Sunday, May 10, 2020

KAJIAN INTERTEKSTUAL CERPEN


KAJIAN INTERSTEKTUAL
CERPEN KALAU SEMUA WANITA JELEK
KARYA TERE LIYE DAN KUPU-KUPU SEGERA TERBANG
KARYA PRIMADITA HERDIANTI



ABSTRAK
Kajian Intertekstual cerpen Kalau Semua Wanita Jelek karya Tere Liye (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang karya Primadita Herdianti (2013) bertujuan untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra yang menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu dan karya sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur maupun gaya. Cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) sebagai teks hipogram, sedangkan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) sebagai transformasi. Kedua cerpen tersebut memiliki kesamaan pada konflik cerita. Perbedaan antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012)  dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) yaitu dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012 tokoh utama pada akhir cerita akhirnya bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang pada akhir cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya. Hubungan intertekstual antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) adalah hubungan perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya.

A.      PENDAHULUAN
Sebuah karya sastra tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaannya, termasuk didalamnya situasi sastra (Teeuw, 1980 dalam Rachmat; 2000). Karya sastra mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini dapat berupa persamaan atau pertentangan.
Perbandingan di sini diartikan sebagai upaya untuk mendapatkan pemahaman makna karya sastra menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam satu genre sastra dari yang terdahulu dan karya sastra yang kemudian, baik struktur, pembentuk struktur, maupun gaya. Dalam karya sastra Indonesia modern sebelum sebelum kemerdekaan realitas menunjukkan adanya angkatan Pujangga Baru sudah menerapkan teori intertekstual dalam karya sezamannya Kalau semua Wanita Jelek (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013).
Keistimewaan cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) tidak lagi menggunakan kalimat yang panjang-panjang, melainkan menggunkan kalimat yang sederhana, bahasanya pun mudah dipahami. Namun, alur ceritanya penuh dengan misteri, sehingga pembaca dibuat penasaran dengan peristiwa-peristiwa yang ada dalam  cerita tersebut.
Keistimewaan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti yaitu cerpen tersebut merupakan salah satu cerpen yang masuk kategori cerpen terbaik dalam lomba penulisan esai dan cerpen bagi remaja DIY tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cerpen tersebut juga sudah dibukukan dalam kumpulan esai dan cerpen Burung-Burung Kertas.
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin membuktikan bahwa prinsip intertekstual dapat diterapkan secara efektif pada karya sastra Indonesia modern Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti adalah khusus mengenai konflik batin tokoh utama karena ketidaksempurnaan fisiknya. Pendekatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu psikologi sastra. Pendekatan ini digunakan mengingat konflik batin yang dialami tokoh utama dalam kedua cerpen sangatlah dominan.
Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Pengarang akan menangkapgejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya (Endraswara, 2006: 96). Karya sastra dan psikologi memiliki hubungan yang sangat erat, secara tidak langsung dan fungsional Pertautan tidak langsung, karena baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia.
Perbandingan suatu karya sastra sering dinamakan intertekstual  yang merupakan kajian terhadap sejumlah karya sastra, yang diprediksi memiliki hubungan, baik berbentuk struktur karya sastra tema cerita, fakta cerita, ataupun sarana sastranya. Kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul kemudian. Adapun tujuan intertekstual adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya sastra tersebut. pemunculan atau penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsure kesejarahannya, sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-65).
Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya sastra ditulis, tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya termasuk semakin konvensi dan tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks sastra yang ditulis sebelumnya. Adapun sebagai contoh, para pengarang angkatan Balai Pustaka menulis novel, karena di masyarakat sastra lama sudah ada hikayat, pengarang menulis cerpen karena sastra lama sudah tampil dongeng terlebih dahulu. Puisi satra Indonesia modern tampil setelah ada puisi-puisi lama seprti pantun, syair, gurindam, talibun, karmina dan seloka. Angkatan Pujangga Baru juga terpengaruh angkatan 1880-an di Negara Belanda karena pengarang Indonesia telah berguru bersama pengarang Belanda ketika di zaman penjajahan Belanda di Indonesia.
Karya sastra yang ditulis kemudian atau belakangan, biasanya mendasar-kan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara meneruskan maupun menyimpangi (menolak, memutarbalikan esensi) konvensi. Riffatere (dalam Teeuw, 1983: 64-65) menyatakan bahwa karya sastra selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya yang secara konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal itu, sekali lagi, menunjukkan keterkaitan suatu karya dari karya-karya yang melatarbelakanginya.
Karya-karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram (Riffatere, 1980: 23). Istilah hipogram dapat diindonesiakan menjadi latar yaitu dasar, walaupun mungkin berupa penerusan konvensi sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks-teks sebelumnya (Teeuw, 1983: 65). Dalam istilah lain, penerusan tradisi dapat juga disebut mitos pengukuhan (myth of concern), sedang tradisi sebagai mitis pemberontakan (myth of freedom) Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “wajib” hadir dalam penulisan teks sastra, sesuai dengan hakikatnya sastra itu selalu dalam ketegangan antara konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan (Nurgiyantoro, 2010: 51)
Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya-karya sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual, misalnya melalui pengontrasan antara sebuah karya dengan karya-karya lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram dalam suatu karya,hal itu mungkin disadari juga tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya meneruskan atau sebaliknya menolak. Hipogram karya sastra meliputi: (1) ekspansi, yaitu perluasan atau pengembangan karya; (2) konvensi adalah pemutarbalikan hipogram atau matriknya; (3) modifikasi adalah perubahan tataran linguistik manipulasi urutan kata dan kalimat; (4) ekserp adalah semacam intisari dari unsur atau episode dalam hipogram yang disadap oleh pengarang. Penelitian intertekstual merupakan pemahaman sastra sebagai sebuah Presupsition, yakni sebuah perkiraan bahwa suatu teks baru mengandung teks lain sebelumnya.
Masalah hipogram karya sebagai dasar penulisan pengarang yang kemudian, Julia Kristeva (dalam Culler, 1977: 139), mengemukakan bahwa tiap teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks yang lain. Hal ini berarti bahwa tiap teks yang lebih kemudian mengambil unsur-unsur tertentu yang dipandang baik dari teks-teks sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan, berdasarkan kreativitas dan konsep estetiknya sendiri.
Unsur-unsur ambilan sebuah teks dari teks-teks hipogramnya yang mungkin berupa kata, sintagma, model bentuk, gagasan, atau berbagai unsur intrinsik yang lain, tetapi dapat pula berupa sifat kontradiksinya, dapat menghasilkan sebuah karya yang baru sehingga karenanya orang mungkin tidak mengenal atau bahkan melupakan hipogramnya (Riffaterre, 1980: 165). Hipogram tidak akan lengkap, melainkan hanya bersifat parsial, yang berwujud tanda-tanda teks atau pengaktualisasian unsur-unsur tertentu ke dalam bentuk-bentuk tertentu. Pengambilan bentuk-bentuk itu, atau derivasi bentuk-bentuk teks yang ditransformasikan itu, dapat hanya berupa varian leksikal, denotasi, dan konotasi, pilihan paradigmatic kata-kata atau pemakaian sinonim.
Prinsip intertekstual yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai rekasi, penyerapan atau transformasi dari karya-karya yang lain. Masalah intertekstual lebih dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik teks fiksi maupun puisi.
Penelitian ini membatasi pada kajian terhadap cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti dengan alasan menampilkan tokoh utama yang selalu dihina akibat ketidaksempurnaan fisiknya. Jika dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) mengangkat cerita seorang anak perempuan yang bertubuh gendut dan ia selalu diejek oleh teman-temannya. Adapun cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) mengangkat cerita seorang anak perempuan yang tidak bisa mendengar (tuna rungu) yang selalu mendapat ejekan dari teman-temannya.
Data berupa kata, frasa, kalimat yang mengandung informasi yang berkaitan kajian intertekstual dalam cerpen yang menjadi objek penulisan makalah. Data dicatat dalam kartu data dan diklasifikasikan sesuai dengan informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Analisis data dengan teknik deksriptif kualitatif untuk menemukan adanya intertekstual, melalui hipogram dan transformasi teks karya sastra.

B.       PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat teks hipogram dan teks transformasi antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013). Cerpen yang menjadi teks hipogram yaitu, Kalau semua Wanita Jelek (2012), sedangkan yang menjadi transformasi yaitu Kupu-kupu Segera Terbang (2013). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikologi sastra. Pendekatan ini digunakan karena dalam kedua cerpen ini sarat akan masalah-masalah yang menimbulkan tokoh utama mengalami konflik batin karena karena selalu diejek oleh teman-temannya akibat ketidaksempurnaan fisiknya.
Dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012), diceritakan tokoh utama bernama Jo yang mempunyai fisik begitu lebar (gendut). Jo mempunyai badan yang gendut, sehingga ia sering menjadi bahan olok-olokan temannya.
“Alkisah ada anak perempuan bertubuh gendut. Saking gendutnya ia sering dijadikan bahan olok-olok oleh temannya. Dagunya besar, lehernya tidak kelihatan. Betis, paha dan lengannya jumbo” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 127).

Jo digambarkan sebagai anak perempuan yang mempunyai badan yang gendut. Betis, paha, dan lengannya juga terlihat sangat besar. Dengan fisik yang demikian, teman-temanya selalu mengolok-olok Jo. Mereka selalu mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung hati Jo. Tiada hari tanpa mengejek Jo. Bagi mereka melihat Jo terpojokkan adalah suatu kebahagiaan bagi mereka.
Suatu hari Jo sedang naik angkot hendak pergi ke sekolah. Di dalam angkot tersebut juga ada teman-temannya yang biasanya selalu mengejek Jo.
“Si gendut menelan ludah. Hatinya sebal sekali, sementara semua penumpang memperhatikan mereka. Ia berusaha tidak menanggapi, tapi tiga teman sekolahnya ini sengaja benar memancing” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 127).

Walaupun Jo selalu diejek karena fisiknya yang begitu lebar, ia mencoba selalu bersabar. Ia memilih diam, daripada harus meladeni perkataan teman-temannya itu. Baginya diam lebih baik, walaupun terkadang memang kenyataan itu sulit ia terima, tetapi ia selalu berusaha menerima dengan hati yang ikhlas.
Tidak hanya ketika Jo masih duduk di bangku SMA, ketika ia sudah bekerja di biro perjalanan ejekan-ejekan “si gendut” masih saja sering terdengar di telinganya. Bahkan, yang lebih menyakitkan, customer yang menjadi pelangganya mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Jo begitu sakit.
“Di tengah-tengah situasi tegang, ada customer yang marah-marah, mendengar frase gajah jumbo dan paus bunting keluar, staf ticketing lain yang sejak tadi menonton sontak menahan tawa” (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 131).

