NILAI
RELIGIUS DALAM PUISI KEPADA TUHAN KUSERU
KARYA SUSY
AMINAH AZIS
Oleh:
Nur Anif (Guru SMK Negeri Nusawungu)
ABSTRAK
Penelitian sajak Kepada Tuhan
Kuseru karya Susy Aminah Azis ini bertujuan untuk menganalisis nilai religius
yang terkandung dalam puisi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan
pendekatan religius. Pendekatan religius adalah pendekatan dalam meneliti karya
sastra dengan memfokuskan pada nilai religius yang terdapat dalam karya sastra.
Nilai-nilai tersebut nantinya akan berguna dan bisa dijadikan bahan kesadaran
diri bagi pembacanya. Hasil penelitian dalam sajak Kepada Tuhan Kuseru
mengandung kekuatan pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan
secara jelas memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan
Tuhan sebagai muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia
ini. Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain
mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan
yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang
permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang
mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada
Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena
semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan
bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang
telah diperbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.
A.
Pendahuluan
Sastra Indonesia modern mengalami perkembangan pesat sejak
kelahirannya. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas dan kualitas karya sastra
yang dihasilkan oleh para sastrawan Indonesia dan juga banyaknya kritikus sastra
yang selalu menanggapi setiap karya yang tercipta.
Sajak-sajak Susy Aminah Azis bisa dibilang sangat mengejutkan.
Sajak-sajaknya sangat berbeda dengan sajak-sajak Toeti Heraty atau Rayani
Sriwidodo maupun Siti Nuraini. Sajak-sajak Susy tak dinyatakan dalam
ungkapan-ungkapan yang berat atau image-image yang melambar jauh. Kebanyakan
sajak Susy mencerminkan keakuan yang hanya berhenti pada sifat kedirian
penyairnya sendiri. Sajak-sajak Susy sangat terasa dekat dengan penyair seperti
J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Sajak-sajaknya kebanyakan
muncul di Berita Minggu, Mimbar
Indonesia, Tifa Siswa, Pembina, National Press, Suluh Minggu, Suara Islam,
Pelita dan lain-lain (Rampan, 1984: 50).
Namun demikian, tetap saja pengarang menciptakan suatu karya sastra
pastilah mengandung nilai-nilai untuk disampaikan kepada pembaca, baik nilai
moral, pendidikan, agama dan nilai lainnya. Begitu pula dengan sajak Susy yang berjudul Kepada Tuhan Kuseru dalam kumpulan sajak Tetesan Embun yang berisi 28 sajak yang salah satu sajaknya
berjudul Kepada Tuhan Kuseru.
Sajak-sajak tersebut diciptakan Susy tahun 60-an. Sajak Kepada Tuhan Kuseru yang mengambil tema keislamannya. Susy ingin
menyampaikan kepada pembaca bahwa sebagai umat beragama khususnya agama islam,
sudah seharusnya tunduk akan perintah Allah dan hanyalah meminta kepada-Nya.
Untuk memahami sajak Kepada Tuhan
Kuseru diteliti dengan analisis pendekatan religi. Pengalaman religi atau
agama yang dialami seseorang dalam kehiupannya, bisa menjadi inspirasi seorang
pengarang untuk menuliskannya dalam sebuah puisi atau bentuk karya sastra
lainnya dengan memperhatikan nilai religius islaminya. Oleh karena itu sastra
dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab banyak diantara karya
sastra yang merupakan sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan untuk
disampaikan kepada pembaca dan salah satunya yaitu sajak Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis.
Nilai
adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia. Nilai adalaha sifat-sifat (hal-hal) yang
penting atau berguna bagi kemanusiaan (KBBI, 1996: 690). Nilai di samping
berfungsi sebagai landasan perbuatan, juga berfungsi sebagai pengarah dan
pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai tersebut
dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan untuk diwujudkan dalam perbuatan
sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bernilai,
berharga, bermutu, menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan
manusia.
Religi
berasal dari kata religion yang artinya agama. Religi tidak hanya menyangkut
segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri
pribadi manusia secara total dan integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan.
