TEKS DRAMA:
SANG PENGAMEN
Karya: Dulrokhim
Para Pelaku:
1. PENGAMEN
alias RAHMAN, laki-laki 15 tahun
Rahman adalah seorang pengamen, ia biasa mengamen di pasar
dan toko-toko.
2. BAPAK
alias KARSO, laki-laki 35 tahun
Pak Karso adalah ayah dari Rahman (pengamen), ia adalah
seorang pemulung.
3. IBU,
perempuan 33 tahun
Tokoh IBU adalah ibu dari Rahman (pengamen), dan juga
sebagai isteri pak Karso. Ia adalah seorang pemulung.
4. PEDAGANG
1, perempuan 30 tahun
PEDAGANG 1 adalah seorang ibu yang pekerjaannya sebagai
pedagang di pasar tempat Rahman mengamen.
5. PEDAGANG
2, perempuan 30 tahun
PEDAGANG 2 adalah seorang ibu yang pekerjaannya sebagai
pedagang di pasar tempat Rahman mengamen.
6. DEWI,
perempuan 15 tahun
Dewi adalah seorang pelajar SMP, yang juga sebagai teman
sekelas Rahman (pengamen).
7. WULAN,
perempuan 15 tahun
Dewi adalah seorang pelajar SMP. Ia adalah teman sekelas
Rahman (pengamen) dan juga Dewi.
8. DUTA,
laki-laki 15 tahun
Duta adalah seorang pelajar SMP. Ia adalah teman sekelas
Rahman (pengamen), Dewi dan Wulan.
9. PEMUDA
alias GAMBRENG, laki-laki 25 tahun
Gambreng adalah seorang pencuri.
10. TONO,
laki-laki 30 tahun
Tono adalah tetangga Rahman
(pengamen).
11. PENYIAR,
perempuan 25 tahun
Tokoh Penyiar adalah karyawan dari
salah satu televisi swasta.
12. KAMERAMEN,
laki-laki 25 tahun
Tokoh Penyiar adalah karyawan dari salah satu televisi
swasta.
13. POLISI
1, laki-laki 45 tahun
Tokoh Polisi adalah seorang polisi yang bertugas di Polres,
dan juga sebagai ayah Dewi.
14. POLISI
2, laki-laki 45 tahun
15. 2
SATPOL PAMONG PRAJA, laki-laki 30 tahun
I
Pagi, menjelang siang
Panggung menggambarkan salah satu sudut
pasar. Para pedagang pasar sibuk membersihkan dagangannya. Beberapa pembeli
tampak menawar barang dagangannya. Beberapa pembeli tampak menawar barang
dagangan. Di suatu kanan panggung berdiri bangunan kecil, di pintunya yang
tertutup tertulis: WC.
Seorang siswa berseragam SMP, putih biru,
mengenakan topi biru, membawa tas di punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak
berapa lama, ia keluar dari WC dengan pakaian ala pengamen, celana levi’s
sobek, berkaos oblong. Di tangannya menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang
kawat dari besi melingkari leher yang tersambung dengan harmonica tepat di
depan mulutnya. Ia lalu mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar
kecilnya sambil mulutnya meniup harmonika.
Baru sesaat bermain musik, PENGAMEN tadi diusir seorang pedagang.
PEDAGANG 1 : Eit, baru buka dasar. Belum ada receh. Yang
lain saja dulu ya!
PENGAMEN
tersebut menghentikan bermain musiknya. Ia berjalan ke pedagang di sebelahnya.
PEDAGANG 2 : Kalau main musik yang benar. Jangan asal
bunyi. Aku minta lagu keroncong ya!
PEDAGANG 1 : Siang-siang begini minta lagu keroncong,
bikin orang ngantuk.
PEDAGANG 2 : Terserah aku. Yang bayar pengamen kan
aku, bukan kamu.
PEDAGANG 1 : Memangnya yang punya telinga cuma kamu?
PEDAGANG 2 : Kalau tidak mau dengar lagu keroncong, ya
ditutup saja kedua telingamu!
PEDAGANG 1 : Enak saja kalau ngomong. Lagu keroncong itu bukan seleraku. Daripada lagu
keroncong, mendingan lagu dangdut
saja, si Kucing Garong.
PEDAGANG 2 : Wealah…
dasar selera rendah.
PEDAGANG 1 : Apa kamu bilang?
PEDAGANG 2 : Keroncong itu musik identitas bangsa.
Dengan keroncong bangsa kita jadi terkenal. Lihat itu, Pak Gesang dengan Bengawan Solo-nya, Waljinah dengan Walang Kekek-nya. Mereka itu dikenal
sampai ke negeri Jepang. Kucing Garong… lagu apa itu. Apalagi kalau nyanyinya
sambil goyang ngebor. Itu namanya malah merusak identitas budaya bangsa.
PEDAGANG 1 : Sok pintar!
PEDAGANG 2 : Ee, walau aku pedagang pasar, aku ini
pernah “makan sekolahan”. Aku ini lulusan SMP. Juga sering baca Koran. Jadi
tahu ilmu pengetahuan.
PENGAMEN : Ini jadi tidak lagunya? Kok malah
bertengkar sendiri.
PEDAGANG 1 : Dik Pengamen, sini! Lagunya Kucing Garong saja ya, nanti aku beri
uang seribu.
PEDAGANG 2 : Wealah…
biasanya ngasih seratus, sekarang seribu.
PENGAMEN : Wah,
kalau Kucing Garong saya tidak bisa
Bu.
PEDAGANG 2 : Nha itu, Kucing Garong tidak bisa kan.
Music keroncong saja ya Dik Pengamen. Aku beri uang lima ribu.
PENGAMEN : Wah, kalau keroncong saya juga tidak
bisa Bu.
PEDAGANG 1 : Nha itu, lagu keroncong apalagi, semakin
tidak bisa.
PEDAGANG 2 : Sudah kamu tidak usah ikut campur! (Kepada PENGAMEN) Dik Pengamen bagaimana
sih? Keroncong tidak bisa, dangdut juga tidak bisa. Lha bisanya lagu apa?
PENGAMEN : Kalau saya bisanya lagu yang disenangi
anak-anak muda Bu. Lagunya Iwan Fals. Umar
Bakri. Mau ya, lagunya enak lho.
PEDAGANG 2 : Wah, nggak jadi. Nanti malah aku teringat
bapakku yang sudah meninggal. Bapakku itu guru, namanya Pak Umar. Mati ngenes karena gajinya sangat kecil.
PENGAMEN memainkan
musik lagu Umar Bakri.
PEDAGANG 2 : Eee… sudah! Sudah…! Sudah dibilang jangan lagu Umar Bakri tetap saja nekat. Pergi sana!
PENGAMEN dengan kecewa melangkah
meninggalkan pedagang pasar tersebut, sambil memainkan musik lagu Umar Bakri.
PENGAMEN : (Menyanyi)
Umar Bakri…, Umar Bakri…, pegawai negeri. Umar Bkari…, Umar Bakri…, empat puluh
tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti, memang makan hati.
PEDAGANG 2 : Dasar pengamen sinting!
PEDAGANG SATU tertawa cekikikan.
II
Sore hari.
Di tengah panggung berdiri rumah bambu kecil. Di kanan kiri rumah ada
kardus-kardus ditumpuk dan karung plastik berisi kardus. Di depan karung
plastik tersandar sepeda tua. Sementara di depan rumah seorang lelaki tiduran
di atas kursi bambu sambil merokok. Lelaki itu batuk-batuk berkepanjangan.
PENGAMEN datang memainkan gitar. Namun ketika mendengar suara batuk-batuk, ia
menghentikan bermain gitarnya.
PENGAMEN : Pak…
BAPAK : Sudah pulang Kamu Man?
PENGAMEN : Sudah Pak.
BAPAK : Dapat uang berapa kamu dari hasil
ngamen?
PENGAMEN : Lima Ribu.
BAPAK : Lima
ribu? Biasanya sehari kamu dapat dua puluh ribu. Kok turun? Atau kamu yang
malas?
PENGAMEN : Tidak Pak.
Memang lagi sepi. Mungkin gara-gara harga BBM naik.
BAPAK : Sini
uangnya. Untuk tambahan biaya sekolahmu nanti.
