KAJIAN INTERSTEKTUAL
CERPEN KALAU SEMUA WANITA JELEK
KARYA TERE LIYE DAN KUPU-KUPU SEGERA TERBANG
KARYA PRIMADITA HERDIANTI
ABSTRAK
Kajian
Intertekstual cerpen Kalau Semua Wanita
Jelek karya Tere Liye (2012) dan Kupu-kupu
Segera Terbang karya Primadita Herdianti
(2013) bertujuan untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra yang
menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu
dan karya sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur maupun gaya.
Cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012)
sebagai teks hipogram, sedangkan Kupu-kupu
Segera Terbang (2013) sebagai transformasi. Kedua cerpen
tersebut memiliki kesamaan pada konflik cerita. Perbedaan antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012)
dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) yaitu dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012 tokoh utama pada akhir cerita akhirnya
bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang pada akhir
cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya. Hubungan intertekstual antara
cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) adalah hubungan
perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu
Segera Terbang
(2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere
Liye. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah
metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang
digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala,
peristiwa, kejadian sebagaimana adanya.
A.
PENDAHULUAN
Sebuah karya sastra tidak lahir
dalam situasi kosong kebudayaannya, termasuk didalamnya situasi sastra (Teeuw,
1980 dalam Rachmat; 2000). Karya sastra mempunyai hubungan sejarah antara karya
sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini dapat
berupa persamaan atau pertentangan.
Perbandingan di sini diartikan
sebagai upaya untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra menunjukkan
persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu dan karya
sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur, maupun gaya. Dalam karya
sastra Indonesia modern sebelum sebelum kemerdekaan realitas menunjukkan adanya
angkatan Pujangga Baru sudah menerapkan teori intertekstual dalam karya
sezamannya Kalau semua Wanita Jelek
(2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang
(2013).
Keistimewaan cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) tidak
lagi menggunakan kalimat yang panjang-panjang, melainkan menggunkan kalimat
yang sederhana, bahasanya pun mudah dipahami. Namun, alur ceritanya penuh
dengan misteri, sehingga pembaca dibuat penasaran dengan peristiwa-peristiwa
yang ada dalam cerita tersebut.
Keistimewaan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya
Primadita Herdianti yaitu cerpen tersebut merupakan salah satu cerpen yang
masuk kategori cerpen terbaik dalam lomba penulisan esai dan cerpen bagi remaja
DIY tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Cerpen tersebut juga sudah dibukukan dalam kumpulan esai dan cerpen
Burung-Burung Kertas.
Dalam penulisan makalah ini penulis
ingin membuktikan bahwa prinsip intertekstual dapat diterapkan secara efektif
pada karya sastra Indonesia modern Kalau
semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti adalah khusus mengenai konflik
batin tokoh utama karena ketidaksempurnaan fisiknya. Pendekatan yang akan
dilakukan dalam penelitian ini yaitu psikologi sastra. Pendekatan ini digunakan
mengingat konflik batin yang dialami tokoh utama dalam kedua cerpen sangatlah
dominan.
Psikologi sastra adalah kajian
sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan
menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Pengarang akan
menangkapgejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan
kejiwaannya (Endraswara, 2006: 96). Karya sastra dan psikologi memiliki
hubungan yang sangat erat, secara tidak langsung dan fungsional Pertautan tidak
langsung, karena baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu
kehidupan manusia.
Perbandingan suatu karya sastra
sering dinamakan intertekstual yang
merupakan kajian terhadap sejumlah karya sastra, yang diprediksi memiliki
hubungan, baik berbentuk struktur karya sastra tema cerita, fakta cerita,
ataupun sarana sastranya. Kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek
tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul
kemudian. Adapun tujuan intertekstual adalah untuk memberikan makna secara
lebih penuh terhadap karya sastra tersebut. pemunculan atau penulisan sebuah
karya sering ada kaitannya dengan unsure kesejarahannya, sehingga pemberian
makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw,
1983: 62-65).
Kajian intertekstual berangkat dari
asumsi bahwa kapan pun karya sastra ditulis, tidak mungkin lahir dari situasi
kekosongan budaya. Unsur budaya termasuk semakin konvensi dan tradisi di
masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks sastra yang ditulis
sebelumnya. Adapun sebagai contoh, para pengarang angkatan Balai Pustaka
menulis novel, karena di masyarakat sastra lama sudah ada hikayat, pengarang
menulis cerpen karena sastra lama sudah tampil dongeng terlebih dahulu. Puisi
satra Indonesia modern tampil setelah ada puisi-puisi lama seprti pantun,
syair, gurindam, talibun, karmina dan seloka. Angkatan Pujangga Baru juga
terpengaruh angkatan 1880-an di Negara Belanda karena pengarang Indonesia telah
berguru bersama pengarang Belanda ketika di zaman penjajahan Belanda di
Indonesia.
