Sunday, May 10, 2020

KAJIAN INTERTEKSTUAL CERPEN


KAJIAN INTERSTEKTUAL
CERPEN KALAU SEMUA WANITA JELEK
KARYA TERE LIYE DAN KUPU-KUPU SEGERA TERBANG
KARYA PRIMADITA HERDIANTI



ABSTRAK
Kajian Intertekstual cerpen Kalau Semua Wanita Jelek karya Tere Liye (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang karya Primadita Herdianti (2013) bertujuan untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra yang menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu dan karya sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur maupun gaya. Cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) sebagai teks hipogram, sedangkan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) sebagai transformasi. Kedua cerpen tersebut memiliki kesamaan pada konflik cerita. Perbedaan antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012)  dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) yaitu dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012 tokoh utama pada akhir cerita akhirnya bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang pada akhir cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya. Hubungan intertekstual antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) adalah hubungan perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya.

A.      PENDAHULUAN
Sebuah karya sastra tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaannya, termasuk didalamnya situasi sastra (Teeuw, 1980 dalam Rachmat; 2000). Karya sastra mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini dapat berupa persamaan atau pertentangan.
Perbandingan di sini diartikan sebagai upaya untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu dan karya sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur, maupun gaya. Dalam karya sastra Indonesia modern sebelum sebelum kemerdekaan realitas menunjukkan adanya angkatan Pujangga Baru sudah menerapkan teori intertekstual dalam karya sezamannya Kalau semua Wanita Jelek (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013).
Keistimewaan cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) tidak lagi menggunakan kalimat yang panjang-panjang, melainkan menggunkan kalimat yang sederhana, bahasanya pun mudah dipahami. Namun, alur ceritanya penuh dengan misteri, sehingga pembaca dibuat penasaran dengan peristiwa-peristiwa yang ada dalam  cerita tersebut.
Keistimewaan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti yaitu cerpen tersebut merupakan salah satu cerpen yang masuk kategori cerpen terbaik dalam lomba penulisan esai dan cerpen bagi remaja DIY tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cerpen tersebut juga sudah dibukukan dalam kumpulan esai dan cerpen Burung-Burung Kertas.
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin membuktikan bahwa prinsip intertekstual dapat diterapkan secara efektif pada karya sastra Indonesia modern Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti adalah khusus mengenai konflik batin tokoh utama karena ketidaksempurnaan fisiknya. Pendekatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu psikologi sastra. Pendekatan ini digunakan mengingat konflik batin yang dialami tokoh utama dalam kedua cerpen sangatlah dominan.
Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Pengarang akan menangkapgejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya (Endraswara, 2006: 96). Karya sastra dan psikologi memiliki hubungan yang sangat erat, secara tidak langsung dan fungsional Pertautan tidak langsung, karena baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia.
Perbandingan suatu karya sastra sering dinamakan intertekstual  yang merupakan kajian terhadap sejumlah karya sastra, yang diprediksi memiliki hubungan, baik berbentuk struktur karya sastra tema cerita, fakta cerita, ataupun sarana sastranya. Kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul kemudian. Adapun tujuan intertekstual adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya sastra tersebut. pemunculan atau penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsure kesejarahannya, sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-65).
Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya sastra ditulis, tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya termasuk semakin konvensi dan tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks sastra yang ditulis sebelumnya. Adapun sebagai contoh, para pengarang angkatan Balai Pustaka menulis novel, karena di masyarakat sastra lama sudah ada hikayat, pengarang menulis cerpen karena sastra lama sudah tampil dongeng terlebih dahulu. Puisi satra Indonesia modern tampil setelah ada puisi-puisi lama seprti pantun, syair, gurindam, talibun, karmina dan seloka. Angkatan Pujangga Baru juga terpengaruh angkatan 1880-an di Negara Belanda karena pengarang Indonesia telah berguru bersama pengarang Belanda ketika di zaman penjajahan Belanda di Indonesia.