PENGAMEN mengulurkan uang recehan. BAPAK kembali batuk-batuk.
PENGAMEN : Sudahlah Pak,
jangan merokok lagi. Nanti batuknya bertambah parah.
BAPAK : Aku sudah kecanduan, Man.
Sulit menghilangkannya.
PENGAMEN : Dicoba dulu
untuk berhenti merokok. Peringatan pemerintah merokok itu dapat menyebabkan
serangan jantung lho Pak.
BAPAK : Ah,
sudah! Penyakit jantung itu penyakitnya orang kaya. Orang miskin seperti
bapakmu ini penyakitnya paling cuma masuk angin. Kamu itu aku sekolahkan supaya
pintar, bukan untuk melarang bapakmu merokok.
IBU datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di
punggungnya.
IBU :
Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK : Itu
hasil kerjaku (Menunjuk karung plastik
berisi kardus yang sudah ditata.
IBU : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu
sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?
PENGAMEN : Sudah Bu.
Lancar. Tadi pulang lebih awal. Guru-guru rapat persiapan test kenaikan kelas.
Oh iya, kapan saya bayar uang sekolah Bu? Sudah nunggak tiga bulan belum dibayar lho.
IBU :
Tanya Bapakmu.
PENGAMEN : Pak…?
BAPAK : Belum
cukup uangnya Man. Sabar ya. Bapak nanti jualkan sepeda.
IBU : (Kaget) Jual sepeda? Lalu nanti jual
kardusnya dibawa pakai apa?
BAPAK :
Gampang, pinjam saja gerobaknya Tono.
IBU :
Jauh lho Pak. Buang waktu dan tenaga
kalau pakai gerobak. Lagian sewa gerobak kan bayar.
BAPAK : Lalu
mau jual apalagi? Kekayaan yang kita punya satu-satunya tinggal sepeda
peninggalan bapakku itu.
IBU :
Apa tidak sayang?
BAPAK : Sayang
sih. Tapi mau apa lagi. Yang penting anak kita bisa ikut test kenaikan kelas.
IBU :
Terserahlah. (IBU masuk ke dalam rumah).
BAPAK : Belajar
yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan
bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu.
(masuk ke rumah).
Terdengar suara adzan maghrib dari Musholla. BAPAK lalu ikut masuk ke
rumah.
III
Beberapa saat
setelah IBU, BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang
PEMUDA yang mencurigakan. Ia menengok ke
kanan dan ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa aman, PEMUDA tersebut
memebawa sepeda yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan. Ia lalau memacu
kencang sepeda satu-satunya milik sang BAPAK. Tak beberapa lama dari arah yang
sama muncul TONO agak tergesa.
TONO : Lik. . .! Lik Karso . . .!
Pinjam sepedanya ya. Istriku mau melahirkan.
BAPAK : (Suara dari dalam rumah) Di depan, ambil saja.
TONO : (Mencari-cari sepeda). Di depan mana Lik?
Kok tidak ada
BAPAK : (Suara dari dalam rumah) Di depan rumah dekat jendela.
TONO : Dekat
jendela mana ? Nggak ada Lik !
BAPAK : (Keluar dari rumah) Lho?
Tadi saya taruh di situ, dekat jendela. Kok tidak ada? Jangan main-main Ton.
Dibawa kamu ya?
TONO : Jangan ngawur Lik! Saya ini baru datang dan mau pinjam untuk mengantar
istri. Sepertinya istriku mau melahirkan. Tolong Lik, jangan main-main. Saya
ini serius.
BAPAK : Lho, ya kamu to yang
jangan main-main. Jelas-jelas sepeda saya taruh di situ, kok sekarang raib. Sepeda saya raib pasti ada yang mengambilnya.
TONO : (Agak marah) Jadi Lik Karso menudh saya yang mengambil sepeda to?
BAPAK : (Ikut marah) Lha sapa lagi ? Yang ada disini ya cuma kamu!
TONO : Wah sontoloyo! Lagi susah
mikir istri mau melahirkan malah di tuduh mencuri.
IBU : (Keluar rumah bersama PENGAMEN)
Ada apa ini kok ribut-ribut.
TONO : Anu BU, saya mau pinjam
sepeda, malah di tuduh mencuri.
IBU :
(Kepada BAPAK) benar Pak?
BAPAK :
Lha buktinya, sepeda kita satu-satunya sudah tidak ada.
IBU :
Ton, benar kamu mngambil sepedanya Bapak ?
TONO : Sumpah, berani di sambar
gledeg kalau sampai saya mencuri. Walau saya miskin, saya masih punya harga
diri.
IBU :
Mau pinjam sepeda untuk apa?
TONO : Mau mengantar istri saya
kebidan puskesmas.Istri saya mau melahirkan.
IBU : Oallah, Ton ,Mau melahikan toh istrimu? Ayo cari becak saja. Mari,
Kita antar istrimu.
IBU dan TONO pergi mencari becak.
Tinggal PENGAMEN dan Bapak berdua.
BAPAK :
Lho...Bu?! Terus sepeda saya
bagaimana?
IBU :
(Hanya suara) Cari Sendiri…!
PENGAMEN : Apa tadi sepedanya tidak di kunci Pak?
BAPAK : Wadhuh..., aku tadi lupa menugncinya. (Menegeluh) oallah Gustiii..,
terus bagaimana ini. Sekolahmu terus bagaimana, Man? Tidak ada lagi yang bisa
aku jual untuk membiayai sekolahmu. Kardus-kardus itu walau di jual semua tidak
akan mencukupi untuk biaya uang sekolah tunggakanmu.
PENGAMEN : Sudahlah, Pak. Tidak usar dipikir. Aku
nanti ngamen saja. Aku akan bekerja lebih keras, siang dan malam.Dengan hasil
penjualan kardus , di tambah hasil dari mengamen, semoga nanti cukup untuk
bayar tunggakan uang sekolah. Aku shalat Isya’ dulu pak.
BAPAK : Ya. Kita shalat berjama’ah saja.
Keduanya masuk rumah.
IV
Sore hari.
Di ruang
keterampilan musik , DEWI, WULAN, DUTA, tengan menunggu sang PENGAMEN rekan
sekelas mereka. Mereka tengah berlatih msuik WULAN memegang gitar, DUTA menabuh
drum, dan DEWI bagian keyboard. Namun latihan mereka tidak berjalan baik,
karena tidak lengkap. Sang PENGAWEN seharusnya menjadi vokalisnya. Mereka
bahkan sampai mengulang tiga kali untuk satu lagi, itupun tidak sampai selesai.
DEWI : Stop-stop! Wah tidak enak
rasanya kalau latihan tidak lengkap.Tidak ada yang menyanyi.
WULAN : Terus bagaimana ini? Festival
musik tinggal beberapa hari ini lagi.
DEWI : Kita tunggu Rahman. Kalau
sampai setengah jam kedepan ia tidak hadir,kita tunda latihan ini.
DUTA : Sudah, ganti saja Rahman !
ia tidak disipli. Masak kita sudah menuggu setengah jam begini, ia belum datang
juga.
DEWI : Sabar. Barang kali ia ada
masalah. Tidak seperti biasanya ia terlambat datang. Padahal ia selalu datang
lebih awal setiap kita latihan.
DUTA : Kalau latihannya seperti ini
terus, kita bubar saja!
WULAN : Jangan begitu duta. Kita kan
sudah mempersiapkan waktu ini cukup lama. Apa kata Kepala Sekolah dan
rekan-rekan kita Nanti. Kita kan sudah mewakili sekolah diajang bergengsi.
Si PENGAMEN datang dengan
tergesa-gesa.
PENGAMEN : Maaf aku terlambat.
DUTA :
Apa alasanmu kali ini, Man?
PENGAMEN : Aku di kejar-kejar polisi. Sudah ada
lima pengamen yang di naikkan ketruk polisi. Mungkin mereka dianggap mengganggu
ketertiban dan keindahan kota.
WULAN :
Untung kamu tidak tertangkap polisi.
DEWI :
Memangnya kamu ikut mengamen?
PENGAMEN : (bingung)
Ehm...,tidak sih. Aku hanya bermain
musik sambil berjalan ke sini. Tahu-tahu di kejar petugas gabungan polisi dan
Satpol Pamong Praja.