Jo hanya bisa bersabar menerima cacian dari pelanggannya. Walaupun hatinya sebenarnya ingin marah kepada pelangganya, tetapi ia tak bisa melawannya. Ia takut pelangganya akan kabur dan tidak mau lagi memesan tiket di biro perjalanan tempat ia bekerja. Cacian dari pelanggan, Jo terima dengan lapang dada. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya jika sampai direktur perusahaannya tahu kalau ia marah-marah pada pelanggannya.
Lama-kelamaan Jo tidak tahan akan ejekan dari orang-orang di sekeliling-nya yang mengatakan bahwa ia adalah perempuan jumbo (gendut). Hingga ia melakukan perbuatan yang nekat yaitu melakukan diet tanpa terkendali hingga berat badannya turun separuh. Namun, hal itu hanya bertahan beberapa minggu, sebelum ia terbaring di ranjang rumah sakit. Lalu, ketika ia sembuh tubuhnya kembali membesar tanpa kendali.
Melihat sahabatnya melakukan perbuatan yang bisa membahayakan dirinya sendiri, Vin teman Jo berusaha menasehati Jo bahwa, apa yang telah ia lakukan adalah salah.
“Vin memegang tangan Jo, “Tuhan tidak pernah memberikan definisi kecantikan. Astaga, Jo, lancing sekali barusan kau bilang kalau ini tidak adil. Aku sampai merinding mendengarnya (Kalau semua Wanita Jelek, 2012: 136).

Vin adalah sahabat terbaik Jo. Walaupun terkadang ia juga sering meledek Jo, tetapi ia adalah teman yang selalu member dukungan dan semangat kepada Jo agar jangan menghiraukan apa yang dikatakan orang lain. Menurut Vin, bahwa Tuhan tidak memandang kecantikan seseorang itu hanya dari fisiknya saja, melainkan juga hatinya.
Berkat dukungan dari sahabatnya itu, Jo akhirnya menyadari bahwa kecantikan itu pada hakikatnya bukan dari fisik semata, melainkan dari hatinya. Wanita akan terlihat cantik jika dari dalam hatinya terpencar suatu ketulusan yang ikhlas dan mampu membahagiakan orang-orang disekelilingnya. Oleh sebab itu, ia berusaha untuk tidak marah ataupun bersedih ketika orang lain menghinanya. Sebab, kecantikan itu tumbuh bukan dari fisik yang sempurna, melainkan dari hati yang tulus.
Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) menggambarkan tokoh utama bernama Nana yang tidak bisa mendengar. Ia adalah gadis yang tidak sempurna. Terkadang ia marah-marah pada ibunya sendiri karena ibunya tidak mengerti apa yang diinginkan Nana. Tidak hanya itu, perlakuan teman-teman yang selalu menghinanya membuat dirinya terkadang tak kuat menanggung takdir yang yang terjadi pada dirinya.
“Kuakui kadang aku frustasi. Sulit membuat orang bisa mengerti isi hati. Ibu yang melahirkanku pun pernah kubuat karena marahku yang berlebihan.aku mengamuk memecahkan barang-barang. Tangan ibu sampai berdarah, terluka terkena pecahan kaca. Aku menyesal melihatnya, tapi saat itu hatiku pun sedang berdarah-darah. Terluka oleh kedaan diriku sendiri” Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 148)

Terkadang Nana merasa frustasi terhadap apa yang telah menimpa dirinya. Tuna rungu yang dideritanya sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya. Ibunya terkadang menjadi pelampiasan kemarahannya. Walaupun sebenarnya ia tak bermaksud melukai hati ibunya. Terkadang apa yang ia inginkan ibunya tidak mengerti, hal itulah yang terkadang membuat Nana marah pada ibunya.
Terlahir menjadi seseorang yang mempunyai keterbatasan bukanlah kemauan orang manapun. Semua orang tentunya menginginkan fisik yang sempurna. Namun, berbeda halnya dengan Nana, sejak kecil ia telah terlahir sebagai tunarungu. Ketidaksempurnaannya itu membuat  teman-temannya selalu mengejekknya.
“Kau selalu menertawaiku, menjadikanku bulanan ejekan yang tak bisa kudengar namun sangat tajam kurasakan. Begitu menusuk! Kau menganggapku bodoh dan tak bosan mempermainkanku” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 149).

Batin Nana begitu sakit ketika mendengar ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh teman-temanya. Teman-teman Nana selalu menertawakan-nya karena Nana tidak sesempurna mereka. Bagi mereka Nana adalah anak yang bisa dipermainkan sesuka hatinya selama mereka bisa bahagia.
Sejak kecil Nana hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal. Hal itulah yang kadang membuat Nana bersedih. Jika ayahnya masih hidup, tentu saja ia bisa berbagi keluh kesah pada ayahnya. kini hanya ibunya lah yang selalu setia menemani Nana. Ibunya lah yang selalu mendampingi Nana ketika Nana hatinya terguncang akibat ulah teman-temannya.
Suatu hari ketika Nana sedang ditinggal ibunya pergi, ia hanya tinggal seorang diri di rumahnya. Dari balik jendela terlihat seorang anak kecil bernama Igo yang hendak mencuri jambu milik tetangganya. Igo adalah anak yang selalu mengejek Nana. Setiap bertemu Nana pasti ia selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Nana sakit. Tiba-tiba Igi terjatuh dari pohon jambu. Nana hanya bisa melihat Igo dari balik jendela.
“Aku masih di balik jendela tegang memandang ke seberang. Ini sudah terlalu lama. Aku merasakan ada yang tak beres. Jangan-jangan kau celaka. Jatuhmu cukup tinggi. Aku bisa saja datang menolongmu. Namun, aku bimbang,  bukankah aku adalah orang yang paling ingin kau celaka. Lalu, kenapa kini aku mengkhawatirkanmu?” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 152).

Melihat Igo terjatuh, Nana segera menghampiri Igo yang sudah terkapar tak sadarkan diri di bawah pohon jambu. Lukanya kelihatan parah hingga ia tak sadarkan diri. Awalnya Nana ragu hendak menolong Igo. Sebab, Igo lah yang selalu membuatnya menangis. Igo lah yang selalu mengejeknya. Namun, melihat kondisi Igo yang begitu mengenaskan, akhirnya Nana membawa Igo ke rumah sakit. Ada perasaan bimbang dalam hati Nana, di satu sisi ia kasihan melihat Igo yang kondisinya mengenaskan, di sisi lain ia begitu jengkel setiap kali mengingat perlakuan Igo kepadanya.
Sesampainya di rumah sakit, Igo tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana. Ia juga meminta maaf pada Nana akan apa yang telah dilakukan pada Nana selama ini. Begitu pun dengan orang tua Igo, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana.
“Terima kasih. Berkali-kali kau ucapkan padaku. Aku mengangguk saja ibu masih tampak bicara dengan orang tuamu. Sebentar lagi kau pulang setelah dua minggu di rumah sakit. Kata yang sama juga diucapkan pula oleh kedua orang tuamu” (Kupu-kupu Segera Terbang, 2013: 153).

Mendengar permintaan maaf dari Igo, hati Nana kembali bimbang. Hal itu bukan tanpa alasan, karena selama ini ia sudah cukup puas bersedih akan perlakuan Igo pada dirinya. Hampir setiap hari kata “si budeg” selalu bersandar di telinganya. Igo selalu mengejek ketidaksempurnaan Nana. Namun, setelah melihat ketulusan Igo, akhirnya Nana memafkannya. Dengan hati yang begitu tulus akhirnya Nana bisa menerima Igo menjadi sahabatnya. Anak yang dahulu menghinanya, kini terkagum-kagum pada ketulusan hati Nana. Walaupun Nana mempunyai kekurangan, tetapi ia juga dianugerahi hati yang lembut, budi pekerti yang luhur dan tidak menjadi seseorang yang pendendam.

C.      SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam prinsip intertekstual apa yang dilakukan oleh tokoh utama dalam kedua cerpen tersebut menunjukkan bahwa cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti mempunyai kesamaan pada konflik ceritanya. cerpen Kalau semua Wanita Jelek sebagai teks hipogramnya, karena telah terbit terdahulu pada tahun 2012, dibandingkan dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang karya Primadita Herdianti pada tahun 2013. Pada karya Tere Liye menjelaskan masalah yang dihadapi oleh seorang anak bernama Jo yang selalu dihina oleh teman-temannya karena ia mempunyai fisik yang lebar, sedangkan dalam cerpen Kupu-kupu Segera Terbang cerita yang disuguhkan yaitu tokoh utama bernama Nana yang selalu dihina temannya karena ia terlahir sebagai gadis tuna rungu.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara cerpen cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) karya Tere Liye dan Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti. Persamannya, dalam kedua cerpen tersebut diceritakan konflik yang dihadapi seorang anak perempuan yang selalu dihina oleh teman-temannya akibat ketidaksempurnaan fisiknya. Sementara itu, perbedaanya  dalam cerpen Kalau semua Wanita Jelek tokoh utama pada akhir cerita akhirnya bisa memaafkan orang-orang yang telah menghinanya, sedangkan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang, pada akhir cerita tokoh utama bisa bersahabat dengan seseorang yang telah menghinanya.
 Jadi hubungan intertekstual antara cerpen Kalau semua Wanita Jelek (2012) dengan cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) adalah hubungan perluasan atau pengembangan. Cerpen Kupu-kupu Segera Terbang (2013) karya Primadita Herdianti merupakan perluasan atau pengembangan dari Kalau semua Wanita Jelek karya Tere Liye.




DAFTAR PUSTAKA

Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2013. Burung-burung Kertas (Antologi Esai dan Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Esai dan Cerpen bagi Remaja DIY Tahun 2013). Yogyakarta: Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Culler Jonathan, 1977. Structuralist Poetics, Structualism, Linguistic, and the study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra. Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riffaterre, Michael. 1980. Semiotic of Poetry. London: Metheun & Co Ltd.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Liye, Tere. 2012. Sepotong Hati yang Baru. Jakarta: Mahaka Publishing.