Karya sastra yang ditulis kemudian atau belakangan, biasanya mendasar-kan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara meneruskan maupun menyimpangi (menolak, memutarbalikan esensi) konvensi. Riffatere (dalam Teeuw, 1983: 64-65) menyatakan bahwa karya sastra selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya yang secara konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal itu, sekali lagi, menunjukkan keterkaitan suatu karya dari karya-karya yang melatarbelakanginya.
Karya-karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram (Riffatere, 1980: 23). Istilah hipogram dapat diindonesiakan menjadi latar yaitu dasar, walaupun mungkin berupa penerusan konvensi sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks-teks sebelumnya (Teeuw, 1983: 65). Dalam istilah lain, penerusan tradisi dapat juga disebut mitos pengukuhan (myth of concern), sedang tradisi sebagai mitis pemberontakan (myth of freedom) Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “wajib” hadir dalam penulisan teks sastra, sesuai dengan hakikatnya sastra itu selalu dalam ketegangan antara konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan (Nurgiyantoro, 2010: 51)
Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya-karya sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual, misalnya melalui pengontrasan antara sebuah karya dengan karya-karya lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram dalam suatu karya,hal itu mungkin disadari juga tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya meneruskan atau sebaliknya menolak. Hipogram karya sastra meliputi: (1) ekspansi, yaitu perluasan atau pengembangan karya; (2) konvensi adalah pemutarbalikan hipogram atau matriknya; (3) modifikasi adalah perubahan tataran linguistik manipulasi urutan kata dan kalimat; (4) ekserp adalah semacam intisari dari unsur atau episode dalam hipogram yang disadap oleh pengarang. Penelitian intertekstual merupakan pemahaman sastra sebagai sebuah Presupsition, yakni sebuah perkiraan bahwa suatu teks baru mengandung teks lain sebelumnya.
Masalah hipogram karya sebagai dasar penulisan pengarang yang kemudian, Julia Kristeva (dalam Culler, 1977: 139), mengemukakan bahwa tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks yang lain. Hal ini berarti bahwa tiap teks yang lebih kemudian mengambil unsur-unsur tertentu yang dipandang baik dari teks-teks sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan, berdasarkan kreativitas dan konsep estetiknya sendiri.
Unsur-unsur ambilan sebuah teks dari teks-teks hipogramnya yang mungkin berupa kata, sintagma, model bentuk, gagasan, atau berbagai unsur intrinsik yang lain, tetapi dapat pula berupa sifat kontradiksinya, dapat menghasilkan sebuah karya yang baru sehingga karenanya orang mungkin tidak mengenal atau bahkan melupakan hipogramnya (Riffaterre, 1980: 165). Hipogram tidak akan lengkap, melainkan hanya bersifat parsial, yang berwujud tanda-tanda teks atau pengaktualisasian unsur-unsur tertentu ke dalam bentuk-bentuk tertentu. Pengambilan bentuk-bentuk itu, atau derivasi bentuk-bentuk teks yang ditransformasikan itu, dapat hanya berupa varian leksikal, denotasi, dan konotasi, pilihan paradigmatic kata-kata atau pemakaian sinonim.
Prinsip intertekstual yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai rekasi, penyerapan atau transformasi dari karya-karya yang lain. Masalah intertekstual lebih dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik teks fiksi maupun puisi.
Penelitian ini membatasi pada kajian terhadap cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti dengan alasan menampilkan tokoh utama yang selalu dihina akibat ketidaksempurnaan fisiknya. Jika dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) mengangkat cerita seorang anak perempuan yang bertubuh gendut dan ia selalu diejek oleh teman-temannya. Adapun cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) mengangkat cerita seorang anak perempuan yang tidak bisa mendengar (tuna rungu) yang selalu mendapat ejekan dari teman-temannya.
Data berupa kata, frasa, kalimat yang mengandung informasi yang berkaitan kajian intertekstual dalam cerpen yang menjadi objek penulisan makalah. Data dicatat dalam kartu data dan diklasifikasikan sesuai dengan informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Analisis data dengan teknik deksriptif kualitatif untuk menemukan adanya intertekstual, melalui hipogram dan transformasi teks karya sastra.