DEWI :Makanya besuk lagi kalau
berangkat jangan main musik di jalanan. Ayo kita mulai latihan
PENGAMEN : Ayo! Tapi sebelumnya kita awali dengan
doa bersama agar latihan ini bisa berjalan dengan lancar. Mari kta berdoa. (Mereka berdoa bersama dipimpin Rahman). Amin.
Mereka akhirnya bisa bermain musik dengan kompak.
V
Siang hari.
Di sebuah jalan sepi. DEWI dan WULAN
pulang sekolah dengan berjalan kaki.
DEWI : Kasihan Rahman ya. Ia diultimatum oleh kepala
sekolah, bila tidak membayar uang
sekolah selama tiga hari ke depan, ia tidak diizinkan mengikuti test kenaikan
kelas.
WULAN : Ya, kasihan. Padahal ia anak
pintar. Kreatif lagi. Tanpa dia, grup musik sekolahan kita tidak mungkin masuk
lima besar dalam festival music tingkat kabupaten.
DEWI :
Kabarnya ia menunggak tiga bulan belum bayar.
WULAN :
Orang tuanya kerjanya apa sih ?
DEWI :
Pemulung. Aku pernah lewat rumahnya.
WULAN : Pantas. Untuk hidup sehari-hari
saja pas-pasan, apalagi untuk membayar uang sekolah. Tentu berat ya.
DEWI : Ya. Seharusnya kita
menolongnya. Bagaimana kalu kita menyisihkan uang saku kita untuk membantu
Rahman.
WULAN :
Apa cukup?
DEWI : Aku punya tabungan di rumah.
Mungkin bisa sedikit membantu.
WULAN : Kalau begitu, uang tabungan di
rumah juga bisa digunakn untuk membantu
Rahman.
Tiba-tiba muncul PEMUDA dengan
mengendarai sepeda dari arah berlawanan. Sepeda itu tanpa kendali menabrak DEWI
yang lengah karena tengah asyik ngobrol dengan WULAN. DEWI dan PEMUDA terjatuh.
Ternyata PEMUDA itu sedang mabuk. DEWI tak sadarkan diri. WULAN berteriak
meminta tolong, kebingungan.
WULAN :
Tolooooong…,tolooooong…!
Muncul si
PENGAMEN.
PENGAMEN : Ada apa ini
Wulan?
WULAN : Dewi tertabrak sepeda.
PENGAMEN : Ayo kita bawa
saja ke rumah sakit.
Keduanya menggotong DEWI yang
pingsan ke rumah sakit. Sementara sang PEMUDA masih tergeletak pingsan. Lalu
datang dua POLISI. Yang satu memapah PEMUDA, yang satunya membawa sepeda ke
Kantor Polisi.
VI
Siang hari.
Di salah satu
sudut pasar. Pedagang sibuk membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah
melayani pembeli. Datang sang PENGAMEN.
PENGAMEN : (
Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dulu jadi perhatian
insaniii… Musim kemarau, tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai
jauuuhh…
PEDAGANG 2 : Nha kalau lagu
ini, baru nikmat rasanya.
PEDAGANG 1 : Huh, lagu apa
itu, buat orang tambah ngantuk
PEDAGANG 2 : Kalau tidak
suka lagu ini, ya jangan didengerin.
PEDAGANG 1 : Dasar selea
udik.
PENGAMEN : (
Menghentikan nyanyianya). Ini bagaimana sih?
Dikasih lagu keroncong bertengkar. Dikasih lagu Iwan Fals ngatain sinting. Terus saya harus nyanyi lagu apa? Kucing garong?
PEDAGANG 1 : Nha, itu Cocok !! Lagu Kucing Garong saja. Nanti saya berinsepuluh ribu.
PENGAMEN : Wah maaf Bu, saya belum mempelajari
lagu Kucing Garong.
PEDAGANG 1 : Lho
bagaimana to? Kalau nggak bisa lagu Kucing Garong, ya nggak usah
jadi pengamen. Sudah,pergi saja sana! Jangan ngamen di sini!
PENGAMEN : Ya sudah. Saya
pergi dari sini.
PEDAGANG 2 : Dik Pengamen, ini uangnya. Terima kasih
lagu keroncongnya ya.
PENGAMEN : Terima kasih kembali Bu. Lho, ini sepuluh ribu, apa tidak terlalu
banyak?
PEDAGANG 2 : Tidak apa-apa. Aku senang kok dengan lagu keroncongnya.
Tiba-tiba muncul dua orang kru
televise swasta. Yang satu presenter atau penyiar membawa mikrofon, yang
satunya cameramen membawa kamera televise.
PENYIAR : Maaf Dik. Saya dari stasiun
televisi swasta tengah mencari bakat penyanyi jalanan. Adik bersedia ikut
audisi untuk acara Saatnya Jadi Idola?
PENGAMEN : Wah senang
sekali kalau diperbolehkan.
PENYIAR : Kalau
begitu, kita langsung coba suara Adik ya.
PENGAMEN : Oke.Saya siap.
PENYIAR : Siap ya,
satu, dua, tigaa…
PENGAMEN : (
Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dalu jadi perhatian
insaniii… Musim kemarau,tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai
jauuuhh….
PENYIAR : Wah indah sekali suara Adik.
Kharakter suara Adik sangat kuat. Adik pasti bisa masuk sepuluh besar Indonesia
di acara Saatnya Jadi Idola.
PENGAMEN : Terima kasih
Mbak.
PENYIAR : Kalau begitu, satu bulan lagi Adik
langsung dating ke stasiun televise kami ya. Ini alamatnya. ( Menyodorkan kartu nama) Kami tunggu
kedatangan Adik. Permisi Dik. (Pergi meninggalkan PENGAMEN).
PENGAMEN : (
Duduk dengan kedua lutut, kedua tangan mengadah) Ya Allah, terima kasih
atas rahmat-Mu.
PEDAGANG 2 : Nha, betul kan. Lagu keroncong ternyata
membawa keberuntungan bagi yang menyanyikannya
PEDAGANG 1 : Kok bisa ya?
PENGAMEN :
(Pergi dari pasar, sambil
menyanyi) Bengawan solooo…riwayatmu kiniiii…
Tiba-tiba muncul seorang POLISI
dan dua petugas SATPOL PAMONG PRAJA
POLISI 2 : Itu pengamennya. Tangkap dia !! ( Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN : Lho? Ada apa ini? Apa salah saya?
POLISI 2 : Sudah
jangan banyak bicara! Ayo ke Kantor Polisi !
PENGAMEN : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya!
Tolooong… saya tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolooong…!
Sang PENGAMEN ditangkap, dibawa
ke Kantor Polisi.
VII
Siang
hari.
Di rumah
pengamen. Muncul Tono dengan tergesa.
TONO : (Berteriak) Lik...! Lik
Karso.. !
BAPAK :
(Muncul dari pintu) Ada apa lagi ini?
TONO : Ini penting Lik. Ada khabar buruk.
Tapi jangan kaget ya.
BAPAK : (Kaget) khabar buruk
apa?
TONO :
Anu Lik, anakna Sampean, si Rahman itu ditangkap polisi.
BAPAK :
(Bertambah kaget) Kamu jangan main-main lagi Ton! Kamu sudah
menghilangkan sepeda saya. Sekarang bikin kisruh, buat isu yang bukan-bukan.
IBU : (Muncul
dari dalam rumah) Ada apa Ton? Siapa yang ditangkap polisi?
TONO :
Anaknya Sampean, Bu, si Rahman. Yang nangkap petugas gabungan, Satpil
Pamong Praja dan Polisi.
IBU :
Hah?! Ditangkap polisi? (Kepada BAPAK). Lha salah apa anak kita Pak?
BAPAK :
(Kepada TONO) Mulutmu kalau bicara yang benar Ton. Tidak mungkin anakku
berbuat yang tidak-tidak.
TONO : Kalau tidak percaya ya sudah.
IBU :
Sekarang di mana Rahman, Ton?
TONO : Ya..., mungkin di Kantor Polisi.
IBU : (Kepada BAPAK) Ayo, Pak.
Kita ke kantor Polisi!
BAPAK :
Ayo! (Kepada TONO) Awas kamu, kalau bohong, tak sobek-sobek mulutmu !
TONO
hanya garuk-garuk kepala. Lalu pulang ke rumahnya.