Tuesday, April 14, 2020

ANALISIS SOSIOLOGI TEKS DRAMA "SANG PENGAMEN"





TEKS DRAMA:

SANG PENGAMEN
Karya: Dulrokhim

Para Pelaku:
1.      PENGAMEN alias RAHMAN, laki-laki 15 tahun
Rahman adalah seorang pengamen, ia biasa mengamen di pasar dan toko-toko.
2.      BAPAK alias KARSO, laki-laki 35 tahun
Pak Karso adalah ayah dari Rahman (pengamen), ia adalah seorang pemulung.
3.      IBU, perempuan 33 tahun
Tokoh IBU adalah ibu dari Rahman (pengamen), dan juga sebagai isteri pak Karso. Ia adalah seorang pemulung.
4.      PEDAGANG 1, perempuan 30 tahun
PEDAGANG 1 adalah seorang ibu yang pekerjaannya sebagai pedagang di pasar tempat Rahman mengamen.
5.      PEDAGANG 2, perempuan 30 tahun
PEDAGANG 2 adalah seorang ibu yang pekerjaannya sebagai pedagang di pasar tempat Rahman mengamen.
6.      DEWI, perempuan 15 tahun
Dewi adalah seorang pelajar SMP, yang juga sebagai teman sekelas Rahman (pengamen).
7.      WULAN, perempuan 15 tahun
Dewi adalah seorang pelajar SMP. Ia adalah teman sekelas Rahman (pengamen) dan juga Dewi.
8.      DUTA, laki-laki 15 tahun
Duta adalah seorang pelajar SMP. Ia adalah teman sekelas Rahman (pengamen), Dewi dan Wulan.
9.      PEMUDA alias GAMBRENG, laki-laki 25 tahun
Gambreng adalah seorang pencuri.
10.  TONO, laki-laki 30 tahun
Tono adalah tetangga Rahman (pengamen).
11.  PENYIAR, perempuan 25 tahun
Tokoh Penyiar adalah karyawan dari salah satu televisi swasta.
12.  KAMERAMEN, laki-laki 25 tahun
Tokoh Penyiar adalah karyawan dari salah satu televisi swasta.
13.  POLISI 1, laki-laki 45 tahun
Tokoh Polisi adalah seorang polisi yang bertugas di Polres, dan juga sebagai ayah Dewi.
14.  POLISI 2, laki-laki 45 tahun
15.  2 SATPOL PAMONG PRAJA, laki-laki 30 tahun



I

Pagi, menjelang siang

Panggung menggambarkan salah satu sudut pasar. Para pedagang pasar sibuk membersihkan dagangannya. Beberapa pembeli tampak menawar barang dagangannya. Beberapa pembeli tampak menawar barang dagangan. Di suatu kanan panggung berdiri bangunan kecil, di pintunya yang tertutup tertulis: WC.
Seorang siswa berseragam SMP, putih biru, mengenakan topi biru, membawa tas di punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak berapa lama, ia keluar dari WC dengan pakaian ala pengamen, celana levi’s sobek, berkaos oblong. Di tangannya menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang kawat dari besi melingkari leher yang tersambung dengan harmonica tepat di depan mulutnya. Ia lalu mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar kecilnya sambil mulutnya meniup harmonika.
Baru sesaat bermain musik, PENGAMEN tadi diusir seorang pedagang.
PEDAGANG 1   : Eit, baru buka dasar. Belum ada receh. Yang lain saja dulu    ya!
PENGAMEN tersebut menghentikan bermain musiknya. Ia berjalan ke pedagang di sebelahnya.
PEDAGANG 2   : Kalau main musik yang benar. Jangan asal bunyi. Aku minta lagu keroncong ya!
PEDAGANG 1   : Siang-siang begini minta lagu keroncong, bikin orang ngantuk.
PEDAGANG 2   : Terserah aku. Yang bayar pengamen kan aku, bukan kamu.
PEDAGANG 1   : Memangnya yang punya telinga cuma kamu?
PEDAGANG 2   : Kalau tidak mau dengar lagu keroncong, ya ditutup saja kedua telingamu!
PEDAGANG 1   : Enak saja kalau ngomong. Lagu keroncong itu bukan seleraku. Daripada lagu keroncong, mendingan lagu dangdut saja, si Kucing Garong.
PEDAGANG 2   : Wealah… dasar selera rendah.
PEDAGANG 1   : Apa kamu bilang?
PEDAGANG 2   : Keroncong itu musik identitas bangsa. Dengan keroncong bangsa kita jadi terkenal. Lihat itu, Pak Gesang dengan Bengawan Solo-nya, Waljinah dengan Walang Kekek-nya. Mereka itu dikenal sampai ke negeri Jepang. Kucing Garong… lagu apa itu. Apalagi kalau nyanyinya sambil goyang ngebor. Itu namanya malah merusak identitas budaya bangsa.
PEDAGANG 1   : Sok pintar!
PEDAGANG 2   : Ee, walau aku pedagang pasar, aku ini pernah “makan sekolahan”. Aku ini lulusan SMP. Juga sering baca Koran. Jadi tahu ilmu pengetahuan.
PENGAMEN      : Ini jadi tidak lagunya? Kok malah bertengkar sendiri.
PEDAGANG 1   : Dik Pengamen, sini! Lagunya Kucing Garong saja ya, nanti aku beri uang seribu.
PEDAGANG 2   : Wealah… biasanya ngasih seratus, sekarang seribu.
PENGAMEN      : Wah, kalau Kucing Garong saya tidak bisa Bu.
PEDAGANG 2   : Nha itu, Kucing Garong tidak bisa kan. Music keroncong saja ya Dik Pengamen. Aku beri uang lima ribu.
PENGAMEN      : Wah, kalau keroncong saya juga tidak bisa Bu.
PEDAGANG 1   : Nha itu, lagu keroncong apalagi, semakin tidak bisa.
PEDAGANG 2   : Sudah kamu tidak usah ikut campur! (Kepada PENGAMEN) Dik Pengamen bagaimana sih? Keroncong tidak bisa, dangdut juga tidak bisa. Lha bisanya lagu apa?
PENGAMEN      : Kalau saya bisanya lagu yang disenangi anak-anak muda Bu. Lagunya Iwan Fals. Umar Bakri. Mau ya, lagunya enak lho.
PEDAGANG 2   : Wah, nggak jadi. Nanti malah aku teringat bapakku yang sudah meninggal. Bapakku itu guru, namanya Pak Umar. Mati ngenes karena gajinya sangat kecil.

PENGAMEN memainkan musik lagu Umar Bakri.

PEDAGANG 2   : Eee… sudah! Sudah…! Sudah dibilang jangan lagu Umar Bakri tetap saja nekat. Pergi sana!

PENGAMEN dengan kecewa melangkah meninggalkan pedagang pasar tersebut, sambil memainkan musik lagu Umar Bakri.

PENGAMEN      : (Menyanyi) Umar Bakri…, Umar Bakri…, pegawai negeri. Umar Bkari…, Umar Bakri…, empat puluh tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti, memang makan hati.
PEDAGANG 2   : Dasar pengamen sinting!

PEDAGANG SATU tertawa cekikikan.



II  

Sore hari.

Di tengah panggung berdiri rumah bambu kecil. Di kanan kiri rumah ada kardus-kardus ditumpuk dan karung plastik berisi kardus. Di depan karung plastik tersandar sepeda tua. Sementara di depan rumah seorang lelaki tiduran di atas kursi bambu sambil merokok. Lelaki itu batuk-batuk berkepanjangan. PENGAMEN datang memainkan gitar. Namun ketika mendengar suara batuk-batuk, ia menghentikan bermain gitarnya.

PENGAMEN      : Pak…
BAPAK                : Sudah pulang Kamu Man?
PENGAMEN      : Sudah Pak.
BAPAK                : Dapat uang berapa kamu dari hasil ngamen?
PENGAMEN      : Lima Ribu.
BAPAK                : Lima ribu? Biasanya sehari kamu dapat dua puluh ribu. Kok turun? Atau kamu yang malas?
PENGAMEN      : Tidak Pak. Memang lagi sepi. Mungkin gara-gara harga BBM naik.
BAPAK                : Sini uangnya. Untuk tambahan biaya sekolahmu nanti.

PENGAMEN mengulurkan uang recehan. BAPAK kembali batuk-batuk.

PENGAMEN      : Sudahlah Pak, jangan merokok lagi. Nanti batuknya bertambah parah.
BAPAK                : Aku sudah kecanduan, Man. Sulit menghilangkannya.
PENGAMEN      : Dicoba dulu untuk berhenti merokok. Peringatan pemerintah merokok itu dapat menyebabkan serangan jantung lho Pak.
BAPAK                : Ah, sudah! Penyakit jantung itu penyakitnya orang kaya. Orang miskin seperti bapakmu ini penyakitnya paling cuma masuk angin. Kamu itu aku sekolahkan supaya pintar, bukan untuk melarang bapakmu merokok.

IBU datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di punggungnya.

IBU                       : Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK                : Itu hasil kerjaku (Menunjuk karung plastik berisi kardus yang sudah ditata.
IBU                       : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?
PENGAMEN      : Sudah Bu. Lancar. Tadi pulang lebih awal. Guru-guru rapat persiapan test kenaikan kelas. Oh iya, kapan saya bayar uang sekolah Bu? Sudah nunggak tiga bulan belum dibayar lho.
IBU                       : Tanya Bapakmu.
PENGAMEN      : Pak…?
BAPAK                : Belum cukup uangnya Man. Sabar ya. Bapak nanti jualkan sepeda.
IBU                       : (Kaget) Jual sepeda? Lalu nanti jual kardusnya dibawa pakai apa?
BAPAK                : Gampang, pinjam saja gerobaknya Tono.
IBU                       : Jauh lho Pak. Buang waktu dan tenaga kalau pakai gerobak. Lagian sewa gerobak kan bayar.
BAPAK                : Lalu mau jual apalagi? Kekayaan yang kita punya satu-satunya tinggal sepeda peninggalan bapakku itu.
IBU                       : Apa tidak sayang?
BAPAK                : Sayang sih. Tapi mau apa lagi. Yang penting anak kita bisa ikut test kenaikan kelas.
IBU                       : Terserahlah. (IBU masuk ke dalam rumah).
BAPAK                : Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN      : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu. (masuk ke rumah).

Terdengar suara adzan maghrib dari Musholla. BAPAK lalu ikut masuk ke rumah.