Karya sastra yang ditulis kemudian
atau belakangan, biasanya mendasar-kan diri pada karya-karya lain yang telah
ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara
meneruskan maupun menyimpangi (menolak, memutarbalikan esensi) konvensi.
Riffatere (dalam Teeuw, 1983: 64-65) menyatakan bahwa karya sastra selalu
merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya
yang secara konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal itu, sekali
lagi, menunjukkan keterkaitan suatu karya dari karya-karya yang
melatarbelakanginya.
Karya-karya sastra yang dijadikan
dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram (Riffatere,
1980: 23). Istilah hipogram dapat diindonesiakan menjadi latar yaitu dasar,
walaupun mungkin berupa penerusan konvensi sesuatu yang telah bereksistensi,
penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks-teks
sebelumnya (Teeuw, 1983: 65). Dalam istilah lain, penerusan tradisi dapat juga
disebut mitos pengukuhan (myth of concern),
sedang tradisi sebagai mitis pemberontakan (myth
of freedom) Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “wajib”
hadir dalam penulisan teks sastra, sesuai dengan hakikatnya sastra itu selalu
dalam ketegangan antara konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan
(Nurgiyantoro, 2010: 51)
Adanya karya-karya yang
ditransformasikan dalam penulisan karya-karya sesudahnya ini menjadi perhatian
utama kajian intertekstual, misalnya melalui pengontrasan antara sebuah karya
dengan karya-karya lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram
dalam suatu karya,hal itu mungkin disadari juga tidak disadari oleh pengarang.
Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya, mungkin berwujud
dalam sikapnya meneruskan atau sebaliknya menolak. Hipogram karya sastra
meliputi: (1) ekspansi, yaitu perluasan atau pengembangan karya; (2) konvensi
adalah pemutarbalikan hipogram atau matriknya; (3) modifikasi adalah perubahan
tataran linguistik manipulasi urutan kata dan kalimat; (4) ekserp adalah
semacam intisari dari unsur atau episode dalam hipogram yang disadap oleh
pengarang. Penelitian intertekstual merupakan pemahaman sastra sebagai sebuah
Presupsition, yakni sebuah perkiraan bahwa suatu teks baru mengandung teks lain
sebelumnya.
Masalah hipogram karya sebagai
dasar penulisan pengarang yang kemudian, Julia Kristeva (dalam Culler, 1977:
139), mengemukakan bahwa tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan,
tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks yang lain. Hal
ini berarti bahwa tiap teks yang lebih kemudian mengambil unsur-unsur tertentu
yang dipandang baik dari teks-teks sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya
sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan, berdasarkan
kreativitas dan konsep estetiknya sendiri.
Unsur-unsur ambilan sebuah teks
dari teks-teks hipogramnya yang mungkin berupa kata, sintagma, model bentuk,
gagasan, atau berbagai unsur intrinsik yang lain, tetapi dapat pula berupa
sifat kontradiksinya, dapat menghasilkan sebuah karya yang baru sehingga
karenanya orang mungkin tidak mengenal atau bahkan melupakan hipogramnya
(Riffaterre, 1980: 165). Hipogram tidak akan lengkap, melainkan hanya bersifat
parsial, yang berwujud tanda-tanda teks atau pengaktualisasian unsur-unsur
tertentu ke dalam bentuk-bentuk tertentu. Pengambilan bentuk-bentuk itu, atau
derivasi bentuk-bentuk teks yang ditransformasikan itu, dapat hanya berupa
varian leksikal, denotasi, dan konotasi, pilihan paradigmatic kata-kata atau
pemakaian sinonim.
Prinsip intertekstual yang utama
adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu
diprediksikan sebagai rekasi, penyerapan atau transformasi dari karya-karya
yang lain. Masalah intertekstual lebih dari sekedar pengaruh, ambilan, atau
jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh
dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik teks
fiksi maupun puisi.
Penelitian ini membatasi pada
kajian terhadap cerpen Kalau semua Wanita
Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu
Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti dengan alasan
menampilkan tokoh utama yang selalu dihina akibat ketidaksempurnaan fisiknya.
Jika dalam cerpen Kalau semua Wanita
Jelek (2012) mengangkat cerita seorang anak perempuan yang bertubuh gendut
dan ia selalu diejek oleh teman-temannya. Adapun cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) mengangkat cerita seorang anak perempuan
yang tidak bisa mendengar (tuna rungu) yang selalu mendapat ejekan dari
teman-temannya.