VIII
Di ruang penyidik Kantor Polisi, seorang POLISI
tengah mengintograsi PEMUDA. Di belakang kursi POLISI tersandar sepeda tua di
tembok. Sepeda itu dijadikan barang bukti. Di atas meja ada mesin ketik manual
untuk menulis hasil penyidikan.
POLISI 1 :
(Sambil sekali mengetik) Jadi sepeda itu bukan milikmu?
PEMUDA : Bukan, Pak.
POLISI 1 :
Lalu milik siapa?
PEMUDA :
Milik Lik Karso.
POLISI 1 :
Lik Karso, siapa?
PEMUDA :
Pemulung, Pak. Rumahnya bersebelahan dengan kampung kami.
POLISI 1 :
Sepeda itu kau ambil atau Kau curi.
PEMUDA :
(Bingung) Anu, Pak, saya pinjam.
POLISI 1 :
Yang bener! Kau ambil atau Kau curi?
PEMUDA : Ambil Pak.
POLISI 1 :
Kau sudah minta izin sama pemiliknya?
PEMUDA : Belum, Pak.
POLISI 1 : Itu
namanya mencuri. Untuk apa sepeda itu? Jawab yang jujur!
PEMUDA :
Mau saya jual Pak.
POLISI 1 :
Dijual? Untuk apa?
PEMUDA :
Buat beli minuman keras Pak.
POLISI 1 :
Dasar pemabuk. (Mengambil kertas di atas mesin ketik). Sudah tanda
tangani Berita Acara Pemeriksaan ini.
Saat PEMUDA menandatangani BAP muncul POLISI 2
menggandeng SANG PENGAMEN. PENGAMEN dipersilahkan duduk di samping PEMUDA.
POLISI 2 yang menggandeng berdiri di samping POLISI 1.
PENGAMEN : Lho itu sepeda milik BAPAK saya!
POLISI 1 : Bener itu sepeda Bapakmu?
PENGAMEN : Bener
Pak. Saya hafal sepeda Bapak saya.
POLISI 1 :
Urusan sepeda nanti. Sekarang aku mau tanya. Kamu yang sering ngamen di
bus?
PENGAMEN :
Tidak Pak, saya hanya ngamen di pasar dan di toko-toko.
POLISI 1 :
Jangan bohong. Saya mendapat laporan dari masyarakat, pengamen banyak yang
melakukan pencopetandi dalam bus. Makanya semua pengamen kami tangkap untuk
kami periksa. Kamu copetnya?
PENGAMEN : Tidak
Pak.Saya tidak mencopet. Saya hanya mengamen.
POLISI 1 :
Kamu masih sekolah atau pengangguran?
PENGAMEN : Masih
sekolah Pak.
POLISI 1 :
Sekolah di mana?
PENGAMEN : SMP
Muhammadiyah Pak.
POLISI 1 :
SMP Muhammadiyah? Anak saya juga sekolah di situ.
PENGAMEN : Siapa
namanya Pak, kalau boleh tahu?
POLISI 1 :
Dewi.
PENGAMEN : Dewi
Kumala Sari? Dewi satu kelas dengan saya.
POLISI 1 : Oh, ya?
PENGAMEN :
Malahan saya tadi antar ke rumah sakit.
POLISI 1 :
(Heran) Ke rumah sakit?
PENGAMEN :
Ya. Jangan khawatir Pak. Dewi hanya luka ringan.
Itu
gara-gara ditabrak pemuda mabuk.
POLISI 1 :
Pemuda di sebelahmu itu maksudmu?
PENGAMEN : (Menoleh
ke PEMUDA) Benar Pak. Dia yang menabrak Dewi dengan sepeda.
POLISI 1 :
Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit. Antar aku ke sana. Aku mau jenguk Dewi.
(Kepada POLISI 2) Masukkan pemuda itu ke sel! Aku dan anak ini pergi
dulu.
POLISI 2 :
Siap Komandan!
POLISI 1 dan PENGAMEN keluar. Sementara POLISI
2 membawa si PEMUDA ke dalam sel penjara.
ANALISIS DRAM
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Karya sastra merupakan suatu ungkapan perasaan
pengarang yang mampu memberikan pengalaman, pengetahuan, wawasan bagi
penikmatnya dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Karya sastra sebagai
suatu bentuk karya seni merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji dan
dibicarakan. Maka dari itu untuk menempatan karya sastra pada posisi yang
semestinya diperlukan pemahaman terhadap karya sastra tersebut secara mendalam
tentang hal-hal yang bersangkutan dengan kesusasteraan.
Karya sastra terbagi
menjadi tiga yaitu puisi, prosa, dan drama. Salah satu jenis karya sastra yang
menarik dikaji yaitu drama. Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang
diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama penonton seolah melihat kejadian
dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama sama dengan
konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret
suka duka, pahit manis, dan hitam putih kehidupan manusia (Widyahening, dkk.
2012: 1).
Sejalan dengan itu Damono mengemukakan bahwa drama
mempunyai tiga unsur yang sangat penting yakni unsur teks drama, unsur
pementasan, dan unsur penonton. Lebih lanjut, Damono juga mengungkapkan bahwa
apresiasi masyarakat yang sangat minim terhadap sastra drama disebabkan oleh
para penonton drama yang biasanya datang pada pementasan drama tanpa bekal
pembacaan teks drama itu sebelumnya (Damono dalam Dewojati, 2012: 2). Dengan demikian,
setiap usaha analisis drama harus dilandasi kesadaran bahwa sebuah karya drama
memang ditulis untuk dipentaskan.
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang
bersifat reflektif. Penelitian ini banyak dinikmati oleh peneliti yang ingin
melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kendati sosiologi dan
sastra mempunyai perbedaan tertentu namun sebenarnya dapat memberikan
penjelasan terhadap makna teks sastra. Hal ini dapat dipahami, karena sosiologi
adalah obyek studinya manusia dan sastra
pun demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar
masyarakatnya. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra adalah dua hal
yang berbeda namun dapat saling melengkapi (Endraswara, 2003: 77-78).
Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep
cermin (mirror). Dalam kaitan ini,
sastra dianggap sebagai mimesis
(tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi
atau khayalan dari kenyataan (Endraswara, 2003: 78).
Begitu juga dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim, naskah tersebut juga menggambarkan kehidupan manusia dan
juga masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Penulis tertarik mengkaji
naskah tersebut menggunakan pendekatan sosiologi sastra agar bisa memahami
kehidupan masyarakat dan juga masalah-masalah yang terjadi mulai dari agama,
pendidikan, politik, ekonomi dan lain sebagainya.
B.
Rumusan
Masalah
Sebuah karya sastra tidak terlepas dari
persoalan-persoalan yang diungkap oleh pengarang. Berdasarkan latar belakang di
atas dapat ditarik rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana
aspek sosiologi sastra dalam naskah drama Sang
Pengamen karya Dulrokhim?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian adalah salah satu faktor utama yang
mendorong penulis untuk melakukan suatu penelitian. Adapun tujuan yang ingin
dicapai dari penulis adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mendeskripsikan aspek sosiologi sastra dalam naskah drama Sang Pengamen karya Durokhim.
BAB II
KAJIAN TEORETIS
Kajian teoretis merupakan penjabaran dari kerangka teoretis yang memuat
beberapa kumpulan materi terpilih dari berbagai sumber untuk dijadikan sebagai
acuan pokok dalam membahas masalah yang diteliti.
Sebuah karya ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, harus
menggunakan data analisis tertentu yaitu sebuah teori.
A.
Drama
1.
Pengertian
Drama
Menurut Aristoteles sastra dapat dikelompokkan dalam
tiga genre, yakni fiksi (fiction),
puisi (poetry) dan drama berdasarkan
sifatnya. Sifat dasar fiksi termasuk di dalamnya adalah roman, novel, dan
cerita pendek bersifat naratif, bercerita, mendongeng, dan mencoba menjelaskan.
Adapun sifat dasar puisi adalah ekspresif dengan mengolah irama sebagai sebuah komponen
yang penting. Sementara itu, drama atau naskah lakon, biasanya menunjuk pada
karya tulis yang mempunyai sifat dramatik, yakni sifat laku atau tindakan atau
juga aksi yang disajikan secara verbal dan non verbal (dalam Dewojati, 2012:
7).