B.       PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat teks hipogram dan teks transformasi antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013). Cerpen yang menjadi teks hipogram yaitu, Kalau semua Wanita Jelek (2012), sedangkan yang menjadi transformasi yaitu Kupu-kupu Segera Terbang (2013). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikologi sastra. Pendekatan ini digunakan karena dalam kedua cerpen ini sarat akan masalah-masalah yang menimbulkan tokoh utama mengalami konflik batin karena karena selalu diejek oleh teman-temannya akibat ketidaksempurnaan fisiknya.
Dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012), diceritakan tokoh utama bernama Jo yang mempunyai fisik begitu lebar (gendut). Jo mempunyai badan yang gendut, sehingga ia sering menjadi bahan olok-olokan temannya.
“Alkisah ada anak perempuan bertubuh gendut. Saking gendutnya ia sering dijadikan bahan olok-olok oleh temannya. Dagunya besar, lehernya tidak kelihatan. Betis, paha dan lengannya jumbo” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 127).

Jo digambarkan sebagai anak perempuan yang mempunyai badan yang gendut. Betis, paha, dan lengannya juga terlihat sangat besar. Dengan fisik yang demikian, teman-temanya selalu mengolok-olok Jo. Mereka selalu mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung hati Jo. Tiada hari tanpa mengejek Jo. Bagi mereka melihat Jo terpojokkan adalah suatu kebahagiaan bagi mereka.
Suatu hari Jo sedang naik angkot hendak pergi ke sekolah. Di dalam angkot tersebut juga ada teman-temannya yang biasanya selalu mengejek Jo.
“Si gendut menelan ludah. Hatinya sebal sekali, sementara semua penumpang memperhatikan mereka. Ia berusaha tidak menanggapi, tapi tiga teman sekolahnya ini sengaja benar memancing” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 127).

Walaupun Jo selalu diejek karena fisiknya yang begitu lebar, ia mencoba selalu bersabar. Ia memilih diam, daripada harus meladeni perkataan teman-temannya itu. Baginya diam lebih baik, walaupun terkadang memang kenyataan itu sulit ia terima, tetapi ia selalu berusaha menerima dengan hati yang ikhlas.
Tidak hanya ketika Jo masih duduk di bangku SMA, ketika ia sudah bekerja di biro perjalanan ejekan-ejekan “si gendut” masih saja sering terdengar di telinganya. Bahkan, yang lebih menyakitkan, customer yang menjadi pelangganya mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Jo begitu sakit.
“Di tengah-tengah situasi tegang, ada customer yang marah-marah, mendengar frase gajah jumbo dan paus bunting keluar, staf ticketing lain yang sejak tadi menonton sontak menahan tawa” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 131).

Jo hanya bisa bersabar menerima cacian dari pelanggannya. Walaupun hatinya sebenarnya ingin marah kepada pelangganya, tetapi ia tak bisa melawannya. Ia takut pelangganya akan kabur dan tidak mau lagi memesan tiket di biro perjalanan tempat ia bekerja. Cacian dari pelanggan, Jo terima dengan lapang dada. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya jika sampai direktur perusahaannya tahu kalau ia marah-marah pada pelanggannya.
Lama-kelamaan Jo tidak tahan akan ejekan dari orang-orang di sekeliling-nya yang mengatakan bahwa ia adalah perempuan jumbo (gendut). Hingga ia melakukan perbuatan yang nekat yaitu melakukan diet tanpa terkendali hingga berat badannya turun separuh. Namun, hal itu hanya bertahan beberapa minggu, sebelum ia terbaring di ranjang rumah sakit. Lalu, ketika ia sembuh tubuhnya kembali membesar tanpa kendali.
Melihat sahabatnya melakukan perbuatan yang bisa membahayakan dirinya sendiri, Vin teman Jo berusaha menasehati Jo bahwa, apa yang telah ia lakukan adalah salah.
“Vin memegang tangan Jo, “Tuhan tidak pernah memberikan definisi kecantikan. Astaga, Jo, lancing sekali barusan kau bilang kalau ini tidak adil. Aku sampai merinding mendengarnya (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 136).