III

Beberapa saat setelah IBU, BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang PEMUDA  yang mencurigakan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa aman, PEMUDA tersebut memebawa sepeda yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan. Ia lalau memacu kencang sepeda satu-satunya milik sang BAPAK. Tak beberapa lama dari arah yang sama muncul TONO agak tergesa.
TONO                  : Lik. . .! Lik Karso . . .! Pinjam sepedanya ya. Istriku mau melahirkan.
BAPAK                : (Suara dari dalam rumah) Di depan, ambil saja.
TONO                  : (Mencari-cari sepeda). Di depan mana Lik? Kok tidak ada
BAPAK                : (Suara dari dalam rumah) Di depan rumah dekat jendela.
TONO                  : Dekat jendela mana ? Nggak ada Lik !
BAPAK                : (Keluar dari rumah) Lho? Tadi saya taruh di situ, dekat jendela. Kok tidak ada? Jangan main-main Ton. Dibawa kamu ya?
TONO                  : Jangan ngawur Lik! Saya ini baru datang dan mau pinjam untuk mengantar istri. Sepertinya istriku mau melahirkan. Tolong Lik, jangan main-main. Saya ini serius.
BAPAK                : Lho, ya kamu to yang jangan main-main. Jelas-jelas sepeda saya taruh di situ, kok sekarang raib. Sepeda saya raib pasti ada yang mengambilnya.
TONO                  : (Agak marah) Jadi Lik Karso menudh saya yang mengambil sepeda to?
BAPAK                : (Ikut marah) Lha sapa lagi ? Yang ada disini ya cuma kamu!
TONO                  : Wah sontoloyo! Lagi susah mikir istri mau melahirkan malah di tuduh mencuri.
IBU                       : (Keluar rumah bersama PENGAMEN)  Ada apa ini kok ribut-ribut.
TONO                  : Anu BU, saya mau pinjam sepeda, malah di tuduh mencuri.
IBU                                   : (Kepada BAPAK) benar Pak?
BAPAK                           : Lha buktinya, sepeda kita satu-satunya sudah tidak ada.
IBU                                   : Ton, benar kamu mngambil sepedanya Bapak ?
TONO                  : Sumpah, berani di sambar gledeg kalau sampai saya mencuri. Walau saya miskin, saya masih punya harga diri.
IBU                                   : Mau pinjam sepeda untuk  apa?
TONO                  : Mau mengantar istri saya kebidan puskesmas.Istri saya mau melahirkan.
IBU                       : Oallah, Ton ,Mau melahikan toh istrimu? Ayo cari becak saja. Mari, Kita antar istrimu.
IBU dan TONO pergi mencari becak. Tinggal PENGAMEN dan Bapak berdua.
BAPAK                           : Lho...Bu?! Terus sepeda saya bagaimana?
IBU                                   : (Hanya suara) Cari Sendiri…!
PENGAMEN      : Apa tadi sepedanya tidak di kunci Pak?
BAPAK                : Wadhuh..., aku tadi lupa menugncinya. (Menegeluh) oallah Gustiii.., terus bagaimana ini. Sekolahmu terus bagaimana, Man? Tidak ada lagi yang bisa aku jual untuk membiayai sekolahmu. Kardus-kardus itu walau di jual semua tidak akan mencukupi untuk biaya uang sekolah tunggakanmu.
PENGAMEN      : Sudahlah, Pak. Tidak usar dipikir. Aku nanti ngamen saja. Aku akan bekerja lebih keras, siang dan malam.Dengan hasil penjualan kardus , di tambah hasil dari mengamen, semoga nanti cukup untuk bayar tunggakan uang sekolah. Aku shalat Isya’ dulu pak.
BAPAK                           : Ya. Kita shalat berjama’ah saja.

Keduanya masuk rumah.



IV
Sore hari.
Di ruang keterampilan musik , DEWI, WULAN, DUTA, tengan menunggu sang PENGAMEN rekan sekelas mereka. Mereka tengah berlatih msuik WULAN memegang gitar, DUTA menabuh drum, dan DEWI bagian keyboard. Namun latihan mereka tidak berjalan baik, karena tidak lengkap. Sang PENGAWEN seharusnya menjadi vokalisnya. Mereka bahkan sampai mengulang tiga kali untuk satu lagi, itupun tidak sampai selesai.
DEWI                   : Stop-stop! Wah tidak enak rasanya kalau latihan tidak lengkap.Tidak ada yang menyanyi.
WULAN              : Terus bagaimana ini? Festival musik tinggal beberapa hari ini lagi.
DEWI                   : Kita tunggu Rahman. Kalau sampai setengah jam kedepan ia tidak hadir,kita tunda latihan ini.
DUTA                  : Sudah, ganti saja Rahman ! ia tidak disipli. Masak kita sudah menuggu setengah jam begini, ia belum datang juga.
DEWI                   : Sabar. Barang kali ia ada masalah. Tidak seperti biasanya ia terlambat datang. Padahal ia selalu datang lebih awal setiap kita latihan.
DUTA                  : Kalau latihannya seperti ini terus, kita bubar saja!
WULAN              : Jangan begitu duta. Kita kan sudah mempersiapkan waktu ini cukup lama. Apa kata Kepala Sekolah dan rekan-rekan kita Nanti. Kita kan sudah mewakili sekolah diajang bergengsi.
Si PENGAMEN datang dengan tergesa-gesa.
PENGAMEN      : Maaf aku terlambat.
DUTA                  : Apa alasanmu kali ini, Man?
PENGAMEN      : Aku di kejar-kejar polisi. Sudah ada lima pengamen yang di naikkan ketruk polisi. Mungkin mereka dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan kota.
WULAN              : Untung kamu tidak tertangkap polisi.
DEWI                   : Memangnya kamu ikut mengamen?
PENGAMEN      : (bingung) Ehm...,tidak sih. Aku hanya bermain musik sambil berjalan ke sini. Tahu-tahu di kejar petugas gabungan polisi dan Satpol Pamong Praja.
DEWI                   :Makanya besuk lagi kalau berangkat jangan main musik di jalanan. Ayo kita mulai latihan
PENGAMEN      : Ayo! Tapi sebelumnya kita awali dengan doa bersama agar latihan ini bisa berjalan dengan lancar. Mari kta berdoa. (Mereka berdoa bersama dipimpin Rahman). Amin.
            Mereka akhirnya bisa bermain musik dengan kompak.


V

      Siang hari.
      Di sebuah jalan sepi. DEWI dan WULAN pulang sekolah dengan berjalan kaki.
DEWI                   :  Kasihan Rahman ya. Ia diultimatum oleh kepala sekolah, bila tidak    membayar uang sekolah selama tiga hari ke depan, ia tidak diizinkan mengikuti test kenaikan kelas.
WULAN              : Ya, kasihan. Padahal ia anak pintar. Kreatif lagi. Tanpa dia, grup musik sekolahan kita tidak mungkin masuk lima besar dalam festival music tingkat kabupaten.
DEWI                   : Kabarnya ia menunggak tiga bulan belum bayar.
WULAN              : Orang tuanya kerjanya apa sih ?
DEWI                   : Pemulung. Aku pernah lewat rumahnya.
WULAN              : Pantas. Untuk hidup sehari-hari saja pas-pasan, apalagi untuk membayar uang sekolah. Tentu berat ya.
DEWI                   : Ya. Seharusnya kita menolongnya. Bagaimana kalu kita menyisihkan uang saku kita untuk membantu Rahman.
WULAN             : Apa cukup?
DEWI                   : Aku punya tabungan di rumah. Mungkin bisa sedikit membantu.
WULAN              : Kalau begitu, uang tabungan di rumah  juga bisa digunakn untuk membantu Rahman.
Tiba-tiba muncul PEMUDA dengan mengendarai sepeda dari arah berlawanan. Sepeda itu tanpa kendali menabrak DEWI yang lengah karena tengah asyik ngobrol dengan WULAN. DEWI dan PEMUDA terjatuh. Ternyata PEMUDA itu sedang mabuk. DEWI tak sadarkan diri. WULAN berteriak meminta tolong, kebingungan.
WULAN             : Tolooooong…,tolooooong…!
Muncul si PENGAMEN.
PENGAMEN      : Ada apa ini Wulan?
WULAN               : Dewi tertabrak sepeda.
PENGAMEN      : Ayo kita bawa saja ke rumah sakit.
Keduanya menggotong DEWI yang pingsan ke rumah sakit. Sementara sang PEMUDA masih tergeletak pingsan. Lalu datang dua POLISI. Yang satu memapah PEMUDA, yang satunya membawa sepeda ke Kantor Polisi.

VI
Siang hari.
Di salah satu sudut pasar. Pedagang sibuk membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah melayani pembeli. Datang sang PENGAMEN.
PENGAMEN      : ( Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dulu jadi perhatian insaniii… Musim kemarau, tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai jauuuhh…
PEDAGANG 2   : Nha kalau lagu ini, baru nikmat rasanya.
PEDAGANG 1   : Huh, lagu apa itu, buat orang tambah ngantuk
PEDAGANG 2   : Kalau tidak suka lagu ini, ya jangan didengerin.
PEDAGANG 1   : Dasar selea udik.
PENGAMEN      : ( Menghentikan nyanyianya). Ini bagaimana sih? Dikasih lagu keroncong bertengkar. Dikasih lagu Iwan Fals ngatain sinting. Terus saya harus nyanyi lagu apa? Kucing garong?
PEDAGANG 1   : Nha, itu Cocok !! Lagu Kucing Garong saja. Nanti saya berinsepuluh ribu.
PENGAMEN      : Wah maaf Bu, saya belum mempelajari lagu Kucing Garong.
PEDAGANG 1   : Lho bagaimana to? Kalau nggak bisa lagu Kucing Garong, ya nggak usah jadi pengamen. Sudah,pergi saja sana! Jangan ngamen di sini!
PENGAMEN      : Ya sudah. Saya pergi dari sini.
PEDAGANG 2   : Dik Pengamen, ini uangnya. Terima kasih lagu keroncongnya ya.
PENGAMEN      : Terima kasih kembali Bu. Lho, ini sepuluh ribu, apa tidak terlalu banyak?
PEDAGANG 2   : Tidak apa-apa. Aku senang kok dengan lagu keroncongnya.
Tiba-tiba muncul dua orang kru televise swasta. Yang satu presenter atau penyiar membawa mikrofon, yang satunya cameramen membawa kamera televise.
PENYIAR           : Maaf Dik. Saya dari stasiun televisi swasta tengah mencari bakat penyanyi jalanan. Adik bersedia ikut audisi untuk acara Saatnya Jadi Idola?
PENGAMEN      : Wah senang sekali kalau diperbolehkan.
PENYIAR           : Kalau begitu, kita langsung coba suara Adik ya.
PENGAMEN      : Oke.Saya siap.
PENYIAR           : Siap ya, satu, dua, tigaa…
PENGAMEN      : ( Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dalu jadi perhatian insaniii… Musim kemarau,tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai jauuuhh….
PENYIAR           : Wah indah sekali suara Adik. Kharakter suara Adik sangat kuat. Adik pasti bisa masuk sepuluh besar Indonesia di acara Saatnya Jadi Idola.
PENGAMEN      : Terima kasih Mbak.
PENYIAR           : Kalau begitu, satu bulan lagi Adik langsung dating ke stasiun televise kami ya. Ini alamatnya. ( Menyodorkan kartu nama) Kami tunggu kedatangan Adik. Permisi Dik.   (Pergi meninggalkan PENGAMEN).
PENGAMEN      : ( Duduk dengan kedua lutut, kedua tangan mengadah) Ya Allah, terima kasih atas rahmat-Mu.
PEDAGANG 2   : Nha, betul kan. Lagu keroncong ternyata membawa keberuntungan bagi yang menyanyikannya
PEDAGANG 1   : Kok bisa ya?
PENGAMEN      :  (Pergi dari pasar, sambil menyanyi) Bengawan solooo…riwayatmu kiniiii…
Tiba-tiba muncul seorang POLISI dan dua petugas SATPOL PAMONG PRAJA
POLISI 2              : Itu pengamennya. Tangkap dia !! ( Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN      : Lho? Ada apa ini? Apa salah saya?
POLISI 2              : Sudah jangan banyak bicara! Ayo ke Kantor Polisi !
PENGAMEN      : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya! Tolooong… saya tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolooong…!
Sang PENGAMEN ditangkap, dibawa ke Kantor Polisi.