Data berupa kata, frasa, kalimat
yang mengandung informasi yang berkaitan kajian intertekstual dalam cerpen yang
menjadi objek penulisan makalah. Data dicatat dalam kartu data dan
diklasifikasikan sesuai dengan informasi yang berhubungan dengan masalah yang
diteliti. Analisis data dengan teknik deksriptif kualitatif untuk menemukan
adanya intertekstual, melalui hipogram dan transformasi teks karya sastra.
B.
PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, terdapat teks hipogram dan teks transformasi antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013).
Cerpen yang menjadi teks hipogram yaitu, Kalau
semua Wanita Jelek (2012), sedangkan yang menjadi transformasi yaitu Kupu-kupu Segera Terbang (2013).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikologi sastra.
Pendekatan ini digunakan karena dalam kedua cerpen ini sarat akan
masalah-masalah yang menimbulkan tokoh utama mengalami konflik batin karena karena
selalu diejek oleh teman-temannya akibat ketidaksempurnaan fisiknya.
Dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012), diceritakan tokoh utama bernama Jo
yang mempunyai fisik begitu lebar (gendut). Jo mempunyai badan yang gendut,
sehingga ia sering menjadi bahan olok-olokan temannya.
“Alkisah ada anak perempuan
bertubuh gendut. Saking gendutnya ia sering dijadikan bahan olok-olok oleh
temannya. Dagunya besar, lehernya tidak kelihatan. Betis, paha dan lengannya
jumbo” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012:
127).
Jo digambarkan sebagai anak
perempuan yang mempunyai badan yang gendut. Betis, paha, dan lengannya juga
terlihat sangat besar. Dengan fisik yang demikian, teman-temanya selalu
mengolok-olok Jo. Mereka selalu mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung
hati Jo. Tiada hari tanpa mengejek Jo. Bagi mereka melihat Jo terpojokkan
adalah suatu kebahagiaan bagi mereka.
Suatu hari Jo sedang naik angkot
hendak pergi ke sekolah. Di dalam angkot tersebut juga ada teman-temannya yang
biasanya selalu mengejek Jo.
“Si gendut menelan ludah. Hatinya
sebal sekali, sementara semua penumpang memperhatikan mereka. Ia berusaha tidak
menanggapi, tapi tiga teman sekolahnya ini sengaja benar memancing” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 127).
Walaupun Jo selalu diejek karena fisiknya yang begitu lebar, ia mencoba
selalu bersabar. Ia memilih diam, daripada harus meladeni perkataan
teman-temannya itu. Baginya diam lebih baik, walaupun terkadang memang
kenyataan itu sulit ia terima, tetapi ia selalu berusaha menerima dengan hati
yang ikhlas.
Tidak hanya ketika Jo masih duduk di bangku SMA, ketika ia sudah
bekerja di biro perjalanan ejekan-ejekan “si gendut” masih saja sering
terdengar di telinganya. Bahkan, yang lebih menyakitkan, customer yang menjadi pelangganya mengeluarkan kata-kata yang
membuat hati Jo begitu sakit.
“Di tengah-tengah situasi tegang,
ada customer yang marah-marah, mendengar frase gajah jumbo dan paus bunting
keluar, staf ticketing lain yang
sejak tadi menonton sontak menahan tawa” (Kalau
semua Wanita Jelek, 2012: 131).
Jo hanya bisa bersabar menerima cacian dari pelanggannya. Walaupun
hatinya sebenarnya ingin marah kepada pelangganya, tetapi ia tak bisa
melawannya. Ia takut pelangganya akan kabur dan tidak mau lagi memesan tiket di
biro perjalanan tempat ia bekerja. Cacian dari pelanggan, Jo terima dengan
lapang dada. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya jika sampai direktur
perusahaannya tahu kalau ia marah-marah pada pelanggannya.
Lama-kelamaan Jo tidak tahan akan ejekan dari orang-orang di
sekeliling-nya yang mengatakan bahwa ia adalah perempuan jumbo (gendut). Hingga ia melakukan perbuatan yang nekat yaitu
melakukan diet tanpa terkendali hingga berat badannya turun separuh. Namun, hal
itu hanya bertahan beberapa minggu, sebelum ia terbaring di ranjang rumah
sakit. Lalu, ketika ia sembuh tubuhnya kembali membesar tanpa kendali.
Melihat sahabatnya melakukan perbuatan yang bisa membahayakan dirinya
sendiri, Vin teman Jo berusaha menasehati Jo bahwa, apa yang telah ia lakukan
adalah salah.
