Tuesday, April 14, 2020

ANALISIS NILAI MORAL DALAM PUISI PARA PEMINUM KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI


NILAI MORAL DALAM PUISI PARA PEMINUM
KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Oleh:
Nur Anif, S.Pd. (Guru SMK Negeri Nusawungu)



ABSTRAK
Penelitian sajak Para Peminum karya Sutardji Calzoum Baachri ini bertujuan untuk menganalisis nilai moral yang terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan pendekatan moral. Pendekatan moral adalah pendekatan dalam meneliti karya sastra dengan memfokuskan pada nilai moral (manfaat atau kegunaan) yang terdapat dalam karya sastra. Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan bisa dijadikan bahan kesadaran diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam sajak Para Peminum terkandung kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam mencapai cita-cita, janganlah mudah putus asa, meskipun dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah yang menghadang. Hal ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan kegiatan yang dilakukan oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan apa yang dicita-citakan, mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.

A.    Pendahuluan
Sejak awal pertumbuhannya, kehidupan sastra Indonesia Modern tidak terlepas dari situasi masyarakat pada suatu masa. Munculnya corak dan bentuk baru dalam sastra Indonesia banyak berkaitan dengan perubahan, perkembangan dan gejolak yang ada dalam masyarakat. Secara nyata sastra kontemporer Indonesia mulai dipopulerkan tahun 1970-an. Gerakan puisi kontemporer yang melanda dunia gaungnya terdengar di Indonesia dan memberi corak terhadap kehidupan puisi Indonesia.
Puisi Indonesia kontemporer di dalam dunia perpuisian Indonesia dikejutkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan inprovisasinya yang menjadi bagian penting dari proses penciptaan puisi-puisinya. Berbeda dengan penyair-penyair sebelumnya, Sutardji menggebrak dengan puisi-puisinya yang berbentuk baru. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri benar-benar member wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia (Purba: 2012: 15)
Subagiyo Sastrowardojo menyatakan bahwa Sutardji merintis genre baru dalam sastra Indonesia. Puisi-puisi Sutardji menunjukkan orisinalitas, sedangkan Dami N. Toda menyatakan bahwa Sutardji mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam sejarah puisi Indonesia dengan Chairil Anwar. Jika Cahiril diumpamakan sebagai mata kanan, maka Sutardji adalah mata kiri (dalam catatan mengenai puisi Tardji di O, Amuk, dan Kapak) (Waluyo, 2010: 333).
Pada tahun 1979 Sutardji mendapatkan hadiah puisi dari Dewan Kesenian Jakarta 1976-1977 untuk kumpulan puisinya Amuk (1977), sedangkan tahun 1979 memperoleh Hadiah Sastra Asean. Kumpulan puisinya antara lain: O (1973), Amuk (1977), dan Kapak (1979). Karya puisi Sutardji telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan dikumpulkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia). Karyanya juga dimuat dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (1975) dan Ikwil nog Duizend jaar leven, negen modern Indonesische dichters (1979). Tahun 1979 Sutardji berangkat ke Bangkok untuk menerima hadiah South East Asia Write Award (SEA Award) atas prestasinya dalam sastra. Kumpulan puisinya O, Amuk, dan Kapak pada tahun 1981 diterbitkan di dalam satu buku yang berjudul O Amuk Kapak (Waluyo, 2010: 333). Salah satu puisi Sutardji yang di muat dalam O Amuk Kapak yaitu Para Peminum.
Untuk memahami sajak Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, peneliti menggunakan pendekatan moral. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran. Hal itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2010: 321). Menurut Kenney, moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Moral merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, yakni: sikap, tingkah laku dan sopan santun pergaulan (dalam Nurgiyantoro, 2010: 321).
Horatius berkiblat bahwa fungsi sastra hendaknya memuat dulce (indah) dan utile (berguna). Karya sastra hendaknya membuat pembaca merasa nikmat dan sekaligus ada sesuatu yang bisa dipetik (dalam Endraswara, 2006: 116). Jadi, dalam karya sastra khususnya puisi aspek moralis (manfaat atau hikmat) biasanya lebih didahulukan oleh pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra tersebut (Teew, 2015: 142).
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri dan menyumbangkan pemikiran bagi perkembangan kritik sastra modern khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan unsur-unsur pembentuk puisi untuk memperoleh makna yang dalam pada sebuah sajak. Tujuan praktis adalah menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia sastra Indonesia yang selama ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Nilai adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Depdiknas, 2008: 783). Nilai disamping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian nilai tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila (KBBI, 1996). Dalam karya sastra khususnya puisi, senantiasa ditawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat luhur kemanusiaan tersebut pada hakikatnya bersifat universal. Artinya, sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh manusia sejagat (Nurgiyantoro, 2010: 322).
Dalam karya sastra, moral atau hikmah yang diperoleh pembaca lewat sastra, selalu dalam pengertian yang baik. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ajaran moral dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehiduan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan ke dalam persoalan, yaitu: hubngan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Jenis hubungan-hubungan tersebut masing-masing dapat dirinci ke dalam detail-detail wujud yang lebih khusus (Nurgiyantoro, 2010: 323).
Begitu juga dengan puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan moral. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai moral yang bermanfaat bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa nilai luhur dalam setiap baitnya dan dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.