VII

Siang hari.
Di rumah pengamen. Muncul Tono dengan tergesa.
TONO                  : (Berteriak) Lik...! Lik Karso.. !
BAPAK                : (Muncul dari pintu) Ada apa lagi ini?
TONO                  : Ini penting Lik. Ada khabar buruk. Tapi jangan kaget ya.
BAPAK                : (Kaget) khabar buruk apa?
TONO                  : Anu Lik, anakna Sampean, si Rahman itu ditangkap polisi.
BAPAK                : (Bertambah kaget) Kamu jangan main-main lagi Ton! Kamu sudah menghilangkan sepeda saya. Sekarang bikin kisruh, buat isu yang bukan-bukan.
IBU                       : (Muncul dari dalam rumah) Ada apa Ton? Siapa yang ditangkap polisi?
TONO                  : Anaknya Sampean, Bu, si Rahman. Yang nangkap petugas gabungan, Satpil Pamong Praja dan Polisi.
IBU                       : Hah?! Ditangkap polisi? (Kepada BAPAK). Lha salah apa anak kita Pak?
BAPAK                : (Kepada TONO) Mulutmu kalau bicara yang benar Ton. Tidak mungkin anakku berbuat yang tidak-tidak.
TONO                  : Kalau tidak percaya ya sudah.
IBU                       : Sekarang di mana Rahman, Ton?
TONO                  : Ya..., mungkin di Kantor Polisi.
IBU                       : (Kepada BAPAK) Ayo, Pak. Kita ke kantor Polisi!
BAPAK                : Ayo! (Kepada TONO) Awas kamu, kalau bohong, tak sobek-sobek mulutmu !
TONO hanya garuk-garuk kepala. Lalu pulang ke rumahnya.

VIII

Di ruang penyidik Kantor Polisi, seorang POLISI tengah mengintograsi PEMUDA. Di belakang kursi POLISI tersandar sepeda tua di tembok. Sepeda itu dijadikan barang bukti. Di atas meja ada mesin ketik manual untuk menulis hasil penyidikan.

POLISI 1              : (Sambil sekali mengetik) Jadi sepeda itu bukan milikmu?
PEMUDA                        : Bukan, Pak.
POLISI 1              : Lalu milik siapa?
PEMUDA                        : Milik Lik Karso.
POLISI 1              : Lik Karso, siapa?
PEMUDA            : Pemulung, Pak. Rumahnya bersebelahan dengan kampung kami.
POLISI 1              : Sepeda itu kau ambil atau Kau curi.
PEMUDA                        : (Bingung) Anu, Pak, saya pinjam.
POLISI 1              : Yang bener! Kau ambil atau Kau curi?
PEMUDA                        : Ambil Pak.
POLISI 1              : Kau sudah minta izin sama pemiliknya?
PEMUDA                        : Belum, Pak.
POLISI 1              : Itu namanya mencuri. Untuk apa sepeda itu? Jawab yang  jujur!
PEMUDA                        : Mau saya jual Pak.
POLISI 1              : Dijual? Untuk apa?
PEMUDA                        : Buat beli minuman keras Pak.
POLISI 1              : Dasar pemabuk. (Mengambil kertas di atas mesin ketik). Sudah tanda tangani Berita Acara Pemeriksaan ini.
Saat PEMUDA menandatangani BAP muncul POLISI 2 menggandeng SANG PENGAMEN. PENGAMEN dipersilahkan duduk di samping PEMUDA. POLISI 2 yang menggandeng berdiri di samping POLISI 1.
PENGAMEN      : Lho itu sepeda milik BAPAK saya!
POLISI 1              : Bener itu sepeda Bapakmu?
PENGAMEN      : Bener Pak. Saya hafal sepeda Bapak saya.
POLISI 1              : Urusan sepeda nanti. Sekarang aku mau tanya. Kamu yang sering ngamen di bus?
PENGAMEN      : Tidak Pak, saya hanya ngamen di pasar dan di toko-toko.
POLISI 1              : Jangan bohong. Saya mendapat laporan dari masyarakat, pengamen banyak yang melakukan pencopetandi dalam bus. Makanya semua pengamen kami tangkap untuk kami periksa. Kamu copetnya?
PENGAMEN      : Tidak Pak.Saya tidak mencopet. Saya hanya mengamen.
POLISI 1              : Kamu masih sekolah atau pengangguran?
PENGAMEN      : Masih sekolah Pak.
POLISI 1              : Sekolah di mana?
PENGAMEN      : SMP Muhammadiyah Pak.
POLISI 1              : SMP Muhammadiyah? Anak saya juga sekolah di situ.
PENGAMEN      : Siapa namanya Pak, kalau boleh tahu?
POLISI 1              : Dewi.
PENGAMEN      : Dewi Kumala Sari? Dewi satu kelas dengan saya.
POLISI 1              : Oh, ya?
PENGAMEN      : Malahan saya tadi antar ke rumah sakit.
POLISI 1              : (Heran) Ke rumah sakit?
PENGAMEN      : Ya. Jangan khawatir Pak. Dewi hanya luka ringan.
 Itu gara-gara ditabrak pemuda mabuk.
POLISI 1              : Pemuda di sebelahmu itu maksudmu?
PENGAMEN      : (Menoleh ke PEMUDA) Benar Pak. Dia yang menabrak Dewi dengan sepeda.
POLISI 1              : Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit. Antar aku ke sana. Aku mau jenguk Dewi. (Kepada POLISI 2) Masukkan pemuda itu ke sel! Aku dan anak ini pergi dulu.
POLISI 2              : Siap Komandan!
POLISI 1 dan PENGAMEN keluar. Sementara POLISI 2 membawa si PEMUDA ke dalam sel penjara.


ANALISIS DRAM

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan suatu ungkapan perasaan pengarang yang mampu memberikan pengalaman, pengetahuan, wawasan bagi penikmatnya dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Karya sastra sebagai suatu bentuk karya seni merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji dan dibicarakan. Maka dari itu untuk menempatan karya sastra pada posisi yang semestinya diperlukan pemahaman terhadap karya sastra tersebut secara mendalam tentang hal-hal yang bersangkutan dengan kesusasteraan.
Karya sastra terbagi menjadi tiga yaitu puisi, prosa, dan drama. Salah satu jenis karya sastra yang menarik dikaji yaitu drama. Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama penonton seolah melihat kejadian dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama sama dengan konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, dan hitam putih kehidupan manusia (Widyahening, dkk. 2012: 1).
Sejalan dengan itu Damono mengemukakan bahwa drama mempunyai tiga unsur yang sangat penting yakni unsur teks drama, unsur pementasan, dan unsur penonton. Lebih lanjut, Damono juga mengungkapkan bahwa apresiasi masyarakat yang sangat minim terhadap sastra drama disebabkan oleh para penonton drama yang biasanya datang pada pementasan drama tanpa bekal pembacaan teks drama itu sebelumnya (Damono dalam Dewojati, 2012: 2). Dengan demikian, setiap usaha analisis drama harus dilandasi kesadaran bahwa sebuah karya drama memang ditulis untuk dipentaskan.
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak dinikmati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kendati sosiologi dan sastra mempunyai perbedaan tertentu namun sebenarnya dapat memberikan penjelasan terhadap makna teks sastra. Hal ini dapat dipahami, karena sosiologi adalah obyek  studinya manusia dan sastra pun demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakatnya. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra adalah dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi (Endraswara, 2003: 77-78).
Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dalam kaitan ini, sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan (Endraswara, 2003: 78).
Begitu juga dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim, naskah tersebut juga menggambarkan kehidupan manusia dan juga masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Penulis tertarik mengkaji naskah tersebut menggunakan pendekatan sosiologi sastra agar bisa memahami kehidupan masyarakat dan juga masalah-masalah yang terjadi mulai dari agama, pendidikan, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

B.     Rumusan Masalah
Sebuah karya sastra tidak terlepas dari persoalan-persoalan yang diungkap oleh pengarang. Berdasarkan latar belakang di atas dapat ditarik rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana aspek sosiologi sastra dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim?


C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah salah satu faktor utama yang mendorong penulis untuk melakukan suatu penelitian. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulis adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mendeskripsikan aspek sosiologi sastra dalam naskah drama Sang Pengamen karya Durokhim.