Kehadiran unsur religi dan keagamaan dalam sastra adalah sebuah keberadaan
sastra itu sendiri. Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Di lain
pihak Dojosantoso (dalam Nurhayati, 2012: 58) menyatakan bahwa religius adalah
“keterkaitan antara manusia dengan Tuhan sebagai sumber ketentraman
kebahagiaan”. Keterkaitan manusia secara sadar terhadap Tuhan merupakan cermin
sikap manusia religius.
Religius dengan agama memang erat kaitannya, berdampingan, bahkan dapat
melebur dalam satu kesatuan. Namun, sebenarnya religius dan agama menyaran pada
makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada
Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religi lebih pada hati, nurani, dan
pribadi manusia itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005:326). Nilai-nilai religius
bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan
selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya
sastra dimaksud agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan
batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai
religius dalam sastra bersifat individual dan personal. Nilai pendidikan
religius dalam karya sastra sebagian menyangkut moral, etika dan kewajiban.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai religius
adalah sesuatu yang menjadi ukuran sifat-sifat yang berguna bagi kemanusiaan
dan berhubungan dengan kepercayaan serta dengan ajaran-ajarannya.
Penelitian ini mempunyai tujuan teoretis untuk memahami makna puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah
Azis dari segi agama atau religiusnya dan menyumbangkan pemikiran bagi
perkembangan kritik sastra modern khususnya menunjukkan ketepatan penggunaan
unsur-unsur pembentuk puisi untuk memperoleh makna yang dalam pada sebuah
sajak. Tujuan praktis adalah menyumbangkan pemikiran apresiasi pusi dalam dunia
sastra Indonesia yang selama ini puisi seringkali sukar dipahami masyarakat.
Begitu
juga dengan puisi Kepada Tuhan Kuseru karya
Susy Aminah Azis, puisi tersebut dapat dikaji menggunakan pendekatan agama atau
religi. Sebab, dalam puisi tersebut mengandung nilai-nilai agama yang bermanfaat
bagi pembaca. Puisi tersebut membawa nuansa religius dalam setiap baitnya dan
dikemas dalam karya sastra puisi yang menarik untuk disimak dan dibaca.
B.
Metode
Penelitian
Objek
penelitian ini adalah puisi Kepada Tuhan
Kuseru karya Susy Aminah Azis. Penelitian ini merupakan penelitian
kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan
pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang
dipakai adalah metode kualitatif. Metode kualitatif adalah sebagai prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan
objek penelitian (puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak
atau sebagaimana adanya. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang
bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebgai berikut: (1)
menentukan objek penelitian. Dalam hal ini yang dijadikan sebagai objek adalah
puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy
Aminah Azis, (2) membaca puisi tersebut dengan cermat, (3) puisi pilihan
tersebut dianalisis secara khusus melalui pendekatan agama atau religi.
C.
Pembahasan
Bagian pembahasan ini meneliti nilai-nilai religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah
Azis. Puisi tersebut dipilih karena berisi tentang nilai-nilai ketuhanan yang
bisa di sampaikan kepada pembaca. Dalam puisi tersebut, seolah-olah penyair sedang
berdialog dengan Tuhan. Kata “Tuhanku” yang diucapkan beberapa kali memperkuat
seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan. Dengan menghayati puisi ini
dapat mengingatkan kita akan adanya kuasa Tuhan, terkadang manusia terlalu
sibuk dengan urusan duniawi hingga sering melupakan Tuhan.
Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua sastra
itu sendiri. Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Agama
lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum
yang resmi. Seorang religius adalah seorang yang mencoba memahami dan
menghayati hidup dan kehidupan ini lenih dari sekadar yang lahiriah saja. Nilai
religius dalam puisi Kepada Tuhan Kuseru karya
Susy Aminah Azis terdapat pada kutipan di bawah ini.