Secara etimologis, kata “drama” berasal dari kata
Yunani draomai yang berarti ‘berbuat’,
‘berlaku’, ‘bertindak’, ‘bereaksi’, dan sebagainya. Jadi drama dalah perbuatan
atau tindakan.
Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang
diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama penonton seolah melihat kejadian
dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama sama dengan
konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret
suka duka, pahit manis, dan hitam putih kehidupan manusia (Evy Tri Widyahening,
dkk. 2012: 1).
2.
Jenis-jenis
Drama
a. Drama
Tragedi
Aristoteles berpendapat bahwa tragedi merupakan drama
yang menyebabkan haru, belas dan ngeri, sehingga penonton mengalami penyucian
jiwa (betapa kecil seseorang dibandingkan dengan suratan takdir). Aristoteles
menyebut penyucian jiwa tersebut dengan istilah katarsis.
b. Drama
Komedi
Komedi adalah drama ringan yang
sifatnya menghibur dan di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat
menyindir biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Lelucon bukan tujuan utama
dalam komedi, melainkan drama ini bersifat humor dan pengarangnya berharap akan
menimbulkan kelucuan atau tawa riang (Widyahening, dkk. 2012: 6).
c. Melodrama
Rendra berpendapat bahwa melodrama
merupakan drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara menimbulkan rasa
haru pada penontonnya (dalam Dewojati, 2012: 52). Dalam penyajiannya, melodrama
berpegang pada keadilan moralitas yang keras, yaitu yang baik akan mendapat
ganjaran; sedang yang jahat akan mendapat hukuman. Melodrama menyajikan lakon
yang sentimental, mendebarkan dan mengharukan sehingga membangkitkan simpati
dan keharuan penonton. Hal itu tersaji dengan cara memperlihatkan secara jelas
penderitaan tokoh protagonist dan sebaliknya, membangkitkan rasa benci dan
marah pada tokoh yang jahat (dalam Dewojati, 2012: 52).
d. Tragi-Komedi
Drama dapat berupa komedi (suka cita)
dan tragedy (duka cerita). Dalam tragedi, manusia selalu dikuasai oleh nasib
dan alam. Adapun dalam komedi manusia tampak menunjukkan kebahagiaan atas kekuatan-kekuatan
dalam menentang takdir kehidupan dengan cara menggelikan. Jelas di sini bahwa
di antara keduanya, komedi dan tragedi bertentangan baik emosi maupun
kejadiannya. Komedi dalam optimismenya yang sangat menyedihkan. Adanya drama
tragedi-komedi secara terbuka dan sederhana menggabungkan secara jelas humor
dan kesedihan (Dewojati, 2012: 54).
e. Parodi
Parodi didasarkan pada parode, yakni
sebutan yang diambil dari lagu-lagu yang dinyanyikan sebagai tiruan lagu-lagu
lain, tetapi dengan memlesetkan syair atau prosa (Dewojati, 2012: 54).
3.
Naskah
Drama dan Strukturnya
Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah
satu genre sastra, drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan
struktur batin (semantic atau makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog
atau ragam tutur. Ragam tutur itu adalah ragam sastra. Oleh sebab itu, bahasa
dan maknanya tunduk pada konvensi sastra (Widyahening, dkk. 2012: 143).
a. Plot
atau Kerangka Cerita
Menurut (Widyahening, dkk. 2012: 144) Plot merupakan
jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan
konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Konflik itu berkembang karena karena
kontradiksi para pelaku. Aristoteles dalam Dewojati (2012: 167) mengungkapkan
plot dipandang penting karena plot merupakan jalan certita sebuah drama yang di
dalamnya terdapat skema-skema action
para tokohnya di atas panggung.
b. Penokohan
dan Perwatakan
Menurut Widyahening, dkk. (2012: 148) Penokohan erat
hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh adalah daftar tokoh-tokoh yang
berperan dalam drama itu. Dalam susunan tokoh itu yang terlebih dahulu
dijelaskan adalah nama, umur, jenis kelamin tipe fisik jabatan, dan keadaan
kejiwaannya. Penulis lakon sudah menggambarkan perwatakan tokoh-tokohnya
seperti protagonis, antagonis, maupun tritagonis.
c. Dialog
(Percakapan)
Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk
cakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam
kehidupan sehari-hari. Pembicaraan yang ditulis oleh pengarang dalam naskah
drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan
di atas panggung (Widyahening, dkk. 2012: 153).
d. Setting
atau Tempat Kejadian
Setting atau tempat kejadian cerita sering pula
disebut latar cerita. Penentuan ini harus secara cermat sebab drama naskah
harus juga memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Setting biasanya meliputi
tiga dimensi yaitu tempat, ruang, waktu (Widyahening, dkk. 2012: 154).
e. Tema
atau Nada Dasar Cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam
drama. Tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula
dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh
pengarangnya. Sudut pandang ini sering dihubungkan dengan aliran yang dianut
oleh pengarang (Widyahening, dkk. 2012: 155).
B.
Sosiologi
Sastra
Menurut Damono (1984: 60, sosiologi adalah telaah yang
objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga
sosial dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana ia
berlangsung dan bagaimana ia tetap ada dengan mempelajari lembaga-lembaga
sosial dan segala masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain yang
kesemuanya itu merupakan struktur sosial. Jadi dalam sosiologi menggambarkan
tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang
mekanisme sosial, proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di
tempatnya masing-masing.
Faruk menjelaskan dalam sosiologi yang dipelajari
bukanlah sebagai makhluk biologis yang dibangun dan diproses oleh
kekuatan-kekuatan dan mekanisme-mekanisme fisik-kimiawi, bukan manusia sebagai
individu yang terkait dengan individu yang sepenuhnya mandiri, melainkan
manusia sebagai individu yang terkait dengan individu lain, manusia yang hidup
dalam lingkungan dan berada di antara manusia-manusia lain, manusia sebagai
sebuah kolektivitas, baik yang disebut dengan komunitas maupun sosietis (Faruk,
2014: 17).
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang
bersifat reflektif. Penelitian ini banyak dinikmati oleh peneliti yang ingin
melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kendati sosiologi dan
sastra mempunyai perbedaan tertentu namun sebenarnya dapat memberikan
penjelasan terhadap makna teks sastra. Hal ini dapat dipahami, karena sosiologi
adalah obyek studinya manusia dan sastra
pun demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar
masyarakatnya. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra adalah dua hal
yang berbeda namun dapat saling melengkapi (Endraswara, 2003: 77-78).
Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep
cermin (mirror). Dalam kaitan ini,
sastra dianggap sebagai mimesis
(tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi
atau khayalan dari kenyataan (Endraswara, 2003: 78).
Oleh karena itu Endraswara (200: 87-88) menjelaskan
lebih lanjut bahwa sosiologi sastra adalah penelitian tentang: (a) studi ilmiah
manusia dan masyarakat secara obyektif, (b) studi lembaga-lembaga sosial lewat
sastra dan sebaliknya, (c) studi proses sosial, yaitu bagaimana masyarakat
bekerja, bagaimana masyarakat mungkin, dan bagaimana mereka melangsungkan
hidupnya.
Hal-hal semacam itu akan menjadi tumpuan peneliti
sosiologi sastra. Hubungan timbal balik diantara unsur-unsur sosial di atas
akan besar pengaruhnya terhadap kondisi sastra. Berbagai aspek tersebut,
sesungguhnya masih dapat diperluas lagi menjadi berbagai refleksi sosial
sastra, antara lain: (a) dunia sosial manusia dan seluk beluknya, (b)
penyesuaian diri individu pada dunia lain, (c) bagaimana cita-cita untuk
mengubah dunia sosialnya, (d) hubungan sastra dan politik, (e) konflik-konflik
dan ketegangan dalam masyarakat. Dari paparan demikian, berarti hubungan
sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya akan saling
melengkapi hidup manusia.
Sosiologi
sastra bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari
orientasi kepada pengarang dan pembaca. Wilayah sosiologi cukup luas. Wellek
dan Warren membagi sosiologi sastra sebagai berikut: (a) Sosiologi pengarang, yang mempermasalahkan status sosial, ideology
sosial, dan menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra; (b) Sosiologi karya sastra, yang
mempermasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau
apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya dan (c) Sosiologi pembaca, yang mempermasalahkan
pembaca dan dampak sosial karya sastra. Namun dalam hal ini penulis menitik
beratkan pada penelitian sosiologi karya
sastra.