B.     Metode Penelitian
Objek penelitian ini adalah puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian (puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1) menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan moral.

C.    Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai moral dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai kehidupan/moral yang bisa di sampaikan kepada pembaca.  Puisi Para Peminum mengisahkan Para Peminum yang digambarkan sebagai orang yang sedang berusaha keras menggapai cita-citanya. Dalam menggapai cita-cita serigkali mereka menghadapi berbagai rintangan yang menghadang. Namun, mereka tetap maju, jatung bangun, agar bisa mencapai cita-cita tersebut. Dalam puisi tersebut, pengarang hendak mengungkapkan nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan perbaikan hidup bagi pembaca.

PARA PEMINUM
Karya: Sutardji Calzoum Bahri

di lereng lereng
 para peminum
 mendaki gunung mabuk
 kadang mereka terpeleset
 jatuh
 dan mendaki lagi
 memetik bulan
 di puncak

 mereka oleng
 tapi mereka bilang
 --kami takkan karam
 dalam lautan bulan--
 mereka nyanyi nyai
 jatuh
 dan mendaki lagi

 di puncak gunung mabuk
 mereke berhasil memetik bulan
 mereka menyimpan bulan
 dan bulan menyimpan mereka

 di puncak
 semuanya diam dan tersimpan


 Bait ke 1:
di lereng lereng
 para peminum
 mendaki gunung mabuk
 kadang mereka terpeleset
 jatuh
 dan mendaki lagi
 memetik bulan
 di puncak

Sutardji menggambarkan bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan sesuatu, walau sesuatu itu tak mungkin digapai. Dalam penggalan puisi “Di lereng-lereng”, digambarkan situasi hidup yang sulit dan penuh tantangan. Namun, para peminum yaitu orang-orang yang berusaha menggapai cita-cita, tetap berusaha mendaki. Dalam penggalan puisi “Gunung mabuk dan memetik bulan”, dilambangkan suatu cita-cita yang tak mungkin diraih, hanya merupakan khayalan belaka. Namun, para peminum tak putus asa, walau terjatuh mereka bangun lagi dan terus berusaha menggapai cita-cita tersebut.
Dalam bait pertama, Sutardji hendak  menyampaikan pesan moral: Supaya manusia jangan mudah putus asa dalam menggapai cita-cita.

Bait ke-2:
mereka oleng
 tapi mereka bilang
 --kami takkan karam
 dalam lautan bulan--
 mereka nyanyi nyai
 jatuh
 dan mendaki lagi

      Dalam bait kedua, Sutardji mengungkapkan berbagai tantangan dan kesenangan hidup melanda dan menggoda dalam hidup manusia. Namun, mereka  tetap berusaha. Dalam penggalan puisi “lautan bulan”, dilambangkan berbagai kesenangan hidup yang berusaha mengalihkan perhatian para peminum dari cita-citanya. Namun, para peminum tak mau beralih dari cita-citanya. Mereka tak mau karam dalam laut bulan tersebut.  Mereka terus berusaha menggapai cita-cita walau kegagalan menimpa mereka. Dalam situasi gagal dan sulit mereka berusaha nyanyi-nyanyi, sejenak menghibur diri sambil terus maju.
Pesan moral yang hendak disampaikan pengarang dalam bait kedua yakni: Dalam kehidupan senantiasa banyak rintangan yang menghadang. Untuk itu, kita harus tetap maju agar tercapai cita-cita yang kita inginkan.

Bait ke-3:
 di puncak gunung mabuk
 mereke berhasil memetik bulan
 mereka menyimpan bulan
 dan bulan menyimpan mereka
Dalam bait ketiga, Sutardji mengungkapkan bahwa keberhasilan tetap memihak orang yang tak mudah putus asa. Mereka berhasil meraih cita-cita yang awalnya dianggap tak mungkin. Keberhasilan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka dan mereka selalu mengenangnya.
Pesan moral yang terdapat dalam bait keempat yakni: Keberhasilan itu milik orang-orang yang tidak mudah putus asa.

