Tuesday, April 14, 2020

ANALISIS NILAI RELIGIUS DALAM PUISI KEPADA TUHAN KUSERU


NILAI RELIGIUS DALAM PUISI KEPADA TUHAN KUSERU
KARYA SUSY AMINAH AZIS

Oleh:
Nur Anif (Guru SMK Negeri Nusawungu)


ABSTRAK
Penelitian sajak Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis ini bertujuan untuk menganalisis nilai religius yang terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan religius. Pendekatan religius adalah pendekatan dalam meneliti karya sastra dengan memfokuskan pada nilai religius yang terdapat dalam karya sastra. Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan bisa dijadikan bahan kesadaran diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam sajak Kepada Tuhan Kuseru mengandung kekuatan pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia ini. Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang telah diperbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.

A.    Pendahuluan
Sastra Indonesia modern mengalami perkembangan pesat sejak kelahirannya. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas dan kualitas karya sastra yang dihasilkan oleh para sastrawan Indonesia dan juga banyaknya kritikus sastra yang selalu menanggapi setiap karya yang tercipta.
Sajak-sajak Susy Aminah Azis bisa dibilang sangat mengejutkan. Sajak-sajaknya sangat berbeda dengan sajak-sajak Toeti Heraty atau Rayani Sriwidodo maupun Siti Nuraini. Sajak-sajak Susy tak dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan yang berat atau image-image yang melambar jauh. Kebanyakan sajak Susy mencerminkan keakuan yang hanya berhenti pada sifat kedirian penyairnya sendiri. Sajak-sajak Susy sangat terasa dekat dengan penyair seperti J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Sajak-sajaknya kebanyakan muncul di Berita Minggu, Mimbar Indonesia, Tifa Siswa, Pembina, National Press, Suluh Minggu, Suara Islam, Pelita dan lain-lain (Rampan, 1984: 50).
Namun demikian, tetap saja pengarang menciptakan suatu karya sastra pastilah mengandung nilai-nilai untuk disampaikan kepada pembaca, baik nilai moral, pendidikan, agama dan nilai lainnya. Begitu pula dengan sajak Susy  yang berjudul Kepada Tuhan Kuseru dalam kumpulan sajak Tetesan Embun yang berisi 28 sajak yang salah satu sajaknya berjudul Kepada Tuhan Kuseru. Sajak-sajak tersebut diciptakan Susy tahun 60-an. Sajak Kepada Tuhan Kuseru yang mengambil tema keislamannya. Susy ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa sebagai umat beragama khususnya agama islam, sudah seharusnya tunduk akan perintah Allah dan hanyalah meminta kepada-Nya.
Untuk memahami sajak Kepada Tuhan Kuseru diteliti dengan analisis pendekatan religi. Pengalaman religi atau agama yang dialami seseorang dalam kehiupannya, bisa menjadi inspirasi seorang pengarang untuk menuliskannya dalam sebuah puisi atau bentuk karya sastra lainnya dengan memperhatikan nilai religius islaminya. Oleh karena itu sastra dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab banyak diantara karya sastra yang merupakan sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan untuk disampaikan kepada pembaca dan salah satunya yaitu sajak Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis.
Nilai adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (KBBI, 1996: 690). Nilai di samping berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai tersebut dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
Religi berasal dari kata religion yang artinya agama. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dan integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan. Kehadiran unsur religi dan keagamaan dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri. Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Di lain pihak Dojosantoso (dalam Nurhayati, 2012: 58) menyatakan bahwa religius adalah “keterkaitan antara manusia dengan Tuhan sebagai sumber ketentraman kebahagiaan”. Keterkaitan manusia secara sadar terhadap Tuhan merupakan cermin sikap manusia religius.
Religius dengan agama memang erat kaitannya, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan. Namun, sebenarnya religius dan agama menyaran pada makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005:326). Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksud agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan personal. Nilai pendidikan religius dalam karya sastra sebagian menyangkut moral, etika dan kewajiban.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai religius adalah sesuatu yang menjadi ukuran sifat-sifat yang berguna bagi kemanusiaan dan berhubungan dengan kepercayaan serta dengan ajaran-ajarannya.
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis dari segi agama atau religiusnya dan menyumbangkan pemikiran bagi perkembangan kritik sastra modern khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan unsur-unsur pembentuk puisi untuk memperoleh makna yang dalam pada sebuah sajak. Tujuan praktis adalah menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia sastra Indonesia yang selama ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Begitu juga dengan puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan agama atau religi. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai agama yang bermanfaat bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa religius dalam setiap baitnya dan dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.