KEPADA TUHAN KUSERU
Karya Susy Aminah Azis
Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam
kalbu
terdekap di malam
gersang
hatiku gelisah
selalu
Tuhanku,
dalam dunia
kerakusan semena
cemburuku berbagi
terasa
antara manusia dan
hewani
dan ia yang hakiki
Tuhanku, Esa
tiada anak
diperanakkan
cinta-Mu tiada
terbilang sayang
kuseru dalam
ruang-ruang
kosongkah alam
sekeliling
dunia hanya penuh
keedanan bermata juling
dalam perut koreng
berbopeng-bopeng
Tuhanku, kini
dalam kalamullah
ilahi robbi
tataplah penuh
wajah ini
aku menatap-Mu
ngeri
telah kukenal
kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan
lagi hati
sampai keanak-cucu
nanti
Bait ke-1
Tuhanku,
pada-Mu kuseru
Engkau, mahatahu
tersirat dalam kalbu
terdekap di malam gersang
hatiku gelisah selalu
Bait pertama puisi Kepada Tuhan
Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa pengarang hatinya
sedang gelisah, banyak masalah yang sedang dihadapi. Pengarang berdo’a kepada
Tuhan semoga masalah yang sedang dihadapi bisa menemukan jalan terang. Karena
menurutnya hanya kepada Tuhan lah ia memohon pertolongan. Tuhan maha tahu, maha
mengerti apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam bait pertama dapat diambil nilai religius yaitu ketika
kita sedang menghadapi persoalan dalam hidup kita, mintalah pertolongan kepada
Tuhan. Seperti dalam baris ke 2 dan 3.
pada-Mu kuseru
Engkau, maha tahu
Dari kutipan di atas kata kuseru artinya hanya pada Allah lah kita
memohon dan meminta pertolongan. Mengadulah kepada Allah, niscaya Allah akan memberi
petunjuk dalam menyelesaikan masalah tersebut. Karena Allah maha tahu apa yang
terbaik bagi hamba-Nya. Allah memberi masalah atau cobaan, Allah jugalah yang
akan memberi solusi atau jalan keluarnya. Jangan sampai kita meminta
pertolongan kepada dukun atau paranormal, karena perbuatan tersebut sangat
dilarang agama. Sesungguhnya perbuatan yang demikian sangat dilaknat Allah.
Pada hakikatnya tak ada solusi lain dalam hidup ini selain
mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan
itu sendiri, tidak lain yaitu Allah Swt. Segala yang ada di dunia ini akan
kembali kepada-Nya.
Bait ke-2
Tuhanku,
dalam dunia kerakusan semena
cemburuku berbagi terasa
antara manusia dan hewani
dan ia yang hakiki
Bait kedua puisi Kepada Tuhan
Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung makna bahwa banyak
fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Kerakusan manusia terjadi
dimana-mana. Perampokan, pembunuhan, bencana alam juga sering dijumpai. Namun
pada hakikatnya semua yang dilakukan manusia pasti akan mendapat ganjaran dari
Allah.
Nilai agama atau religi yang dapat disampaikan kepada pembaca yaitu janganlah
kita berbuat semena-mena kepada manusia dan makhluk lainnya, termasuk alam,
karena sesungguhnya semua yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah.
Dalam masyarakat sering kita jumpai manusia melakukan perbuatan yang
dilarang oleh agama misalnya; mencuri, merampok, menjual narkoba, korupsi dan
lain sebagainya. Selain itu manusia juga seringkali merusak alam, contohnya
penebangan kayu secara illegal, pembakaran hutan, perburuan binatang secara
liar, membuang sampah semabarangan dan lain sebagainya. Perbuatan itu sering
kita jumpai dalam masyarakat kita. Namun, pada hakikatnya apa yang telah kita
perbuat pasti aka nada balasan dari Allah. Jika kita berbuat baik maka Allah
akan memberikan kita nikmat dan kenahagiaan, sebaliknya jika kita berbuat
dhalim, maka azab Allah amatlah pedih. Maka hendaklah kita selalu berbuat
kebaikan kepada manusia dan makhluk Allah lainnya, agar kita bahagia di dunia
dan akhirat.