“Vin memegang tangan Jo, “Tuhan
tidak pernah memberikan definisi kecantikan. Astaga, Jo, lancing sekali barusan
kau bilang kalau ini tidak adil. Aku sampai merinding mendengarnya (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 136).
Vin adalah sahabat terbaik Jo. Walaupun terkadang ia juga sering
meledek Jo, tetapi ia adalah teman yang selalu member dukungan dan semangat
kepada Jo agar jangan menghiraukan apa yang dikatakan orang lain. Menurut Vin,
bahwa Tuhan tidak memandang kecantikan seseorang itu hanya dari fisiknya saja,
melainkan juga hatinya.
Berkat dukungan dari sahabatnya itu, Jo akhirnya menyadari bahwa
kecantikan itu pada hakikatnya bukan dari fisik semata, melainkan dari hatinya.
Wanita akan terlihat cantik jika dari dalam hatinya terpencar suatu ketulusan
yang ikhlas dan mampu membahagiakan orang-orang disekelilingnya. Oleh sebab itu,
ia berusaha untuk tidak marah ataupun bersedih ketika orang lain menghinanya.
Sebab, kecantikan itu tumbuh bukan dari fisik yang sempurna, melainkan dari
hati yang tulus.
Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013)
menggambarkan tokoh utama bernama Nana yang tidak bisa mendengar. Ia adalah
gadis yang tidak sempurna. Terkadang ia marah-marah pada ibunya sendiri karena
ibunya tidak mengerti apa yang diinginkan Nana. Tidak hanya itu, perlakuan
teman-teman yang selalu menghinanya membuat dirinya terkadang tak kuat
menanggung takdir yang yang terjadi pada dirinya.
“Kuakui
kadang aku frustasi. Sulit membuat orang bisa mengerti isi hati. Ibu yang
melahirkanku pun pernah kubuat karena marahku yang berlebihan.aku mengamuk
memecahkan barang-barang. Tangan ibu sampai berdarah, terluka terkena pecahan
kaca. Aku menyesal melihatnya, tapi saat itu hatiku pun sedang berdarah-darah.
Terluka oleh kedaan diriku sendiri” Kupu-kupu
Segera Terbang, 2013: 148)
Terkadang
Nana merasa frustasi terhadap apa yang telah menimpa dirinya. Tuna rungu yang
dideritanya sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan dengan lingkungan di
sekitarnya. Ibunya terkadang menjadi pelampiasan kemarahannya. Walaupun
sebenarnya ia tak bermaksud melukai hati ibunya. Terkadang apa yang ia inginkan
ibunya tidak mengerti, hal itulah yang terkadang membuat Nana marah pada
ibunya.
Terlahir
menjadi seseorang yang mempunyai keterbatasan bukanlah kemauan orang manapun.
Semua orang tentunya menginginkan fisik yang sempurna. Namun, berbeda halnya
dengan Nana, sejak kecil ia telah terlahir sebagai tunarungu.
Ketidaksempurnaannya itu membuat
teman-temannya selalu mengejekknya.
“Kau
selalu menertawaiku, menjadikanku bulanan ejekan yang tak bisa kudengar namun
sangat tajam kurasakan. Begitu menusuk! Kau menganggapku bodoh dan tak bosan
mempermainkanku” (Kupu-kupu Segera
Terbang, 2013: 149).
Batin
Nana begitu sakit ketika mendengar ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh
teman-temanya. Teman-teman Nana selalu menertawakan-nya karena Nana tidak
sesempurna mereka. Bagi mereka Nana adalah anak yang bisa dipermainkan sesuka
hatinya selama mereka bisa bahagia.
Sejak
kecil Nana hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal. Hal
itulah yang kadang membuat Nana bersedih. Jika ayahnya masih hidup, tentu saja
ia bisa berbagi keluh kesah pada ayahnya. kini hanya ibunya lah yang selalu
setia menemani Nana. Ibunya lah yang selalu mendampingi Nana ketika Nana
hatinya terguncang akibat ulah teman-temannya.
Suatu hari ketika Nana sedang
ditinggal ibunya pergi, ia hanya tinggal seorang diri di rumahnya. Dari balik
jendela terlihat seorang anak kecil bernama Igo yang hendak mencuri jambu milik
tetangganya. Igo adalah anak yang selalu mengejek Nana. Setiap bertemu Nana
pasti ia selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Nana sakit. Tiba-tiba
Igi terjatuh dari pohon jambu. Nana hanya bisa melihat Igo dari balik jendela.