Dalam penelitian ini, peneliti menelaah karya sastra yang menekankan pada
aspek kekerabatan, cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya
pada teks naskah drama Sang Pengamen
karya Dulrokhim. Adapun aspek-aspek sosial tersebut sebagai berikut.
1.
Aspek
Kekerabatan
Kerabat dapat diartikan sebagai (1) yang dekat (pertalian
keluarga); sedarah sedaging; (2) keluarga; (3) keturunan dari induk yang sama,
yang dihasilkan dari gamet-gamet yang berbeda (Depdikbud, 1996: 482).
Kekerabatan adalah adanya pertalian kekeluargaan atau kekerabatan, dapat
berarti pula hubungan dekat atau
hubungan darah.
Sebagai makhluk sosial yang hidup bersama-sama,
manusia senantiasa membentuk ikatan sosial untuk mencapai tujuan hidup
tertentu. Kekerabatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana
hubungan dekat antar tokoh cerita.
2.
Aspek
Cinta Kasih
Cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan kasih
sayang terhadap orang lain. Cinta kasih bisa terdiri dari cinta kasih terhadap
orang tua, anak, sahabat, dan lawan jenis (laki-laki kepada perempuan atau
sebaliknya.
3.
Aspek
Ekonomi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1996: 251) Ekonomi adalah
(1) ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang
serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian dan perdagangan); (2)
pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yang berharga; (3) tata
kehidupan perekonomian (suatu Negara); (4) cak urusan keuangan rumah tangga
(organisasi Negara). Jadi, dapat diartikan bahwa aspek perekonomian di sini
adalah kegiatan manusia dalam mencari nafkah (mata pencaharian) atau mengembangkan
kehidupannya.
4.
Aspek
Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan penelitian; proses, perbuatan, cara mendidik (Depdikbud, 1996: 23).
Dalam wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas, Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di
bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan.
Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti
prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi,
universitas atau magang.
5.
Aspek
Agama
Agama berarti sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dan
sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian
dengan kepercayaan itu (Depdikbud, 1996: 10). Dalam hal ini bisa diartikan
bagaimana seseorang beribadah kepada Tuhannya.
6.
Aspek
Sosial
Sosial berarti sesuatu yang berkenaan dalam masyarakat. Dalam hal ini
sosial yang dimaksud adalah hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya
untuk mencapai tujuan tertentu dan juga masalah-masalah yang terdapat dalam
masyarakat.
7.
Aspek
Budaya
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia budaya berarti (1)
pikiran, akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu yang mengenai kebudayaan;
(4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah (Depdikbud, 1996:
149).
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke
generasi (Wikipedia).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode adalah cara kerja atau jalan untuk memahami objek yang menjadi
sasaran ilmu yang bersangkutan. Dalam penelitian yang berjudul “Analisis Naskah
Drama Sang Pengamen Menggunakan Pendekatan Sosiologi”. Peneliti
menggunkan metode penelitian yang terdiri dari objek penelitian, fokus
penelitian, instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data.
A.
Objek
Penelitian
Objek penelitian ini berupa Naskah Drama Sang
Pengamen karya Dulrokhim.
B.
Fokus
Penelitian
Penelitian ini
difokuskan pada tinjauan sosiologi karya sastra yang menitik beratkan pada
aspek kekerabatan, cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya
pada naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim.
C.
Instrumen
Penelitian
Ari Kunto (20016:
160) berpendapat bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang
digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah
dan hasilnya lebih baik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
naskah drama Sang Pengamen karya
Dulrokhim, buku-buku tentang teori drama, teori pengkajian fiksi, sosiologi
naskah dan metode penelitian sastra, sebagai acuan yang mendukung penelitian
ini.
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh
karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau
data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah
metode kualitatif. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang
bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mencari
objek yaitu naskah drama;
2. Menentukan
objek yaitu objek naskah drama Sang
Pengamen karya Dulrokhim;
3. Membaca
naskah drama Sang Pengamen karya
Dulrokhim secara cermat dan teliti;
4. Mengidentifikasi
data yang berhubungan dengan sosiologi karya sastra dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim.
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam penelitian
ini, peneliti menelaah karya sastra yang menekankan pada aspek kekerabatan,
cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya pada teks naskah
drama Sang Pengamen karya Dulrokhim. Adapun data-data yang peneliti dapatkan
sebagai berikut.
1.
Aspek
Kekerabatan
Bentuk kekerabatan dalam naskah drama Sang Pengamen, terdapat dalam kutipan di
bawah ini.
a. Pengamen
dengan Ibunya
Hubungan anatar Pengamen dengan
ibunya sangatlah baik. Begitu pula sebaliknya, ibu sangat menyayangi Pengamen.
Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“IBU : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu
sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?
PENGAMEN : Sudah Bu.
Lancar. Tadi pulang lebih awal. Guru-guru rapat persiapan test kenaikan kelas…”
b. Pengamen
dengan Ayahnya
Hubungan Pengamen dengan Ayahnya juga sangat baik. Sang
Pengamen sangat menghormati ayahnya. begitupun dengan ayahnya, ia sangat
perhatian pada Sang Pengamen. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“PENGAMEN : Pak…
BAPAK :
Sudah pulang Kamu Man?
PENGAMEN : Sudah Pak.
BAPAK : Dapat
uang berapa kamu dari hasil ngamen?
PENGAMEN : Lima Ribu.
BAPAK : Lima
ribu? Biasanya sehari kamu dapat dua puluh ribu. Kok turun? Atau kamu yang
malas?
PENGAMEN : Tidak Pak.
Memang lagi sepi. Mungkin gara-gara harga BBM naik.
BAPAK : Sini
uangnya. Untuk tambahan biaya sekolahmu nanti.
PENGAMEN
mengulurkan uang recehan. BAPAK kembali batuk-batuk.”
“BAPAK :
Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa
belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu
sana!
PENGAMEN : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu.
(masuk ke rumah).
c. Pengamen
dengan Dewi, Wulan dan Duta
Pengamen dengan ketiga sahabatnya
berteman begitu baik. Mereka adalah teman satu kelas di SMP Muhammadiyah. Hal
ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“Sore hari.
Di ruang keterampilan musik , DEWI,
WULAN, DUTA, tengan menunggu sang PENGAMEN rekan sekelas mereka. Mereka tengah
berlatih msuik WULAN memegang gitar, DUTA menabuh drum, dan DEWI bagian
keyboard. Namun latihan mereka tidak berjalan baik, karena tidak lengkap. Sang
PENGAWEN seharusnya menjadi vokalisnya. Mereka bahkan sampai mengulang tiga
kali untuk satu lagi, itupun tidak sampai selesai.”
Selain kutipan di atas, bentuk kekerabatan Pengamen
dengan temannya juga tergambar saat Pengamen menolong Dewi yang tertabrak
sepeda di jalan. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“WULAN :
Tolooooong…,tolooooong…!
Muncul si PENGAMEN.
PENGAMEN : Ada apa ini Wulan?
WULAN :
Dewi tertabrak sepeda.
PENGAMEN : Ayo kita bawa saja ke rumah sakit.
Keduanya menggotong DEWI yang
pingsan ke rumah sakit. Sementara sang PEMUDA masih tergeletak pingsan. Lalu
datang dua POLISI. Yang satu memapah PEMUDA, yang satunya membawa sepeda ke
Kantor Polisi.”
2.
Cinta
Kasih
Cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan kasih
sayang terhadap orang lain. Cinta kasih bisa terdiri dari cinta kasih terhadap
orang tua, anak, sahabat, dan lawan jenis (laki-laki kepada perempuan atau
sebaliknya.
a. Cinta
Kasih Pengamen dengan Ayahnya
Aspek Cinta Kasih dalam naskah drama Sang Pengamen terdapat dalam kutipan dibawah ini.
“PENGAMEN : Sudahlah Pak, jangan merokok lagi. Nanti
batuknya bertambah parah.
BAPAK : Aku sudah kecanduan, Man.
Sulit menghilangkannya.
PENGAMEN : Dicoba dulu untuk berhenti merokok.
