
Drama Tragedi
Menurut Aristoteles Drama Tragedi adalah drama yang dapat
menimbulkan keharuan, kesedihan kebelas kasihan, kengerian,yang mampu
menimbulkan efek penyucian jiwa (katarsis)
bagi penontonya.
b. Drama
Komedi
Drama yang dapat membuat orang /
penonton bahagia.
Drama
berasal dari kata “comoida” (membuat gembira)
Dan diakhiri
dengan kata “comos” (keluar dari cerita dan dilanjutkan dengan pesta yang penuh
kegembiraan).
c. Melo
Drama
Drama yang mengupas suka duka kehidupan
dengan cara menimbulkan rasa haru
pada
penontonnya, namun tidak sampai
menimbulkan efek penyucian jiwa (katarsis).
Cirinya :
1) Pertentangan antara dua kubu (baik dan jahat)
2) Pihak yang baik atau yang buruk masing-masing
akan mendapat ganjaran/balasan
3)
Memperlihatkan penderitaan tokoh protagonis dan
sebaliknya
4)
Mengangkat kehidupan rumah tangga, novel
popular, dll
d. Drama
Tragedi-komedi
Yaitu dua hal yang berlainan yang
dipadukan dalam tragedi manusia yang dihadapkan pada situasi alam dan nasib.
Dalam komedi manusia dihadapkan pada sisi kebahagiaan dalam menentang nasib.
e. Drama
Parodi
Yaitu drama yang dapat menimbulkan efek
jenaka.
Bedanya dengan
komedi, parodi : mengandung unsur yang bertujuan satiris. Mengandung lagu-lagu
yang dinyayikan sebagai tiruan lagu-lagu lain tetapi dengan memlesetkan
syairnya.
KUNJUNGI JUGA:
KUNJUNGI JUGA:
Bagus tulisannya
ReplyDeletecukup lengkap isinya
terima kasih ya
Semoga bermanfaat
ReplyDelete