Sunday, April 12, 2020

ANALISIS KESALAHAN BAHASA INDONESIA (ANAKES)


ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Oleh: Nur Anif, S.Pd.
(Guru SMK Negeri Nusawungu)

Berikut saya sajikan contoh soal dan pembahasan mengenai kesalahan berbahasa mulai dari kesalahan fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana.
1.        Pada kutipan diatas, berisi tentang watak tokoh Siti.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “diatas” dalam kalimat (1).
·         Kalimat (1) salah karena unsur kalimatnya kurang subjek.
·         Dalam kalimat (1) terdapat penggunaan kata mubazir “tentang”

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di pada kalimat (1) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
·         Kalimat (1) unsur pembangun kalimatnya kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan menambahkan unsur subjek. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menghilangkan kata pada sehingga kalimat tersebut menjadi kalimat yang lengkap unsur pembangunnya. Berikut akan dijelaskan klasifikasi fungsi kalimat pada kalimat (1).
Kutipan  diatas  berisi  tentang watak tokoh Siti.
S               Ket.     P                      Pel.
·         Dalam kalimat (1) terdapat penggunaan kata mubazir, yakni kata “tentang”. Kata tersebut tidak perlu digunakan dalam kalimat tersebut karena fungsinya tidak begitu peting. Jika kata “tentang” dihilangkan, makna dalam kalimat tersebut tidak akan berubah. Jadi, lebih baik kata “tentang” dihilangkan. 
 
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
            Berdasarkan analisis tersebut, perbaikan atas kesalahan adalah sebagai berikut.
·         Kutipan di atas berisi watak tokoh Siti.

2.        Untuk mengajar bahasa memerlukan pelatihan secara secara berulang-kali.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Kalimat (2) salah karena unsur kalimatnya kurang subjek.
·         Terdapat kesalahan morfologis pada reduplikasi “berulang-kali”
·         Terdapat kesalahan nalar pada kata “mengajar bahasa”

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kalimat di atas unsur pembangun kalimatnya kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan menambahkan kata “guru” yang berfungsi sebagai subjek agar kalimat tersebut lengkap unsur pembangun kalimatnya. Klasifikasi unsur kalimat (1) sebagai berikut.
Untuk mengajar bahasa,  guru  memerlukan pelatihan secara berulang-kali.
                 Ket.                   S           P                               O

Dapat juga kalimat tersebut dipasifkan:
Pelatihan secara berulang-kali  diperlukan untuk mengajar bahasa.
                 S                                  P                      O
·         Bentuk berulang-kali merupakan bentuk rancu dari dua bentuk, yakni (1) berulang-ulang dan (2) berkali-kali. Kedua bentuk tersebut merupakan bentuk yang betul. Namun, jika digabungkan menjadi berulang-kali, bentuk ini salah karena merupakan bentuk kontaminasi dari bentuk berulang-ulang dan berkali-kali.

·         Dalam kalimat (2) yang diajar bukan bahasa, melainkan orang (peserta didik) sebab yang diajar adalah yang belajar dan oranglah yang belajar. Bahasa merupakan pelajaran, yakni ”sesuatu yang diajarkan”. Bentuk aktif diajarkan adalah mengajarkan. Dalam kalimat (2) bentuk yang digunakan adalah aktif, yakni mengajarkan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
     Berdasarkan analisis di atas perbaikan kalimat yang benar yaitu:
·         Untuk mengajarkan bahasa, guru memerlukan pelatihan secara berulang-ulang (atau berkali-kali) .

3.        Hal ini karena siswa hanya menyimak penjelasan dari guru sehingga merasa bosan.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan sintaktis dalam kalimat (3) karena tidak ada unsur Predikat.

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kalimat (3) belum terdapat unsur predikat sehingga harus dilengkapi dengan menambahkan kata “terjadi” yang berfungsi sebagai Predikat. Jadi, klasifikasi unsur kalimat pada kalimat (3) adalah sebagai berikut.
Hal ini  terjadi  karena siswa hanya menyimak penjelasan dari guru  sehingga merasa
     S          P                                  Ket.                                                     Konj.     P
bosan.
  O

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan kalimat di atas yaitu:
·         Hal ini terjadi karena siswa hanya menyimak penjelasan guru sehingga merasa bosan.