Vin adalah sahabat terbaik Jo. Walaupun terkadang ia juga sering meledek Jo, tetapi ia adalah teman yang selalu member dukungan dan semangat kepada Jo agar jangan menghiraukan apa yang dikatakan orang lain. Menurut Vin, bahwa Tuhan tidak memandang kecantikan seseorang itu hanya dari fisiknya saja, melainkan juga hatinya.
Berkat dukungan dari sahabatnya itu, Jo akhirnya menyadari bahwa kecantikan itu pada hakikatnya bukan dari fisik semata, melainkan dari hatinya. Wanita akan terlihat cantik jika dari dalam hatinya terpencar suatu ketulusan yang ikhlas dan mampu membahagiakan orang-orang disekelilingnya. Oleh sebab itu, ia berusaha untuk tidak marah ataupun bersedih ketika orang lain menghinanya. Sebab, kecantikan itu tumbuh bukan dari fisik yang sempurna, melainkan dari hati yang tulus.
Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) menggambarkan tokoh utama bernama Nana yang tidak bisa mendengar. Ia adalah gadis yang tidak sempurna. Terkadang ia marah-marah pada ibunya sendiri karena ibunya tidak mengerti apa yang diinginkan Nana. Tidak hanya itu, perlakuan teman-teman yang selalu menghinanya membuat dirinya terkadang tak kuat menanggung takdir yang yang terjadi pada dirinya.
“Kuakui kadang aku frustasi. Sulit membuat orang bisa mengerti isi hati. Ibu yang melahirkanku pun pernah kubuat karena marahku yang berlebihan.aku mengamuk memecahkan barang-barang. Tangan ibu sampai berdarah, terluka terkena pecahan kaca. Aku menyesal melihatnya, tapi saat itu hatiku pun sedang berdarah-darah. Terluka oleh kedaan diriku sendiri” Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 148)

Terkadang Nana merasa frustasi terhadap apa yang telah menimpa dirinya. Tuna rungu yang dideritanya sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya. Ibunya terkadang menjadi pelampiasan kemarahannya. Walaupun sebenarnya ia tak bermaksud melukai hati ibunya. Terkadang apa yang ia inginkan ibunya tidak mengerti, hal itulah yang terkadang membuat Nana marah pada ibunya.
Terlahir menjadi seseorang yang mempunyai keterbatasan bukanlah kemauan orang manapun. Semua orang tentunya menginginkan fisik yang sempurna. Namun, berbeda halnya dengan Nana, sejak kecil ia telah terlahir sebagai tunarungu. Ketidaksempurnaannya itu membuat  teman-temannya selalu mengejekknya.
“Kau selalu menertawaiku, menjadikanku bulanan ejekan yang tak bisa kudengar namun sangat tajam kurasakan. Begitu menusuk! Kau menganggapku bodoh dan tak bosan mempermainkanku” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 149).

Batin Nana begitu sakit ketika mendengar ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh teman-temanya. Teman-teman Nana selalu menertawakan-nya karena Nana tidak sesempurna mereka. Bagi mereka Nana adalah anak yang bisa dipermainkan sesuka hatinya selama mereka bisa bahagia.
Sejak kecil Nana hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal. Hal itulah yang kadang membuat Nana bersedih. Jika ayahnya masih hidup, tentu saja ia bisa berbagi keluh kesah pada ayahnya. kini hanya ibunya lah yang selalu setia menemani Nana. Ibunya lah yang selalu mendampingi Nana ketika Nana hatinya terguncang akibat ulah teman-temannya.
Suatu hari ketika Nana sedang ditinggal ibunya pergi, ia hanya tinggal seorang diri di rumahnya. Dari balik jendela terlihat seorang anak kecil bernama Igo yang hendak mencuri jambu milik tetangganya. Igo adalah anak yang selalu mengejek Nana. Setiap bertemu Nana pasti ia selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Nana sakit. Tiba-tiba Igi terjatuh dari pohon jambu. Nana hanya bisa melihat Igo dari balik jendela.
“Aku masih di balik jendela tegang memandang ke seberang. Ini sudah terlalu lama. Aku merasakan ada yang tak beres. Jangan-jangan kau celaka. Jatuhmu cukup tinggi. Aku bisa saja datang menolongmu. Namun, aku bimbang,  bukankah aku adalah orang yang paling ingin kau celaka. Lalu, kenapa kini aku mengkhawatirkanmu?” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 152).