Peringatan pemerintah merokok itu dapat menyebabkan serangan jantung lho Pak.”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Rahman (pengamen) begitu menyayangi
ayahnya. Ketika ayahnya merokok, Rahman mengingatkan ayahnya untuk berhenti
merokok, karena ia tidak ingin kesehatan ayahnya terganggu.
b. Cinta
Kasih Ayah kepada Pengamen
Selain cinta kasih seorang anak kepada ayahnya, dalam naskah drama Sang Pengamen juga terdapat cinta kasih
seorang ayah kepada anaknya. Hal itu terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“BAPAK :
Lalu mau jual apalagi? Kekayaan yang kita punya satu-satunya tinggal sepeda
peninggalan bapakku itu.
IBU : Apa tidak sayang?
BAPAK : Sayang
sih. Tapi mau apa lagi. Yang penting anak kita bisa ikut test kenaikan kelas.
IBU :
Terserahlah. (IBU masuk ke dalam rumah).
BAPAK : Belajar
yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan
bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu.
(masuk ke rumah).”
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ayah
sangatlah sayang kepada Rahman. Ayah yang hanya mempunyai kekayaan satu-satunya
yaitu sepeda, rela menjual sepedanya itu untuk biaya sekolah Rahman. Ayah
selalu berusaha menyenangkan hati Rahman. Ayah selalu memberi semangat kepada
Rahman, agar selalu giat belajar.
c. Cinta
Kasih Ibu kepada Pengamen
Cinta kasih seorang ibu kepada anaknya juga dijelaskan
dalam naskah drama Sang Pengamen. Hal
ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“IBU : Sudah sore begini, Rahman belum
pulang juga ya pak Pak, kata Pak Polisi yang piket tadi, Rahman tidak jadi
ditangkap. Tapi malah diajak pergi Komandan Polisi. Pergi ke mana ya Pak?
BAPAK : Ya tidak tahu. Kita kan disuruh
nunggu di rumah. Rahman pasti pulang. Jadi kamu yang sabar Bu. Kita berdoa
semoga Rahman selamat.”
Dari kutipan di atas jelas bahwa Ibu sangat menyayangi
Rahman. Ketika Rahman belum pulang ke rumah, Ibu gelisah, khawatir akan diri
Rahman.
3.
Agama
Cerminan perbuatan yang menunjukkan aktifitas beragama yang kuat dalam
naskah drama Sang Pengamen yaitu dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“BAPAK :
Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa
belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu
sana!
PENGAMEN : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu.
(masuk ke rumah).”
Terdengar suara adzan maghrib dari Mushola. BAPAK lalu ikut masuk
kerumah
Dari kutipan di atas
dapat disimpulkan bahwa Rahman adalah seseorang yang religius, taat beragama.
Ketika adzan telah berkumandang ia lantas masuk rumah untuk melaksanakan
sholat.
Keluarga Rahman adalah keluarga yang taat dalam beribadah, walaupun
keadaan keluarganya yang serba kekurangan, namun mereka tetap menjalankan
kewajibannya yaitu sholat. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“PENGAMEN : Sudahlah, Pak. Tidak usah dipikir.
Aku nanti ngamen saja. Aku akan bekerja lebih keras, siang dan malam. Dengan
hasil penjualan kardus, ditambah hasil dari mengamen, semoga nanti cukup untuk
bayar tunggakan uang sekolah. Aku shalat Isya dulu Pak.
BAPAK : Ya. Kita shalat berjama’ah bersama.”
Dari kutipan di atas jelaslah bahwa keluarga Rahman adalah keluarga yang
religius, taat beribadah.
4.
Ekonomi
Bentuk perekonomian dalam naskah drama Sang Pengamen yaitu bermacam-macam profesi, ada yang menjadi
pedagang, pengamen, pemulung, pencuri, dan juga polisi. Namun sebagian besar
masyarakatnya adalah dari golongan perekonomian menengah ke bawah.
Mata pencaharian sebagai pedagang, dapat terlihat dalam kutipan di bawah
ini.
“Siang hari
Di salah satu sudut pasar. Pedagang sibuk
membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah melayani pembeli. Datang sang
PENGAMEN.”
Dari kutipan di atas digambarkan aktifitas perekonomian, yaitu berdagang
yang terjadi di pasar. Mereka sibuk dengan berbagai aktifitasnya, ada yang
sibuk membersihkan dagangannya, ada yang sibuk melayani pembeli, dan lain
sebagainya.
Mata pencaharian atau pekerjaan sebagai pengamen terlihat dalam kutipan
di bawah ini.
“Seorang
siswa berseragam SMP, putih biru, mengenakan topi biru, membawa tas di
punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak berapa lama, ia keluar dari WC dengan
pakaian ala pengamen, celana levi’s sobek, berkaos oblong. Di tangannya
menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang kawat dari besi melingkari
leher yang tersambung dengan harmonica tepat di depan mulutnya. Ia lalu
mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar kecilnya sambil mulutnya
meniup harmonika.”
Dari kutipan di atas digambarkan ada seorang anak
yaitu Rahman yang bekerja sebagai pengamen. Ia biasanya mengamen di toko-toko
dan pasar-pasar.
Selain itu juga terdapat seorang pria yang bekerja
sebagai pencuri. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“Beberapa saat setelah IBU,
BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang PEMUDA yang
mencurigakan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa
aman, PEMUDA tersebut membawa sepeda yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan.
Ia lalu memacu kencang sepeda satu-satunya milik sang BAPAK.”
Dari kutipan di atas digambarkan bahwa sosok PEMUDA
yang bekerja sebagai pencuri. Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik,
melanggar agama, dan hukum. Sebaiknya, pekerjaan itu tidak boleh dijadikan
sebagai profesi seseorang, karena jelas melanggar hokum.
Pekerjaan (mata pencaharian) sebagai pemulung terlihat
dalam kutipan di bawah ini.
“IBU
datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di punggungnya.
IBU : Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK :
Itu hasil kerjaku (Menunjuk karung
plastik berisi kardus yang sudah ditata.
IBU :
(Sambil meletakkan karung plastik) Kamu
sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?”
Dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa tokoh
IBU dan BAPAK yakni Orang Tua Rahman adalah seorang pemulung.
Profesi sebagai Polisi dan Satpol Pamong Praja dapat
terlihat dalam kutipan di bawah ini.
Tiba-tiba muncul seorang POLISI dan dua
petugas SATPOL PAMONG PRAJA.
POLISI : Itu pengamennnya. Tangkap
dia! (Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN : Lho? Ada apa ini? Apa salah saya?
POLISI 2 : Sudah jangan banyak! Ayo ke
Kantor Polisi!
PENGAMEN : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya!
Tolooong… saya tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolong…!
Dari kutipan di atas digambarkan profesi seorang
Polisi dan petugas Satpol Pamong Praja yang biasanya bertugas menjaring
anak-anak jalanan, pengemis dan juga pengamen.
5.
Pendidikan
Dalam novel Sang Pengamen karya Dulrokhim menceritakan pendidikan
beberapa tokoh yang berperan. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
a. Pedagang
Diceritakan dalam novel Sang Pengamen bahwa Pedagang 2 adalah lulusan
SMP. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“PEDAGANG 2 : Ee, walau aku pedagang pasar, aku ini
pernah ‘makan sekolahan’. Aku ini
lulusan SMP. Juga sering baca koran.Jadi tahu ilmu pengetahuan.”
b. Orang
Tua Sang Pengamen
Orang tua Sang Pengamen bekerja sebagai pemulung. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa mereka mempunyai pendidikan yang rendah, kira-kira tamatan
SD. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“IBU
datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di punggungnya.
IBU :
Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK : Itu hasil kerjaku (Menunjuk karung plastik berisi kardus yang
sudah ditata.
IBU : (Sambil
meletakkan karung plastik) Kamu sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?”
c.
Sang Pengamen, Dewi, Wulan dan Duta
Diceritakan dalam naskah bahwa Sang Pengamen, Dewi, Wulan dan
Duta adalah seorang pelajar SMP. Mereka adalah teman dalam satu kelas di SMP
Muhammadiyah. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“POLISI 1 : Kamu masih sekolah atau
pengangguran?
PENGAMEN : Masih
sekolah Pak.