BAB II
KAJIAN TEORETIS

Kajian teoretis merupakan penjabaran dari kerangka teoretis yang memuat beberapa kumpulan materi terpilih dari berbagai sumber untuk dijadikan sebagai acuan pokok dalam membahas masalah yang diteliti.
Sebuah karya ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, harus menggunakan data analisis tertentu yaitu sebuah teori.
A.    Drama
1.      Pengertian Drama
Menurut Aristoteles sastra dapat dikelompokkan dalam tiga genre, yakni fiksi (fiction), puisi (poetry) dan drama berdasarkan sifatnya. Sifat dasar fiksi termasuk di dalamnya adalah roman, novel, dan cerita pendek bersifat naratif, bercerita, mendongeng, dan mencoba menjelaskan. Adapun sifat dasar puisi adalah ekspresif dengan mengolah irama sebagai sebuah komponen yang penting. Sementara itu, drama atau naskah lakon, biasanya menunjuk pada karya tulis yang mempunyai sifat dramatik, yakni sifat laku atau tindakan atau juga aksi yang disajikan secara verbal dan non verbal (dalam Dewojati, 2012: 7).
Secara etimologis, kata “drama” berasal dari kata Yunani draomai yang berarti ‘berbuat’, ‘berlaku’, ‘bertindak’, ‘bereaksi’, dan sebagainya. Jadi drama dalah perbuatan atau tindakan.
Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama penonton seolah melihat kejadian dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama sama dengan konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, dan hitam putih kehidupan manusia (Evy Tri Widyahening, dkk. 2012: 1).
2.      Jenis-jenis Drama
a.       Drama Tragedi
Aristoteles berpendapat bahwa tragedi merupakan drama yang menyebabkan haru, belas dan ngeri, sehingga penonton mengalami penyucian jiwa (betapa kecil seseorang dibandingkan dengan suratan takdir). Aristoteles menyebut penyucian jiwa tersebut dengan istilah katarsis.
b.      Drama Komedi
Komedi adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Lelucon bukan tujuan utama dalam komedi, melainkan drama ini bersifat humor dan pengarangnya berharap akan menimbulkan kelucuan atau tawa riang (Widyahening, dkk. 2012: 6).
c.       Melodrama
Rendra berpendapat bahwa melodrama merupakan drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara menimbulkan rasa haru pada penontonnya (dalam Dewojati, 2012: 52). Dalam penyajiannya, melodrama berpegang pada keadilan moralitas yang keras, yaitu yang baik akan mendapat ganjaran; sedang yang jahat akan mendapat hukuman. Melodrama menyajikan lakon yang sentimental, mendebarkan dan mengharukan sehingga membangkitkan simpati dan keharuan penonton. Hal itu tersaji dengan cara memperlihatkan secara jelas penderitaan tokoh protagonist dan sebaliknya, membangkitkan rasa benci dan marah pada tokoh yang jahat (dalam Dewojati, 2012: 52).
d.      Tragi-Komedi
Drama dapat berupa komedi (suka cita) dan tragedy (duka cerita). Dalam tragedi, manusia selalu dikuasai oleh nasib dan alam. Adapun dalam komedi manusia tampak menunjukkan kebahagiaan atas kekuatan-kekuatan dalam menentang takdir kehidupan dengan cara menggelikan. Jelas di sini bahwa di antara keduanya, komedi dan tragedi bertentangan baik emosi maupun kejadiannya. Komedi dalam optimismenya yang sangat menyedihkan. Adanya drama tragedi-komedi secara terbuka dan sederhana menggabungkan secara jelas humor dan kesedihan (Dewojati, 2012: 54).
e.       Parodi
Parodi didasarkan pada parode, yakni sebutan yang diambil dari lagu-lagu yang dinyanyikan sebagai tiruan lagu-lagu lain, tetapi dengan memlesetkan syair atau prosa (Dewojati, 2012: 54).
3.      Naskah Drama dan Strukturnya
Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra, drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantic atau makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur. Ragam tutur itu adalah ragam sastra. Oleh sebab itu, bahasa dan maknanya tunduk pada konvensi sastra (Widyahening, dkk. 2012: 143).
a.       Plot atau Kerangka Cerita
Menurut (Widyahening, dkk. 2012: 144) Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Konflik itu berkembang karena karena kontradiksi para pelaku. Aristoteles dalam Dewojati (2012: 167) mengungkapkan plot dipandang penting karena plot merupakan jalan certita sebuah drama yang di dalamnya terdapat skema-skema action para tokohnya di atas panggung.
b.      Penokohan dan Perwatakan
Menurut Widyahening, dkk. (2012: 148) Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu. Dalam susunan tokoh itu yang terlebih dahulu dijelaskan adalah nama, umur, jenis kelamin tipe fisik jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Penulis lakon sudah menggambarkan perwatakan tokoh-tokohnya seperti protagonis, antagonis, maupun tritagonis.
c.       Dialog (Percakapan)
Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk cakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar  memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan yang ditulis oleh pengarang dalam naskah drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan di atas panggung (Widyahening, dkk. 2012: 153).
d.      Setting atau Tempat Kejadian
Setting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Penentuan ini harus secara cermat sebab drama naskah harus juga memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Setting biasanya meliputi tiga dimensi yaitu tempat, ruang, waktu (Widyahening, dkk. 2012: 154).
e.       Tema atau Nada Dasar Cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya. Sudut pandang ini sering dihubungkan dengan aliran yang dianut oleh pengarang (Widyahening, dkk. 2012: 155).
B.     Sosiologi Sastra
Menurut Damono (1984: 60, sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga sosial dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia tetap ada dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan struktur sosial. Jadi dalam sosiologi menggambarkan tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosial, proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing.
Faruk menjelaskan dalam sosiologi yang dipelajari bukanlah sebagai makhluk biologis yang dibangun dan diproses oleh kekuatan-kekuatan dan mekanisme-mekanisme fisik-kimiawi, bukan manusia sebagai individu yang terkait dengan individu yang sepenuhnya mandiri, melainkan manusia sebagai individu yang terkait dengan individu lain, manusia yang hidup dalam lingkungan dan berada di antara manusia-manusia lain, manusia sebagai sebuah kolektivitas, baik yang disebut dengan komunitas maupun sosietis (Faruk, 2014: 17).
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak dinikmati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kendati sosiologi dan sastra mempunyai perbedaan tertentu namun sebenarnya dapat memberikan penjelasan terhadap makna teks sastra. Hal ini dapat dipahami, karena sosiologi adalah obyek  studinya manusia dan sastra pun demikian. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakatnya. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra adalah dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi (Endraswara, 2003: 77-78).
Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dalam kaitan ini, sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan (Endraswara, 2003: 78).
Oleh karena itu Endraswara (200: 87-88) menjelaskan lebih lanjut bahwa sosiologi sastra adalah penelitian tentang: (a) studi ilmiah manusia dan masyarakat secara obyektif, (b) studi lembaga-lembaga sosial lewat sastra dan sebaliknya, (c) studi proses sosial, yaitu bagaimana masyarakat bekerja, bagaimana masyarakat mungkin, dan bagaimana mereka melangsungkan hidupnya.
Hal-hal semacam itu akan menjadi tumpuan peneliti sosiologi sastra. Hubungan timbal balik diantara unsur-unsur sosial di atas akan besar pengaruhnya terhadap kondisi sastra. Berbagai aspek tersebut, sesungguhnya masih dapat diperluas lagi menjadi berbagai refleksi sosial sastra, antara lain: (a) dunia sosial manusia dan seluk beluknya, (b) penyesuaian diri individu pada dunia lain, (c) bagaimana cita-cita untuk mengubah dunia sosialnya, (d) hubungan sastra dan politik, (e) konflik-konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Dari paparan demikian, berarti hubungan sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya akan saling melengkapi hidup manusia.
Sosiologi sastra bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Wilayah sosiologi cukup luas. Wellek dan Warren membagi sosiologi sastra sebagai berikut: (a) Sosiologi pengarang, yang mempermasalahkan status sosial, ideology sosial, dan menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra; (b) Sosiologi karya sastra, yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya dan (c) Sosiologi pembaca, yang mempermasalahkan pembaca dan dampak sosial karya sastra. Namun dalam hal ini penulis menitik beratkan pada penelitian sosiologi karya sastra.
Dalam penelitian ini, peneliti menelaah karya sastra yang menekankan pada aspek kekerabatan, cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya pada teks naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim. Adapun aspek-aspek sosial tersebut sebagai berikut.
1.      Aspek Kekerabatan
Kerabat dapat diartikan sebagai (1) yang dekat (pertalian keluarga); sedarah sedaging; (2) keluarga; (3) keturunan dari induk yang sama, yang dihasilkan dari gamet-gamet yang berbeda (Depdikbud, 1996: 482). Kekerabatan adalah adanya pertalian kekeluargaan atau kekerabatan, dapat berarti pula hubungan dekat atau  hubungan darah.
Sebagai makhluk sosial yang hidup bersama-sama, manusia senantiasa membentuk ikatan sosial untuk mencapai tujuan hidup tertentu. Kekerabatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan dekat antar tokoh cerita.
2.      Aspek Cinta Kasih
Cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan kasih sayang terhadap orang lain. Cinta kasih bisa terdiri dari cinta kasih terhadap orang tua, anak, sahabat, dan lawan jenis (laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya.
3.      Aspek Ekonomi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1996: 251) Ekonomi adalah (1) ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian dan perdagangan); (2) pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yang berharga; (3) tata kehidupan perekonomian (suatu Negara); (4) cak urusan keuangan rumah tangga (organisasi Negara). Jadi, dapat diartikan bahwa aspek perekonomian di sini adalah kegiatan manusia dalam mencari nafkah (mata pencaharian) atau mengembangkan kehidupannya.
4.      Aspek Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan penelitian; proses, perbuatan, cara mendidik (Depdikbud, 1996: 23).
Dalam wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.
Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
5.      Aspek Agama
Agama berarti sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (Depdikbud, 1996: 10). Dalam hal ini bisa diartikan bagaimana seseorang beribadah kepada Tuhannya.
6.      Aspek Sosial
Sosial berarti sesuatu yang berkenaan dalam masyarakat. Dalam hal ini sosial yang dimaksud adalah hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan tertentu dan juga masalah-masalah yang terdapat dalam masyarakat.
7.      Aspek Budaya
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia budaya berarti (1) pikiran, akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu yang mengenai kebudayaan; (4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah (Depdikbud, 1996: 149).
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi (Wikipedia).

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode adalah cara kerja atau jalan untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Dalam penelitian yang berjudul “Analisis Naskah Drama  Sang Pengamen Menggunakan Pendekatan Sosiologi”. Peneliti menggunkan metode penelitian yang terdiri dari objek penelitian, fokus penelitian, instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data.
A.    Objek Penelitian
 Objek penelitian ini berupa Naskah Drama  Sang Pengamen karya Dulrokhim.

B.     Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada tinjauan sosiologi karya sastra yang menitik beratkan pada aspek kekerabatan, cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya pada naskah drama  Sang Pengamen karya Dulrokhim.