“Aku masih di balik jendela
tegang memandang ke seberang. Ini sudah terlalu lama. Aku merasakan ada yang
tak beres. Jangan-jangan kau celaka. Jatuhmu cukup tinggi. Aku bisa saja datang
menolongmu. Namun, aku bimbang, bukankah
aku adalah orang yang paling ingin kau celaka. Lalu, kenapa kini aku
mengkhawatirkanmu?” (Kupu-kupu
Segera Terbang, 2013: 152).
Melihat Igo terjatuh, Nana
segera menghampiri Igo yang sudah terkapar tak sadarkan diri di bawah pohon
jambu. Lukanya kelihatan parah hingga ia tak sadarkan diri. Awalnya Nana ragu
hendak menolong Igo. Sebab, Igo lah yang selalu membuatnya menangis. Igo lah
yang selalu mengejeknya. Namun, melihat kondisi Igo yang begitu mengenaskan,
akhirnya Nana membawa Igo ke rumah sakit. Ada perasaan bimbang dalam hati Nana,
di satu sisi ia kasihan melihat Igo yang kondisinya mengenaskan, di sisi lain
ia begitu jengkel setiap kali mengingat perlakuan Igo kepadanya.
Sesampainya di rumah sakit,
Igo tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana. Ia juga meminta maaf
pada Nana akan apa yang telah dilakukan pada Nana selama ini. Begitu pun dengan
orang tua Igo, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana.
“Terima kasih. Berkali-kali
kau ucapkan padaku. Aku mengangguk saja ibu masih tampak bicara dengan orang
tuamu. Sebentar lagi kau pulang setelah dua minggu di rumah sakit. Kata yang
sama juga diucapkan pula oleh kedua orang tuamu” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 153).
Mendengar permintaan maaf
dari Igo, hati Nana kembali bimbang. Hal itu bukan tanpa alasan, karena selama
ini ia sudah cukup puas bersedih akan perlakuan Igo pada dirinya. Hampir setiap
hari kata “si budeg” selalu bersandar di telinganya. Igo selalu mengejek
ketidaksempurnaan Nana. Namun, setelah melihat ketulusan Igo, akhirnya Nana
memafkannya. Dengan hati yang begitu tulus akhirnya Nana bisa menerima Igo
menjadi sahabatnya. Anak yang dahulu menghinanya, kini terkagum-kagum pada
ketulusan hati Nana. Walaupun Nana mempunyai kekurangan, tetapi ia juga
dianugerahi hati yang lembut, budi pekerti yang luhur dan tidak menjadi
seseorang yang pendendam.
C.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam prinsip intertekstual apa yang
dilakukan oleh tokoh utama dalam kedua cerpen tersebut menunjukkan bahwa cerpen
Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya
Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang
(2013) karya Primadita
Herdianti mempunyai kesamaan pada konflik ceritanya. cerpen Kalau semua Wanita Jelek sebagai teks
hipogramnya, karena telah terbit terdahulu pada tahun 2012, dibandingkan dengan
cerpen Kupu-kupu Segera Terbang karya
Primadita Herdianti
pada tahun 2013. Pada karya Tere Liye menjelaskan masalah yang dihadapi oleh
seorang anak bernama Jo yang selalu dihina oleh teman-temannya karena ia
mempunyai fisik yang lebar, sedangkan dalam cerpen Kupu-kupu Segera Terbang
cerita yang disuguhkan yaitu tokoh utama bernama Nana yang selalu dihina
temannya karena ia terlahir sebagai gadis tuna rungu.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara cerpen cerpen
Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya
Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang
(2013) karya Primadita
Herdianti. Persamannya, dalam kedua cerpen tersebut diceritakan konflik
yang dihadapi seorang anak perempuan yang selalu dihina oleh teman-temannya
akibat ketidaksempurnaan fisiknya. Sementara itu, perbedaanya dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek tokoh utama pada akhir cerita akhirnya
bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang, pada akhir
cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya.
Jadi hubungan
intertekstual antara cerpen Kalau
semua Wanita Jelek (2012)
dengan cerpen Kupu-kupu Segera
Terbang (2013)
adalah hubungan perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang
(2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere
Liye.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
2013. Burung-burung Kertas (Antologi Esai
dan Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Esai dan Cerpen bagi Remaja DIY Tahun
2013). Yogyakarta: Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Culler Jonathan, 1977. Structuralist Poetics,
Structualism, Linguistic, and the study of Literature. London: Routledge &
Kegan Paul.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra. Metode Kritik dan Penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riffaterre, Michael. 1980. Semiotic of Poetry. London: Metheun & Co Ltd.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Liye, Tere. 2012. Sepotong Hati yang Baru.
Jakarta: Mahaka Publishing.
No comments:
Post a Comment