Bait ke-3
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
kuseru dalam ruang-ruang
kosongkah alam sekeliling
dunia hanya penuh keedanan bermata juling
dalam perut koreng berbopeng-bopeng
Dalam bait ketiga, penyair menggambarkan bahwa Allah itu satu, tidak
beranak dan diperanakkan. Selain itu Allah maha pengasih lagi maha penyayang
bagi hamba-Nya. Pengarang juga mengungkapkan keprihatinannya pada keadaan yang
terjadi saat ini yang ada hanya lah kerakusan ketamakan dari manusia-manusia
yang tak bertanggung jawab. Dalam kehidupan, tentunya manusia seringkali
dihadapkan pada masalah yang kadang kala sulit untuk dicari jalan keluarnya.
Manusia seringkali merasa lelah dalam menghadapi hidup dengan segudang
permasalahan hidup yang ada, hingga terkadang manusia menghalalkan segala cara
untuk bisa keluar dari masalah tersebut.
Untuk itu pada dasarnya setiap permasalahan yang sedang kita hadapi
harus berpulang kepada Allah Swt. tidak ada masalah yang tidak dapat
diselesaikan. Allah memberikan penyakit, Allah juga telah menyediakan obatnya.
Tinggal manusia mau berusaha atau tidak. Semua itu tergantung pada manusia itu
sendiri. Jadi, ketika manusia sedang mendapatkan cobaan atau sedang menghadapi
masalah, hendaklah meminta pertolongan kepada Allah, karena pada hakikatnya
semua yang ada di dunia ini akan kembali kepada sang pencipta yaitu Allah Swt.
Nilai agama atau religi yang dapat diambil dari bait ke tiga yaitu
pengarang ingin menyampaikan pesan kepada pembaca untuk menjadikan Allah Swt. menjadi
muara terakhir saat kita menghadapi masalah hidup. Sebagaimana terlihat
pada baris berikut.
Tuhanku, Esa
tiada anak diperanakkan
cinta-Mu tiada terbilang sayang
Bait ke-4
Tuhanku, kini
dalam kalamullah ilahi robbi
tataplah penuh wajah ini
aku menatap-Mu ngeri
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam bait ke empat pengarang menggambarkan bahwa ia kini telah
menyadari kesalahan yang telah ia buat. Pengarang menyadari bahwa azab Allah
itu amatlah pedih. Pengarang telah menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia
ini adalah kehendak dari Allah. Maka sudah sepantasnya kita juga harus
menyerahkan semuanya kepada Allah. Pengarang berharap tidak akan berpaling lagi
dari Allah. Ia benar-benar ingin taubat dan kembali ke jalan yang benar.
Sebagaimana terdapat dalam bait berikut.
telah kukenal kutemui diri
semoga!
tak kupalingkan lagi hati
sampai keanak-cucu nanti
Dalam
bait keempat penyair hendak menyampaikan pesan religius kepada pembaca bahwa sadarlah
akan kesalahan yang telah kita perbuat, dan ingatlah sesungguhnya azab Allah
amatlah pedih.
D.
Simpulan
Puisi Kepada Tuhan Kuseru karya Susy Aminah Azis mengandung kekuatan
pesan religi yang cukup kental. Kata-kata yang digunakan secara jelas
memberikan pesan religius kepada makhluk Tuhan untuk menjadikan Tuhan sebagai
muara akhir segala persoalan hidup yang dihadapi manusia di dunia ini.
Pengarang menegaskan bahwa tidak ada solusi lain dalam hidup ini selain
mengembalikan segala macam permasalahan kehidupan kepada sang pemilik kehidupan
yaitu Allah Swt. Manusia kerap lelah dalam menjalani hidup dengan segudang
permasalahan, hingga terkadang manusia tersebut gagal menjadi makhluk yang
mulia di mata Allah. Karena pada hakikatnya semuanya akan berpulang kepada
Allah. Tak ada gunanya kita membanggakan segenap apa yang kita miliki, karena
semua itu akan kembali kepada Allah Swt. oleh karena itu, cepatlah sadar dan
bertaubatlah kepada Allah sebelum kita mendapat ganjaran terhadap apa yang
telah kita perbuat, karena sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.
DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wartoyo, Agus.
2014. “Gaya Bahasa dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Pacar Gadhing Karya
Tamsir A.S.” Purworejo: Skripsi. Purworejo.
No comments:
Post a Comment