Pada dasarnya isi teks biografi bersifat
faktual sehingga disebut biografi faktual/nonfiksi. Oleh karena itu, bahasa
yang digunakan dalam teks biografi
adalah bahasa baku sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Teks biografi menggunakan beberapa kaidah kebahasaan sebagai
berikut.
1.
Menggunakan
pronomina (kata ganti) orang ketiga tunggal ia atau dia atau beliau.
Kata ganti ini digunakan secara
bervarisi dengan penyebutan nama tokoh atau panggilan tokoh.
Berbeda
halnya dengan autobiografi, dalam teks autobiografi yang digunakan yaitu kata
ganti orang pertama (aku, saya).
Contoh:
George Saa, putra Papua sangat menyukai pelajaran
fisika. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi.
Berkat ketekunannya, Si Genius dari Papua ini mendapatkan beasiswa
hingga ke luar negeri. Meski kini telah sukses, Oge, begitu biasanya dia
dipanggil, tetap menjadi pribadi yang ramah dan tidak sombong.
|
2. Banyak
menggunakan kata kerja aksi/tindakan untuk
menjelaskan peristiwa-peristiwa atau perbuatan fisik yang dilakukan oleh tokoh.
Contoh: belajar,
membaca, berjalan, melempar, mengantri, dan lain sebagainya.
Habibie menikah dengan Hasri Ainun Habibie yang
kemudian diboyong ke Jerman. Hidupnya makin keras. Di pagi hari Habibie
terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk
menghemat kebutuhan hidupnya.
Ia pulang pada malam hari dan belajar untuk
kuliahnya. Istinya harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci
baju guna menghemat biaya hidup keluarga
|
3. Banyak
menggunakan kata adjektiva (kata sifat) untuk memberikan informasi secara rinci tentang sifat
atau watak tokoh.
Contoh: genius, rajin, disiplin, ulet.
Dalam melakukan deskripsi, seringkali penggunaan kata
sifat didahului oleh kopulatif adalah, merupakan.
Ayah Ganjar adalah seorang polisi yang sangat disiplin
sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu menanamkan
norma-norma kehidupan kepada anak-anaknya. Ganjar mengikuti sikap disiplin
ayahnya dan berbudi luhur yang diajarkan ibunya. Mereka hidup dalam
lingkungan yang bisa dibilang cukup sederhana.
|
4.
Banyak
menggunakan kata kerja pasif untuk menjelaskan peristiwa yang dialami tokoh
sebagai subjek yang diceritakan.
Contoh: dilalui,
diberi, ditugaskan, dipilih.
Masa kecil Habibie dilalui bersama
saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas dan selalu
memegang prinsip yang diyakini telah ditunjukkan Habibie sejak
kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal
sangat cerdas sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
|
5. Banyak
menggunakan kata kerja yang berhubungan dengan aktivitas mental dalam rangka
penggambaran peran tokoh.
Contoh memahami,
mengobrol,
menyetujui,
menginspirasi, mencintai.
Lantaran
sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering mengobrol dengan para tukang ojek langganannya. Dari hasil
obrolan dan pengamatannya, mereka mengetahui bahwa sebagian besar
waktu kita banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
|
6.
Banyak
menggunakan kata hubung (konjungsi) temporal, yaitu berkenaan dengan urutan waktu.
Contoh: sebelum,
sudah, pada saat, kemudian, selanjutnya,
sampai, hingga, ketika.
Habibie
kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA
kecerdasan beliau dan prestasinya tampak menonjol, terutama dalam
pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.
Atas kecerdasannya, setelah tamat SMA di Bandung tahun 1954, beliau
masuk ke ITB (Institut Teknologi Bandung).
|
SUMBER:
1.
Buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK
kelas X Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016 (Wajib).
2.
Buku Tata Bahasa Indonesia.

No comments:
Post a Comment