Melihat Igo terjatuh, Nana segera menghampiri Igo yang sudah terkapar tak sadarkan diri di bawah pohon jambu. Lukanya kelihatan parah hingga ia tak sadarkan diri. Awalnya Nana ragu hendak menolong Igo. Sebab, Igo lah yang selalu membuatnya menangis. Igo lah yang selalu mengejeknya. Namun, melihat kondisi Igo yang begitu mengenaskan, akhirnya Nana membawa Igo ke rumah sakit. Ada perasaan bimbang dalam hati Nana, di satu sisi ia kasihan melihat Igo yang kondisinya mengenaskan, di sisi lain ia begitu jengkel setiap kali mengingat perlakuan Igo kepadanya.
Sesampainya di rumah sakit, Igo tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana. Ia juga meminta maaf pada Nana akan apa yang telah dilakukan pada Nana selama ini. Begitu pun dengan orang tua Igo, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana.
“Terima kasih. Berkali-kali kau ucapkan padaku. Aku mengangguk saja ibu masih tampak bicara dengan orang tuamu. Sebentar lagi kau pulang setelah dua minggu di rumah sakit. Kata yang sama juga diucapkan pula oleh kedua orang tuamu” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 153).

Mendengar permintaan maaf dari Igo, hati Nana kembali bimbang. Hal itu bukan tanpa alasan, karena selama ini ia sudah cukup puas bersedih akan perlakuan Igo pada dirinya. Hampir setiap hari kata “si budeg” selalu bersandar di telinganya. Igo selalu mengejek ketidaksempurnaan Nana. Namun, setelah melihat ketulusan Igo, akhirnya Nana memafkannya. Dengan hati yang begitu tulus akhirnya Nana bisa menerima Igo menjadi sahabatnya. Anak yang dahulu menghinanya, kini terkagum-kagum pada ketulusan hati Nana. Walaupun Nana mempunyai kekurangan, tetapi ia juga dianugerahi hati yang lembut, budi pekerti yang luhur dan tidak menjadi seseorang yang pendendam.

C.      SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam prinsip intertekstual apa yang dilakukan oleh tokoh utama dalam kedua cerpen tersebut menunjukkan bahwa cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti mempunyai kesamaan pada konflik ceritanya. cerpen Kalau semua Wanita Jelek sebagai teks hipogramnya, karena telah terbit terdahulu pada tahun 2012, dibandingkan dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang karya Primadita Herdianti pada tahun 2013. Pada karya Tere Liye menjelaskan masalah yang dihadapi oleh seorang anak bernama Jo yang selalu dihina oleh teman-temannya karena ia mempunyai fisik yang lebar, sedangkan dalam cerpen Kupu-kupu Segera Terbang cerita yang disuguhkan yaitu tokoh utama bernama Nana yang selalu dihina temannya karena ia terlahir sebagai gadis tuna rungu.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara cerpen cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti. Persamannya, dalam kedua cerpen tersebut diceritakan konflik yang dihadapi seorang anak perempuan yang selalu dihina oleh teman-temannya akibat ketidaksempurnaan fisiknya. Sementara itu, perbedaanya  dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek tokoh utama pada akhir cerita akhirnya bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang, pada akhir cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya.
 Jadi hubungan intertekstual antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) adalah hubungan perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere Liye.




DAFTAR PUSTAKA

Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2013. Burung-burung Kertas (Antologi Esai dan Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Esai dan Cerpen bagi Remaja DIY Tahun 2013). Yogyakarta: Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Culler Jonathan, 1977. Structuralist Poetics, Structualism, Linguistic, and the study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra. Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riffaterre, Michael. 1980. Semiotic of Poetry. London: Metheun & Co Ltd.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Liye, Tere. 2012. Sepotong Hati yang Baru. Jakarta: Mahaka Publishing.








No comments:

Post a Comment

TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...