POLISI 1 : Sekolah di mana?
PENGAMEN : SMP
Muhammadiyah Pak.
POLISI 1 :
SMP Muhammadiyah? Anak saya juga sekolah di situ.
PENGAMEN : Siapa
namanya Pak, kalau boleh tahu?
POLISI 1 : Dewi.
PENGAMEN : Dewi
Kumala Sari? Dewi satu kelas dengan saya.”
6.
Budaya
Dalam novel Sang Pengamen terdapat aspek budaya, yaitu kesenian
menyanyikan lagu jawa. Ketika mengamen Sang Pengamen mahir dalam memainkan alat
musik dan juga menyanyikan lagu jawa, yaitu keroncong “Bengawn Solo” ciptaan Gesang. Hal ini terdapat dalam kutipan di
bawah ini.
“Siang hari.
Di salah satu sudut pasar.
Pedagang sibuk membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah melayani pembeli.
Datang sang PENGAMEN.
PENGAMEN : (
Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dulu jadi perhatian
insaniii… Musim kemarau, tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai
jauuuhh…
PEDAGANG 2 : Nha kalau lagu ini, baru nikmat rasanya.”
7.
Sosial
Dalam novel Sang Pengamen karya Dulrokhim terdapat
masaah-masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat. Hal tersebut penulis
jelaskan di bawah ini.
a. Masalah
Pencurian
Diceritakan ada seorang pemuda yang mencuri sepeda
milik ayah Sang Pengamen. Ternyata perbuatan itu dilakukan untuk membeli
minuman keras. Namun tidak lama kemudian ia ditangap polisi. Kejadian tersebut
marak terjadi di lingkungan masyarakat.
“Beberapa saat setelah IBU,
BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang PEMUDA yang mencurigakan. Ia menengok ke kanan dan
ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa aman, PEMUDA tersebut memebawa sepeda
yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan. Ia lalau memacu kencang sepeda satu-satunya
milik sang BAPAK”
“POLISI 1 : Itu namanya mencuri. Untuk apa sepeda itu?
Jawab yang jujur!
PEMUDA : Mau saya jual Pak.
POLISI 1 : Dijual? Untuk apa?
PEMUDA : Buat beli minuman keras Pak.
POLISI 1 : Dasar pemabuk. (Mengambil kertas di
atas mesin ketik). Sudah tanda tangani Berita Acara Pemeriksaan ini.”
b. Pengamen
yang Terjaring Petugas Satpol PP dan Polisi
Di dalam masyarakat, kita sering menjumpai pengemis,
pengamen, gelandangan, yang terjaring razia oleh petugas SatPol PP dan polisi
untuk nantinya di bawa ke panti sosial untuk di beri pengarahan.
“Tiba-tiba muncul seorang POLISI dan dua
petugas SATPOL PAMONG PRAJA
POLISI 2 : Itu pengamennya. Tangkap dia !! ( Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN : Lho? Ada apa ini?
Apa salah saya?
POLISI 2 : Sudah jangan banyak bicara! Ayo ke Kantor Polisi
!
PENGAMEN : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya! Tolooong… saya
tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolooong…!
Sang PENGAMEN ditangkap, dibawa ke Kantor
Polisi.”
c. Pengorbanan
menjadi Pengamen
Menjadi seorang pengamen bukanlah keinginan semua orang. Namun karena
keadaan memaksakan seseorang menjadi pengamen. Hal ini juga terjadi pada tokoh
Rahman (Sang Pengamen) untuk membantu kedua orang tuanya membiayai sekolah, ia
rela menjadi pengamen. Walaupun kadang kala mendapat hujatan dari orang-orang.
Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
“Seorang siswa berseragam SMP, putih biru, mengenakan topi biru, membawa
tas di punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak berapa lama, ia keluar dari WC
dengan pakaian ala pengamen, celana levi’s sobek, berkaos oblong. Di tangannya
menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang kawat dari besi melingkari
leher yang tersambung dengan harmonica tepat di depan mulutnya. Ia lalu
mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar kecilnya sambil mulutnya
meniup harmonika.
Baru
sesaat bermain musik, PENGAMEN tadi diusir seorang pedagang.
PEDAGANG 1 : Eit, baru buka dasar. Belum ada
receh. Yang lain saja dulu ya!
PENGAMEN tersebut menghentikan
bermain musiknya. Ia berjalan ke pedagang di sebelahnya.
PEDAGANG 2 : Kalau main musik yang benar. Jangan asal bunyi. Aku minta
lagu keroncong ya!”
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan data, penulis dapat
menarik beberapa kesimpulan bahwa dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim terdapat beberapa aspek yaitu
terdapat dalam masyarakat diantaranya kekerabatan, cinta kasih, agama,
pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
Aspek kekerabatan terjadi pada beberapa tokoh antara
lain hubungan kekerabatan anatara tokoh Sang Pengamen dengan Ibunya, dengan
Ayahnya, dengan ketiga temannya yaitu, Dewi, Wulan dan Duta. Hubungan
kekerabatan tersebut terjalin begitu baik.
Aspek cinta kasih terdapat pada beberapa tokoh. Cinta
kasih seorang anak kepada ayahnya, cinta kasih anak kepada ibunya, cinta kasih
seorang ibu kepada anaknya, dan cinta
kasih seorang ayah kepada anaknya.
Aspek Ekonomi dalam naskah drama Sang
Pengamen yaitu bermacam-macam profesi, ada yang menjadi pedagang, pengamen,
pemulung, pencuri, dan juga polisi. Namun sebagian besar masyarakatnya adalah
dari golongan perekonomian menengah ke bawah.
Aspek Agama yang terjadi dalam naskah drama yaitu keluarga Pengamen
adalah keluarga yang taat beribadah. Walaupun keadaan keluarganya yang serba
kekurangan, namun mereka tetap menjalankan kewajibannya yaitu sholat.
Aspek Pendidikan diceritakan dalam naskah drama bahwa terdapat beragam
pendidikan pada tokoh-tokohnya. Pengamen dan ketiga temannya sedang menempuh
pendidikan ditingkat SMP. Sedangkan orang tua pengamen berpendidikan rendah
terbukti mereka hanyalah sebagi pemulung.
Aspek Budaya juga terdapat dalam naskah drama yaitu yaitu kesenian
menyanyikan lagu jawa. Ketika mengamen Sang Pengamen mahir dalam memainkan alat
musik dan juga menyanyikan lagu jawa, yaitu keroncong “Bengawan Solo” ciptaan Gesang.
Aspek sosial yang terdapat dalam naskah yaitu fenomena-fenomena yang
sering kita jumpai dalam masyarakat seperti masalah pencurian, pengamen yang
terjaring razia, dan lain sebagainya.
Dari berbagai aspek sosial yang terdapat dalam naskah
drama Sang Pengamen karya Dulrokhim, mulai dari aspek kekerabatan, cinta kasih,
agama, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan politik kesemuanya itu sering
kita jumpai dalam masyarakat yang merupakan cerminan dalam kehidupan
bermasyarakat.
A.
Saran
Bagi pembaca agar penelitian ini menjadi media untuk
meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra, sehingga memberi makna atau
menilai karya sastra khususnya novel. Selain itu, naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim layak
dibaca karena dalam novel tersebut pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah
tetntang kehidupan sosial yang berada di lingkungan masyarakat.
Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dewojati, Cahyaningrum. 2012. Drama
(Sejarah, Teori dan Penerapannya). Yogyakarta: Javakarsa Media.
Dulrokhim.
2013. Bulan Ranai (Antologi Enam Drama Remaja).
Yogyakarta: Elmatera.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi
Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Faruk. 2014. Pengantar Sosiologi
Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saputra, Marliyan Eko. 2009. “Tinjauan Sosiologi Sastra Novel 5 cm Karya
Dhonny Dhirgantoro Serta Kemungkinan Pembelajarannya di SMA”. Purworejo:
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Setyorini, Yully.
2012. “Analisis Sosiologi Sastra Novel Dalam
Mihrab Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dan Skenario Pembelajarannya di
Kelas XI SMA”. Purworejo: Skripsi. Universitas Muhammadiya Purworejo.
Widyahening, Ch. Evy Tri, dkk. 2012. Kajian
Drama. Surakarta: Cakrawala Media.

No comments:
Post a Comment