B.     Metode Penelitian
Objek penelitian ini adalah puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian (puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1) menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan agama atau religi.

C.    Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai ketuhanan yang bisa di sampaikan kepada pembaca. Dalam puisi tersebut, seolah-olah penyair sedang berdialog dengan Tuhan. Kata “Tuhanku” yang diucapkan beberapa kali memperkuat seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan. Dengan menghayati puisi ini dapat mengingatkan kita akan adanya kuasa Tuhan, terkadang manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga sering melupakan Tuhan.
Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua sastra itu sendiri. Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Seorang religius adalah seorang yang mencoba memahami dan menghayati hidup dan kehidupan ini lenih dari sekadar yang lahiriah saja. Nilai religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis terdapat pada kutipan di bawah ini.

KEPADA TUHAN KUSERU
Karya Susy Aminah Azis

Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam kalbu
terdekap di malam gersang
hatiku gelisah selalu
Tuhanku,
dalam dunia kerakusan semena
cemburuku berbagi terasa
antara manusia dan hewani
dan ia yang hakiki

Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
kuseru dalam ruang-ruang
kosongkah alam sekeliling
dunia hanya penuh keedanan bermata juling
dalam perut koreng berbopeng-bopeng

Tuhanku, kini
dalam kalamullah ilahi robbi
tataplah penuh wajah ini
aku menatap-Mu ngeri
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti

Bait ke-1
Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam kalbu
terdekap di malam gersang
hatiku gelisah selalu

Bait pertama puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa pengarang hatinya sedang gelisah, banyak masalah yang sedang dihadapi. Pengarang berdo’a kepada Tuhan semoga masalah yang sedang dihadapi bisa menemukan jalan terang. Karena menurutnya hanya kepada Tuhan lah ia memohon pertolongan. Tuhan maha tahu, maha mengerti apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam bait pertama dapat diambil nilai religius yaitu ketika kita sedang menghadapi persoalan dalam hidup kita, mintalah pertolongan kepada Tuhan. Seperti dalam baris ke 2 dan 3.
pada-Mu kuseru
Engkau, maha tahu
Dari kutipan di atas kata kuseru artinya hanya pada Allah lah kita memohon dan meminta pertolongan. Mengadulah kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk dalam menyelesaikan masalah tersebut. Karena Allah maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah memberi masalah atau cobaan, Allah jugalah yang akan memberi solusi atau jalan keluarnya. Jangan sampai kita meminta pertolongan kepada dukun atau paranormal, karena perbuatan tersebut sangat dilarang agama. Sesungguhnya perbuatan yang demikian sangat dilaknat Allah.
Pada hakikatnya tak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan itu sendiri, tidak lain yaitu Allah Swt. Segala yang ada di dunia ini akan kembali kepada-Nya.