Bait ke-4:
 di puncak
 semuanya diam dan tersimpan

Bait terakhir puisi ini mempunyai makna tersendiri. Di puncak semuanya diam dan tersimpan. Sutadji ingin menyampaikan bagaimana seorang yang tidak mudah putus asa, menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan. Itulah bedanya orang yang tak kenal putus asa dalam menggapai cita-cita dengan orang yang menggapai cita-cita dengan cara pintas dan tidak halal.
Pesan moral yang hendak disampaikan Sutardji dalam bait keempat yakni: Seorang pemenang itu adalah seseorang yang tidak mudah putus asa, dan dalam menikmati keberhasilannya itu dengan diam dan tetap rendah hati.

Demikianlah Sutardji ingin menyampaikan suatu pelajaran hidup yang berguna untuk kita sampai sekarang. Jangan pernah putus asa dalam meraih cita-cita, walau sulit dan terasa tidak mungkin.

D.    Simpulan
Dalam puisi Para Peminum karya Sutardji Calzoum Bachri terkandung kekuatan pesan moral yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan cukup jelas memberikan pesan moral kepada pembaca bahwa dalam menggapai cita-cita, harus dilandasi dengan keseriusan. Puisi ini memiliki suatu makna yang sangat dalam yakni janganlah mudah putus asa untuk mencapai sebuah impian atau cita-cita meskipun dalam aplikasinya kita sering menjumpai beberapa masalah yang menghadang. Hal ini yang kemudian dianalogikan oleh Sutardji dengan kegiatan yang dilakukan oleh para peminum minuman keras. Setelah mendapatkan apa yang dicita-citakan, mereka menikmati keberhasilannya dengan diam dan tetap rendah hati. Mereka tidak bersorak ataupun berfoya-foya, namun mereka menyimpan semuanya sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA
Antilan, Purba. 2012. Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Kadaryati, 2012. “Diktat Sejarah Sastra” Modul. Purworejo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Teeuw, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Wartoyo, Agus. 2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Pacar Gadhing Karya Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
Waluyo, Herman J. 2010. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari Press Salatiga.
http://crossfire-net.blogspot.com/2009/05/kumpulan-puisi-sutardji-calzoum-bachri.html (diakses tanggal 2 Juni 2015 pukul 13.00).


ANALISIS NILAI RELIGIUS DALAM PUISI KEPADA TUHAN KUSERU


NILAI RELIGIUS DALAM PUISI KEPADA TUHAN KUSERU
KARYA SUSY AMINAH AZIS

Oleh:
Nur Anif (Guru SMK Negeri Nusawungu)


ABSTRAK
Penelitian sajak Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis ini bertujuan untuk menganalisis nilai religius yang terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan religius. Pendekatan religius adalah pendekatan dalam meneliti karya sastra dengan memfokuskan pada nilai religius yang terdapat dalam karya sastra. Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan bisa dijadikan bahan kesadaran diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam sajak Kepada Tuhan Kuseru mengandung kekuatan pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia ini. Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang telah diperbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.