C.    Instrumen Penelitian
Ari Kunto (20016: 160) berpendapat bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim, buku-buku tentang teori drama, teori pengkajian fiksi, sosiologi naskah dan metode penelitian sastra, sebagai acuan yang mendukung penelitian ini.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data yang berkaitan dengan judul penelitian. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Metode ini berpegang pada jenis dan sumber data yang bersifat kualitatif, yang dijabarkan dalam langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mencari objek yaitu naskah drama;
2.      Menentukan objek yaitu objek naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim;
3.      Membaca naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim secara cermat dan teliti;
4.      Mengidentifikasi data yang berhubungan dengan sosiologi karya sastra dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim.


BAB III
PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini, peneliti menelaah karya sastra yang menekankan pada aspek kekerabatan, cinta kasih, ekonomi, pendidikan, agama, sosial, dan budaya pada teks naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim. Adapun data-data yang peneliti dapatkan sebagai berikut.

1.      Aspek Kekerabatan
Bentuk kekerabatan dalam naskah drama Sang Pengamen, terdapat dalam kutipan di bawah ini.
a.       Pengamen dengan Ibunya
Hubungan anatar Pengamen dengan ibunya sangatlah baik. Begitu pula sebaliknya, ibu sangat menyayangi Pengamen. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
IBU                     : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?
PENGAMEN      : Sudah Bu. Lancar. Tadi pulang lebih awal. Guru-guru rapat persiapan test kenaikan kelas…”
b.      Pengamen dengan Ayahnya
Hubungan Pengamen dengan Ayahnya juga sangat baik. Sang Pengamen sangat menghormati ayahnya. begitupun dengan ayahnya, ia sangat perhatian pada Sang Pengamen. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
PENGAMEN    : Pak…
BAPAK                : Sudah pulang Kamu Man?
PENGAMEN      : Sudah Pak.
BAPAK                : Dapat uang berapa kamu dari hasil ngamen?
PENGAMEN      : Lima Ribu.
BAPAK                : Lima ribu? Biasanya sehari kamu dapat dua puluh ribu. Kok turun? Atau kamu yang malas?
PENGAMEN      : Tidak Pak. Memang lagi sepi. Mungkin gara-gara harga BBM naik.
BAPAK                : Sini uangnya. Untuk tambahan biaya sekolahmu nanti.

PENGAMEN mengulurkan uang recehan. BAPAK kembali batuk-batuk.”

BAPAK              : Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN      : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu. (masuk ke rumah).

c.       Pengamen dengan Dewi, Wulan dan Duta
Pengamen dengan ketiga sahabatnya berteman begitu baik. Mereka adalah teman satu kelas di SMP Muhammadiyah. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
Sore hari.
Di ruang keterampilan musik , DEWI, WULAN, DUTA, tengan menunggu sang PENGAMEN rekan sekelas mereka. Mereka tengah berlatih msuik WULAN memegang gitar, DUTA menabuh drum, dan DEWI bagian keyboard. Namun latihan mereka tidak berjalan baik, karena tidak lengkap. Sang PENGAWEN seharusnya menjadi vokalisnya. Mereka bahkan sampai mengulang tiga kali untuk satu lagi, itupun tidak sampai selesai.”
Selain kutipan di atas, bentuk kekerabatan Pengamen dengan temannya juga tergambar saat Pengamen menolong Dewi yang tertabrak sepeda di jalan. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
WULAN                         : Tolooooong…,tolooooong…!
Muncul si PENGAMEN.
PENGAMEN            : Ada apa ini Wulan?
WULAN                     : Dewi tertabrak sepeda.
PENGAMEN            : Ayo kita bawa saja ke rumah sakit.
Keduanya menggotong DEWI yang pingsan ke rumah sakit. Sementara sang PEMUDA masih tergeletak pingsan. Lalu datang dua POLISI. Yang satu memapah PEMUDA, yang satunya membawa sepeda ke Kantor Polisi.”

2.      Cinta Kasih
Cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan kasih sayang terhadap orang lain. Cinta kasih bisa terdiri dari cinta kasih terhadap orang tua, anak, sahabat, dan lawan jenis (laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya.
a.       Cinta Kasih Pengamen dengan Ayahnya
Aspek Cinta Kasih dalam naskah drama Sang Pengamen  terdapat dalam kutipan dibawah ini.
PENGAMEN    : Sudahlah Pak, jangan merokok lagi. Nanti batuknya bertambah parah.
BAPAK                : Aku sudah kecanduan, Man. Sulit menghilangkannya.
PENGAMEN      : Dicoba dulu untuk berhenti merokok. Peringatan pemerintah merokok itu dapat menyebabkan serangan jantung lho Pak.”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Rahman (pengamen) begitu menyayangi ayahnya. Ketika ayahnya merokok, Rahman mengingatkan ayahnya untuk berhenti merokok, karena ia tidak ingin kesehatan ayahnya terganggu.
b.      Cinta Kasih Ayah kepada Pengamen
Selain cinta kasih seorang anak kepada ayahnya, dalam naskah drama Sang Pengamen juga terdapat cinta kasih seorang ayah kepada anaknya. Hal itu terlihat dalam kutipan di bawah ini.
BAPAK              : Lalu mau jual apalagi? Kekayaan yang kita punya satu-satunya tinggal sepeda peninggalan bapakku itu.
IBU                       : Apa tidak sayang?
BAPAK                : Sayang sih. Tapi mau apa lagi. Yang penting anak kita bisa ikut test kenaikan kelas.
IBU                       : Terserahlah. (IBU masuk ke dalam rumah).
BAPAK                : Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN      : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu. (masuk ke rumah).”

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ayah sangatlah sayang kepada Rahman. Ayah yang hanya mempunyai kekayaan satu-satunya yaitu sepeda, rela menjual sepedanya itu untuk biaya sekolah Rahman. Ayah selalu berusaha menyenangkan hati Rahman. Ayah selalu memberi semangat kepada Rahman, agar selalu giat belajar.
c.       Cinta Kasih Ibu kepada Pengamen
Cinta kasih seorang ibu kepada anaknya juga dijelaskan dalam naskah drama Sang Pengamen. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
IBU               : Sudah sore begini, Rahman belum pulang juga ya pak Pak, kata Pak Polisi yang piket tadi, Rahman tidak jadi ditangkap. Tapi malah diajak pergi Komandan Polisi. Pergi ke mana ya Pak?
BAPAK          : Ya tidak tahu. Kita kan disuruh nunggu di rumah. Rahman pasti pulang. Jadi kamu yang sabar Bu. Kita berdoa semoga Rahman selamat.”
Dari kutipan di atas jelas bahwa Ibu sangat menyayangi Rahman. Ketika Rahman belum pulang ke rumah, Ibu gelisah, khawatir akan diri Rahman.

3.      Agama
Cerminan perbuatan yang menunjukkan aktifitas beragama yang kuat dalam naskah drama Sang Pengamen yaitu dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.
BAPAK        : Belajar yang rajin Man. Biar pintar. Kalau pintar kan bisa cepat kerja, bisa belikan bapak sepeda. Jangan lupa kalau belajar disertai do’a. Shalat dulu sana!
PENGAMEN            : (Terharu) Iya Pak. Saya shalat dulu. (masuk ke rumah).”

Terdengar suara adzan maghrib dari Mushola. BAPAK lalu ikut masuk kerumah

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa Rahman adalah seseorang yang religius, taat beragama. Ketika adzan telah berkumandang ia lantas masuk rumah untuk melaksanakan sholat.
Keluarga Rahman adalah keluarga yang taat dalam beribadah, walaupun keadaan keluarganya yang serba kekurangan, namun mereka tetap menjalankan kewajibannya yaitu sholat. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
PENGAMEN          : Sudahlah, Pak. Tidak usah dipikir. Aku nanti ngamen saja. Aku akan bekerja lebih keras, siang dan malam. Dengan hasil penjualan kardus, ditambah hasil dari mengamen, semoga nanti cukup untuk bayar tunggakan uang sekolah. Aku shalat Isya dulu Pak.
BAPAK          : Ya. Kita shalat berjama’ah bersama.”
Dari kutipan di atas jelaslah bahwa keluarga Rahman adalah keluarga yang religius, taat beribadah.
4.      Ekonomi
Bentuk perekonomian dalam naskah drama Sang Pengamen yaitu bermacam-macam profesi, ada yang menjadi pedagang, pengamen, pemulung, pencuri, dan juga polisi. Namun sebagian besar masyarakatnya adalah dari golongan perekonomian menengah ke bawah.
Mata pencaharian sebagai pedagang, dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“Siang hari
Di salah satu sudut pasar. Pedagang sibuk membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah melayani pembeli. Datang sang PENGAMEN.”
Dari kutipan di atas digambarkan aktifitas perekonomian, yaitu berdagang yang terjadi di pasar. Mereka sibuk dengan berbagai aktifitasnya, ada yang sibuk membersihkan dagangannya, ada yang sibuk melayani pembeli, dan lain sebagainya.
Mata pencaharian atau pekerjaan sebagai pengamen terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“Seorang siswa berseragam SMP, putih biru, mengenakan topi biru, membawa tas di punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak berapa lama, ia keluar dari WC dengan pakaian ala pengamen, celana levi’s sobek, berkaos oblong. Di tangannya menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang kawat dari besi melingkari leher yang tersambung dengan harmonica tepat di depan mulutnya. Ia lalu mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar kecilnya sambil mulutnya meniup harmonika.”
Dari kutipan di atas digambarkan ada seorang anak yaitu Rahman yang bekerja sebagai pengamen. Ia biasanya mengamen di toko-toko dan pasar-pasar.
Selain itu juga terdapat seorang pria yang bekerja sebagai pencuri. Hal ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“Beberapa saat setelah IBU, BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang PEMUDA yang mencurigakan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa aman, PEMUDA tersebut membawa sepeda yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan. Ia lalu memacu kencang sepeda satu-satunya milik sang BAPAK.”
Dari kutipan di atas digambarkan bahwa sosok PEMUDA yang bekerja sebagai pencuri. Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, melanggar agama, dan hukum. Sebaiknya, pekerjaan itu tidak boleh dijadikan sebagai profesi seseorang, karena jelas melanggar hokum.
Pekerjaan (mata pencaharian) sebagai pemulung terlihat dalam kutipan di bawah ini.
“IBU datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di punggungnya.

IBU           : Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK    : Itu hasil kerjaku (Menunjuk karung plastik berisi kardus yang sudah ditata.
IBU           : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?”
Dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa tokoh IBU dan BAPAK yakni Orang Tua Rahman adalah seorang pemulung.
Profesi sebagai Polisi dan Satpol Pamong Praja dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.
Tiba-tiba muncul seorang POLISI dan dua petugas SATPOL PAMONG PRAJA.