Bait ke-2
Tuhanku,
dalam dunia kerakusan semena
cemburuku berbagi terasa
antara manusia dan hewani
dan ia yang hakiki

Bait kedua puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa banyak fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Kerakusan manusia terjadi dimana-mana. Perampokan, pembunuhan, bencana alam juga sering dijumpai. Namun pada hakikatnya semua yang dilakukan manusia pasti akan mendapat ganjaran dari Allah.
Nilai agama atau religi yang dapat disampaikan kepada pembaca yaitu janganlah kita berbuat semena-mena kepada manusia dan makhluk lainnya, termasuk alam, karena sesungguhnya semua yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah.
Dalam masyarakat sering kita jumpai manusia melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama misalnya; mencuri, merampok, menjual narkoba, korupsi dan lain sebagainya. Selain itu manusia juga seringkali merusak alam, contohnya penebangan kayu secara illegal, pembakaran hutan, perburuan binatang secara liar, membuang sampah semabarangan dan lain sebagainya. Perbuatan itu sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Namun, pada hakikatnya apa yang telah kita perbuat pasti aka nada balasan dari Allah. Jika kita berbuat baik maka Allah akan memberikan kita nikmat dan kenahagiaan, sebaliknya jika kita berbuat dhalim, maka azab Allah amatlah pedih. Maka hendaklah kita selalu berbuat kebaikan kepada manusia dan makhluk Allah lainnya, agar kita bahagia di dunia dan akhirat.

Bait ke-3
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
kuseru dalam ruang-ruang
kosongkah alam sekeliling
dunia hanya penuh keedanan bermata juling
dalam perut koreng berbopeng-bopeng
Dalam bait ketiga, penyair menggambarkan bahwa Allah itu satu, tidak beranak dan diperanakkan. Selain itu Allah maha pengasih lagi maha penyayang bagi hamba-Nya. Pengarang juga mengungkapkan keprihatinannya pada keadaan yang terjadi saat ini yang ada hanya lah kerakusan ketamakan dari manusia-manusia yang tak bertanggung jawab. Dalam kehidupan, tentunya manusia seringkali dihadapkan pada masalah yang kadang kala sulit untuk dicari jalan keluarnya. Manusia seringkali merasa lelah dalam menghadapi hidup dengan segudang permasalahan hidup yang ada, hingga terkadang manusia menghalalkan segala cara untuk bisa keluar dari masalah tersebut.
Untuk itu pada dasarnya setiap permasalahan yang sedang kita hadapi harus berpulang kepada Allah Swt. tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Allah memberikan penyakit, Allah juga telah menyediakan obatnya. Tinggal manusia mau berusaha atau tidak. Semua itu tergantung pada manusia itu sendiri. Jadi, ketika manusia sedang mendapatkan cobaan atau sedang menghadapi masalah, hendaklah meminta pertolongan kepada Allah, karena pada hakikatnya semua yang ada di dunia ini akan kembali kepada sang pencipta yaitu Allah Swt.
Nilai agama atau religi yang dapat diambil dari bait ke tiga yaitu pengarang ingin menyampaikan pesan kepada pembaca untuk menjadikan Allah Swt. menjadi muara terakhir saat kita menghadapi masalah hidup. Sebagaimana terlihat pada baris berikut.
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang

Bait ke-4
Tuhanku, kini
dalam kalamullah ilahi robbi
tataplah penuh wajah ini
aku menatap-Mu ngeri
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam bait ke empat pengarang menggambarkan bahwa ia kini telah menyadari kesalahan yang telah ia buat. Pengarang menyadari bahwa azab Allah itu amatlah pedih. Pengarang telah menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dari Allah. Maka sudah sepantasnya kita juga harus menyerahkan semuanya kepada Allah. Pengarang berharap tidak akan berpaling lagi dari Allah. Ia benar-benar ingin taubat dan kembali ke jalan yang benar. Sebagaimana terdapat dalam bait berikut.
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam bait keempat penyair hendak menyampaikan pesan religius kepada pembaca bahwa sadarlah akan kesalahan yang telah kita perbuat, dan ingatlah sesungguhnya azab Allah amatlah pedih.


D.    Simpulan
Puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung kekuatan pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia ini. Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang telah kita perbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.



DAFTAR PUSTAKA


Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wartoyo, Agus. 2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Pacar Gadhing Karya Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
























No comments:

Post a Comment

TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...