A.    Pendahuluan
Sastra Indonesia modern mengalami perkembangan pesat sejak kelahirannya. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas dan kualitas karya sastra yang dihasilkan oleh para sastrawan Indonesia dan juga banyaknya kritikus sastra yang selalu menanggapi setiap karya yang tercipta.
Sajak-sajak Susy Aminah Azis bisa dibilang sangat mengejutkan. Sajak-sajaknya sangat berbeda dengan sajak-sajak Toeti Heraty atau Rayani Sriwidodo maupun Siti Nuraini. Sajak-sajak Susy tak dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan yang berat atau image-image yang melambar jauh. Kebanyakan sajak Susy mencerminkan keakuan yang hanya berhenti pada sifat kedirian penyairnya sendiri. Sajak-sajak Susy sangat terasa dekat dengan penyair seperti J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Sajak-sajaknya kebanyakan muncul di Berita Minggu, Mimbar Indonesia, Tifa Siswa, Pembina, National Press, Suluh Minggu, Suara Islam, Pelita dan lain-lain (Rampan, 1984: 50).
Namun demikian, tetap saja pengarang menciptakan suatu karya sastra pastilah mengandung nilai-nilai untuk disampaikan kepada pembaca, baik nilai moral, pendidikan, agama dan nilai lainnya. Begitu pula dengan sajak Susy  yang berjudul Kepada Tuhan Kuseru dalam kumpulan sajak Tetesan Embun yang berisi 28 sajak yang salah satu sajaknya berjudul Kepada Tuhan Kuseru. Sajak-sajak tersebut diciptakan Susy tahun 60-an. Sajak Kepada Tuhan Kuseru yang mengambil tema keislamannya. Susy ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa sebagai umat beragama khususnya agama islam, sudah seharusnya tunduk akan perintah Allah dan hanyalah meminta kepada-Nya.
Untuk memahami sajak Kepada Tuhan Kuseru diteliti dengan analisis pendekatan religi. Pengalaman religi atau agama yang dialami seseorang dalam kehiupannya, bisa menjadi inspirasi seorang pengarang untuk menuliskannya dalam sebuah puisi atau bentuk karya sastra lainnya dengan memperhatikan nilai religius islaminya. Oleh karena itu sastra dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab banyak diantara karya sastra yang merupakan sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan untuk disampaikan kepada pembaca dan salah satunya yaitu sajak Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis.
Nilai adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (KBBI, 1996: 690). Nilai di samping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
Religi berasal dari kata religion yang artinya agama. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dan integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan. Kehadiran unsur religi dan keagamaan dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri. Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Di lain pihak Dojosantoso (dalam Nurhayati, 2012: 58) menyatakan bahwa religius adalah “keterkaitan antara manusia dengan Tuhan sebagai sumber ketentraman kebahagiaan”. Keterkaitan manusia secara sadar terhadap Tuhan merupakan cermin sikap manusia religius.
Religius dengan agama memang erat kaitannya, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan. Namun, sebenarnya religius dan agama menyaran pada makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005:326). Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksud agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan personal. Nilai pendidikan religius dalam karya sastra sebagian menyangkut moral, etika dan kewajiban.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai religius adalah sesuatu yang menjadi ukuran sifat-sifat yang berguna bagi kemanusiaan dan berhubungan dengan kepercayaan serta dengan ajaran-ajarannya.
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis dari segi agama atau religiusnya dan menyumbangkan pemikiran bagi perkembangan kritik sastra modern khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan unsur-unsur pembentuk puisi untuk memperoleh makna yang dalam pada sebuah sajak. Tujuan praktis adalah menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia sastra Indonesia yang selama ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Begitu juga dengan puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan agama atau religi. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai agama yang bermanfaat bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa religius dalam setiap baitnya dan dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.

B.     Metode Penelitian
Objek penelitian ini adalah puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian (puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1) menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan agama atau religi.

C.    Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai ketuhanan yang bisa di sampaikan kepada pembaca. Dalam puisi tersebut, seolah-olah penyair sedang berdialog dengan Tuhan. Kata “Tuhanku” yang diucapkan beberapa kali memperkuat seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan. Dengan menghayati puisi ini dapat mengingatkan kita akan adanya kuasa Tuhan, terkadang manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga sering melupakan Tuhan.
Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua sastra itu sendiri. Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Seorang religius adalah seorang yang mencoba memahami dan menghayati hidup dan kehidupan ini lenih dari sekadar yang lahiriah saja. Nilai religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis terdapat pada kutipan di bawah ini.

KEPADA TUHAN KUSERU
Karya Susy Aminah Azis

Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam kalbu
terdekap di malam gersang
hatiku gelisah selalu
Tuhanku,
dalam dunia kerakusan semena
cemburuku berbagi terasa
antara manusia dan hewani
dan ia yang hakiki

Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
kuseru dalam ruang-ruang
kosongkah alam sekeliling
dunia hanya penuh keedanan bermata juling
dalam perut koreng berbopeng-bopeng

Tuhanku, kini
dalam kalamullah ilahi robbi
tataplah penuh wajah ini
aku menatap-Mu ngeri
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti

Bait ke-1
Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam kalbu
terdekap di malam gersang
hatiku gelisah selalu

Bait pertama puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa pengarang hatinya sedang gelisah, banyak masalah yang sedang dihadapi. Pengarang berdo’a kepada Tuhan semoga masalah yang sedang dihadapi bisa menemukan jalan terang. Karena menurutnya hanya kepada Tuhan lah ia memohon pertolongan. Tuhan maha tahu, maha mengerti apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam bait pertama dapat diambil nilai religius yaitu ketika kita sedang menghadapi persoalan dalam hidup kita, mintalah pertolongan kepada Tuhan. Seperti dalam baris ke 2 dan 3.
pada-Mu kuseru
Engkau, maha tahu
Dari kutipan di atas kata kuseru artinya hanya pada Allah lah kita memohon dan meminta pertolongan. Mengadulah kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk dalam menyelesaikan masalah tersebut. Karena Allah maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah memberi masalah atau cobaan, Allah jugalah yang akan memberi solusi atau jalan keluarnya. Jangan sampai kita meminta pertolongan kepada dukun atau paranormal, karena perbuatan tersebut sangat dilarang agama. Sesungguhnya perbuatan yang demikian sangat dilaknat Allah.
Pada hakikatnya tak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan itu sendiri, tidak lain yaitu Allah Swt. Segala yang ada di dunia ini akan kembali kepada-Nya.