POLISI                 : Itu pengamennnya. Tangkap dia! (Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN      : Lho? Ada apa ini? Apa salah saya?
POLISI 2              : Sudah jangan banyak! Ayo ke Kantor Polisi!
PENGAMEN      : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya! Tolooong… saya tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolong…!

Dari kutipan di atas digambarkan profesi seorang Polisi dan petugas Satpol Pamong Praja yang biasanya bertugas menjaring anak-anak jalanan, pengemis dan juga pengamen.

5.      Pendidikan
Dalam novel Sang Pengamen karya Dulrokhim menceritakan pendidikan beberapa tokoh yang berperan. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
a.       Pedagang
Diceritakan dalam novel Sang Pengamen bahwa Pedagang 2 adalah lulusan SMP. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
PEDAGANG 2        : Ee, walau aku pedagang pasar, aku ini pernah ‘makan      sekolahan’. Aku ini lulusan SMP. Juga sering baca koran.Jadi tahu ilmu pengetahuan.”
b.      Orang Tua Sang Pengamen
Orang tua Sang Pengamen bekerja sebagai pemulung. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa mereka mempunyai pendidikan yang rendah, kira-kira tamatan SD. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
IBU datang dengan menggendong karung plastik berisi kardus-kardus di punggungnya.

IBU                 : Lho, Pak, Bapak tidak bekerja?
BAPAK          : Itu hasil kerjaku (Menunjuk karung plastik berisi kardus yang sudah ditata.
IBU     : (Sambil meletakkan karung plastik) Kamu sudah pulang Man? Bagaimana sekolahmu?”


c.       Sang Pengamen, Dewi, Wulan dan Duta
Diceritakan dalam naskah bahwa Sang Pengamen, Dewi, Wulan dan Duta adalah seorang pelajar SMP. Mereka adalah teman dalam satu kelas di SMP Muhammadiyah. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
POLISI 1                  : Kamu masih sekolah atau pengangguran?
PENGAMEN                        : Masih sekolah Pak.
POLISI 1                    : Sekolah di mana?
PENGAMEN                        : SMP Muhammadiyah Pak.
POLISI 1                    : SMP Muhammadiyah? Anak saya juga sekolah di situ.
PENGAMEN                        : Siapa namanya Pak, kalau boleh tahu?
POLISI 1                    : Dewi.
PENGAMEN            : Dewi Kumala Sari? Dewi satu kelas dengan saya.”

6.      Budaya
Dalam novel Sang Pengamen terdapat aspek budaya, yaitu kesenian menyanyikan lagu jawa. Ketika mengamen Sang Pengamen mahir dalam memainkan alat musik dan juga menyanyikan lagu jawa, yaitu keroncong “Bengawn Solo” ciptaan Gesang. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
Siang hari.
Di salah satu sudut pasar. Pedagang sibuk membersihkan dagangannya. Ada juga yang tengah melayani pembeli. Datang sang PENGAMEN.
PENGAMEN      : ( Menyanyi) bengawan solo…, riwayatmu kiniii… sedari dulu jadi perhatian insaniii… Musim kemarau, tak seberapa airmuuu….Di musim hujan air meluap sampai jauuuhh…
PEDAGANG 2   : Nha kalau lagu ini, baru nikmat rasanya.”


7.      Sosial
Dalam novel Sang Pengamen karya Dulrokhim terdapat masaah-masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat. Hal tersebut penulis jelaskan di bawah ini.
a.       Masalah Pencurian
Diceritakan ada seorang pemuda yang mencuri sepeda milik ayah Sang Pengamen. Ternyata perbuatan itu dilakukan untuk membeli minuman keras. Namun tidak lama kemudian ia ditangap polisi. Kejadian tersebut marak terjadi di lingkungan masyarakat.
Beberapa saat setelah IBU, BAPAK, dan PENGAMEN masuk ke dalam rumah, datang seorang PEMUDA  yang mencurigakan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi. Setelah dirasa aman, PEMUDA tersebut memebawa sepeda yang ditaruh di luar rumah perlahan-lahan. Ia lalau memacu kencang sepeda satu-satunya milik sang BAPAK”
POLISI 1      : Itu namanya mencuri. Untuk apa sepeda itu? Jawab yang  jujur!
PEMUDA      : Mau saya jual Pak.
POLISI 1        : Dijual? Untuk apa?
PEMUDA      : Buat beli minuman keras Pak.
POLISI 1        : Dasar pemabuk. (Mengambil kertas di atas mesin ketik). Sudah tanda tangani Berita Acara Pemeriksaan ini.”

b.      Pengamen yang Terjaring Petugas Satpol PP dan Polisi
Di dalam masyarakat, kita sering menjumpai pengemis, pengamen, gelandangan, yang terjaring razia oleh petugas SatPol PP dan polisi untuk nantinya di bawa ke panti sosial untuk di beri pengarahan.
Tiba-tiba muncul seorang POLISI dan dua petugas SATPOL PAMONG PRAJA
POLISI 2        : Itu pengamennya. Tangkap dia !! ( Petugas Satpol PP menangkap pengamen)
PENGAMEN            : Lho? Ada apa ini? Apa salah saya?
POLISI 2                    : Sudah jangan banyak bicara! Ayo ke Kantor Polisi !
PENGAMEN            : Saya tidak bersalah! Lepaskan saya! Tolooong… saya tidak bersalah. Lepaskan saya! Tolooong…!
Sang PENGAMEN ditangkap, dibawa ke Kantor Polisi.”
c.       Pengorbanan menjadi Pengamen
Menjadi seorang pengamen bukanlah keinginan semua orang. Namun karena keadaan memaksakan seseorang menjadi pengamen. Hal ini juga terjadi pada tokoh Rahman (Sang Pengamen) untuk membantu kedua orang tuanya membiayai sekolah, ia rela menjadi pengamen. Walaupun kadang kala mendapat hujatan dari orang-orang. Hal ini terdapat dalam kutipan di bawah ini.
Seorang siswa berseragam SMP, putih biru, mengenakan topi biru, membawa tas di punggungnya lewat. Ia masuk ke WC. Tak berapa lama, ia keluar dari WC dengan pakaian ala pengamen, celana levi’s sobek, berkaos oblong. Di tangannya menenteng gitar kecil. Di depan mulut terpasang kawat dari besi melingkari leher yang tersambung dengan harmonica tepat di depan mulutnya. Ia lalu mengamen ke salah satu pedagang pasar, memainkan gitar kecilnya sambil mulutnya meniup harmonika.
Baru sesaat bermain musik, PENGAMEN tadi diusir seorang pedagang.
PEDAGANG 1         : Eit, baru buka dasar. Belum ada receh. Yang lain saja dulu    ya!
PENGAMEN tersebut menghentikan bermain musiknya. Ia berjalan ke pedagang di sebelahnya.
PEDAGANG 2         : Kalau main musik yang benar. Jangan asal bunyi. Aku minta lagu keroncong ya!”

BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan data, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan bahwa dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim terdapat beberapa aspek yaitu terdapat dalam masyarakat diantaranya kekerabatan, cinta kasih, agama, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
Aspek kekerabatan terjadi pada beberapa tokoh antara lain hubungan kekerabatan anatara tokoh Sang Pengamen dengan Ibunya, dengan Ayahnya, dengan ketiga temannya yaitu, Dewi, Wulan dan Duta. Hubungan kekerabatan tersebut terjalin begitu baik.
Aspek cinta kasih terdapat pada beberapa tokoh. Cinta kasih seorang anak kepada ayahnya, cinta kasih anak kepada ibunya, cinta kasih seorang ibu  kepada anaknya, dan cinta kasih seorang ayah kepada anaknya.
Aspek Ekonomi dalam naskah drama Sang Pengamen yaitu bermacam-macam profesi, ada yang menjadi pedagang, pengamen, pemulung, pencuri, dan juga polisi. Namun sebagian besar masyarakatnya adalah dari golongan perekonomian menengah ke bawah.
Aspek Agama yang terjadi dalam naskah drama yaitu keluarga Pengamen adalah keluarga yang taat beribadah. Walaupun keadaan keluarganya yang serba kekurangan, namun mereka tetap menjalankan kewajibannya yaitu sholat.
Aspek Pendidikan diceritakan dalam naskah drama bahwa terdapat beragam pendidikan pada tokoh-tokohnya. Pengamen dan ketiga temannya sedang menempuh pendidikan ditingkat SMP. Sedangkan orang tua pengamen berpendidikan rendah terbukti mereka hanyalah sebagi pemulung.
Aspek Budaya juga terdapat dalam naskah drama yaitu yaitu kesenian menyanyikan lagu jawa. Ketika mengamen Sang Pengamen mahir dalam memainkan alat musik dan juga menyanyikan lagu jawa, yaitu keroncong “Bengawan Solo” ciptaan Gesang.
Aspek sosial yang terdapat dalam naskah yaitu fenomena-fenomena yang sering kita jumpai dalam masyarakat seperti masalah pencurian, pengamen yang terjaring razia, dan lain sebagainya.
Dari berbagai aspek sosial yang terdapat dalam naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim, mulai dari aspek kekerabatan, cinta kasih, agama, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan politik kesemuanya itu sering kita jumpai dalam masyarakat yang merupakan cerminan dalam kehidupan bermasyarakat.

A.    Saran
Bagi pembaca agar penelitian ini menjadi media untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra, sehingga memberi makna atau menilai karya sastra khususnya novel. Selain itu, naskah drama Sang Pengamen karya Dulrokhim layak dibaca karena dalam novel tersebut pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah tetntang kehidupan sosial yang berada di lingkungan masyarakat.


 DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dewojati, Cahyaningrum. 2012. Drama (Sejarah, Teori dan Penerapannya). Yogyakarta: Javakarsa Media.
Dulrokhim. 2013. Bulan Ranai (Antologi Enam Drama Remaja). Yogyakarta: Elmatera.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Faruk. 2014. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saputra, Marliyan Eko. 2009. “Tinjauan Sosiologi Sastra Novel 5 cm Karya Dhonny Dhirgantoro Serta Kemungkinan Pembelajarannya di SMA”. Purworejo: Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Setyorini, Yully. 2012. “Analisis Sosiologi Sastra Novel Dalam Mihrab Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA”. Purworejo: Skripsi. Universitas Muhammadiya Purworejo.
Widyahening, Ch. Evy Tri, dkk. 2012. Kajian Drama. Surakarta: Cakrawala Media.































TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...