Bait ke-2
Tuhanku,
dalam dunia kerakusan semena
cemburuku berbagi terasa
antara manusia dan hewani
dan ia yang hakiki

Bait kedua puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa banyak fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Kerakusan manusia terjadi dimana-mana. Perampokan, pembunuhan, bencana alam juga sering dijumpai. Namun pada hakikatnya semua yang dilakukan manusia pasti akan mendapat ganjaran dari Allah.
Nilai agama atau religi yang dapat disampaikan kepada pembaca yaitu janganlah kita berbuat semena-mena kepada manusia dan makhluk lainnya, termasuk alam, karena sesungguhnya semua yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah.
Dalam masyarakat sering kita jumpai manusia melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama misalnya; mencuri, merampok, menjual narkoba, korupsi dan lain sebagainya. Selain itu manusia juga seringkali merusak alam, contohnya penebangan kayu secara illegal, pembakaran hutan, perburuan binatang secara liar, membuang sampah semabarangan dan lain sebagainya. Perbuatan itu sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Namun, pada hakikatnya apa yang telah kita perbuat pasti aka nada balasan dari Allah. Jika kita berbuat baik maka Allah akan memberikan kita nikmat dan kenahagiaan, sebaliknya jika kita berbuat dhalim, maka azab Allah amatlah pedih. Maka hendaklah kita selalu berbuat kebaikan kepada manusia dan makhluk Allah lainnya, agar kita bahagia di dunia dan akhirat.

Bait ke-3
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
kuseru dalam ruang-ruang
kosongkah alam sekeliling
dunia hanya penuh keedanan bermata juling
dalam perut koreng berbopeng-bopeng
Dalam bait ketiga, penyair menggambarkan bahwa Allah itu satu, tidak beranak dan diperanakkan. Selain itu Allah maha pengasih lagi maha penyayang bagi hamba-Nya. Pengarang juga mengungkapkan keprihatinannya pada keadaan yang terjadi saat ini yang ada hanya lah kerakusan ketamakan dari manusia-manusia yang tak bertanggung jawab. Dalam kehidupan, tentunya manusia seringkali dihadapkan pada masalah yang kadang kala sulit untuk dicari jalan keluarnya. Manusia seringkali merasa lelah dalam menghadapi hidup dengan segudang permasalahan hidup yang ada, hingga terkadang manusia menghalalkan segala cara untuk bisa keluar dari masalah tersebut.
Untuk itu pada dasarnya setiap permasalahan yang sedang kita hadapi harus berpulang kepada Allah Swt. tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Allah memberikan penyakit, Allah juga telah menyediakan obatnya. Tinggal manusia mau berusaha atau tidak. Semua itu tergantung pada manusia itu sendiri. Jadi, ketika manusia sedang mendapatkan cobaan atau sedang menghadapi masalah, hendaklah meminta pertolongan kepada Allah, karena pada hakikatnya semua yang ada di dunia ini akan kembali kepada sang pencipta yaitu Allah Swt.
Nilai agama atau religi yang dapat diambil dari bait ke tiga yaitu pengarang ingin menyampaikan pesan kepada pembaca untuk menjadikan Allah Swt. menjadi muara terakhir saat kita menghadapi masalah hidup. Sebagaimana terlihat pada baris berikut.
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang

Bait ke-4
Tuhanku, kini
dalam kalamullah ilahi robbi
tataplah penuh wajah ini
aku menatap-Mu ngeri
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam bait ke empat pengarang menggambarkan bahwa ia kini telah menyadari kesalahan yang telah ia buat. Pengarang menyadari bahwa azab Allah itu amatlah pedih. Pengarang telah menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dari Allah. Maka sudah sepantasnya kita juga harus menyerahkan semuanya kepada Allah. Pengarang berharap tidak akan berpaling lagi dari Allah. Ia benar-benar ingin taubat dan kembali ke jalan yang benar. Sebagaimana terdapat dalam bait berikut.
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam bait keempat penyair hendak menyampaikan pesan religius kepada pembaca bahwa sadarlah akan kesalahan yang telah kita perbuat, dan ingatlah sesungguhnya azab Allah amatlah pedih.


D.    Simpulan
Puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung kekuatan pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia ini. Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang telah kita perbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.



DAFTAR PUSTAKA


Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wartoyo, Agus. 2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Pacar Gadhing Karya Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
























TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...