4.        Bagi lulusan dengan predikat cum laude mempunyai kesempatan menjadi dosen.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Kalimat (4) salah karena unsur kalimatnya kurang subjek.
·         Kesalahan penulisan kata “cum laude”

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Dalam kalimat (4), penulisan kata “cum laude” salah karena tidak ditulis dengan huruf miring. Dalam bahasa Indonesia kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa jawa harus ditulis dengan huruf miring. Kata “cum laude” berasal dari bahasa latin yang berarti dengan pujian. Oleh karena itu kata “cum laude” merupakan kata yang diserap dari bahasa asing sehingga harus ditulis miring.
·         Kalimat (4) unsur pembangun kalimatnya kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan menambahkan unsur subjek “mereka” agar kalimat tersebut lengkap unsur pembangun kalimatnya.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
     Berdasarkan analisis di atas perbaikan kalimat (4) yaitu sebagai berikut.
Bagi lulusan dengan predikat cum laude, mereka mempunyai kesempatan menjadi  dosen.

5.        Akhlak bangsa kita rusak dikarenakan kurangnya suri tauladan dari orang tua.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “tauladan” dalam kalimat (5) karena kata tersebut tidak baku.
·         Terdapat kesalahan penggunaan kata “dikarenakan” dalam kalimat (5).

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kata “tauladan” salah karena kata dengan ejaan itu tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi adanya kata “teladan” yang artinya perbuatan yang patut ditiru.
·         Dalam kalimat (5) terdapat kesalahan penggunaan kata “dikarenakan”. Kojungtor “karena” mendapat konfiks di-/-kan. Dalam kaidah bahasa Indonesia, konjungtor tidak dapat melalui proses afiksasi. Jadi kata “dikarenakan” harus diubah menjadi “karena”.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
                 Berdasarkan analisis di atas perbaikan pada kalimat di atas yaitu:
·         Akhlak bangsa kita rusak karena kurangnya suri teladan dari orang tua.


6.        Keputus asaan adalah merupakan salah satu ciri orang tidak beriman.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “keputus asaan” dalam kalimat (6)
·         Terdapat penggunaan kata yang mubazir dalam kalimat (6).

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kata “keputus asaan” merupakan gabungan kata yang dirasakan sudah padu sehingga penulisannya harus dirangkai.
·         Dalam kalimat (6) terdapat penggunaan kata mubazir, yakni pada kata “adalah” dan “merupakan”. Kedua kata tersebut mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk menjelaskan atau menegaskan suatu makna tertentu sehingga salah satunya harus dihilangkan.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan pada kalimat di atas yaitu:
·         Keputusasaan merupakan salah satu ciri orang tidak beriman.

7.        Generasi muda seharusnya diberikan contoh yang baik oleh generasi tua.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Dalam kalimat (7) terdapat kesalahan global karena dapat membuat salah tafsir bagi pembacanya.

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kata “diberikan” dalam kalimat tersebut digunakan tidak tepat karena dapat menimbulkan kesalahan tafsiran makna. Jika yang digunakan kata “diberikan” berarti yang diberikan itu generasi mudanya padahal seharusnya yang diberikan itu contoh kepada generasi muda. Agar tidak terjadi kesalahan tafsir, kata “diberikan” diganti dengan “diberi”. Penyimpangan atas kaidah pada kesalahan ini menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi. Petutur tidak dapat memahami maksud tuturan atau menafsirkan tuturan yang berbeda dengan maksud penutur.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Generasi muda seharusnya diberi contoh yang baik oleh generasi tua.

8.        Ternyata hakim tinggi-hakim tinggipun ada yang korupsi.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan morfologis pada kalimat (8), yakni pada proses pemajemukan kata “hakim tinggi-hakim tinggipun”
·         Terdapat kesalahan penulisan partikel pun pada kata “tinggipun”.

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Dalam kalimat (8) proses pemajemukan pada kata “hakim tinggi-hakim tinggipun” kurang tepat karena kedua unsur kata tersebut diulang semuanya. Jika konstruksi verba majemuk atau nomina majemuk mengalami reduplikasi, yang dire-duplikasi adalah unsur yang dapat direduplikasi. Oleh karena itu, penulisannya menjadi “hakim-hakim tinggi pun”.
·         Partikel “pun” dalam kalimat (8) ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya sehingga penulisannya tidak tepat. Dalam EyD, dijelaskan bahwa partikel “pun” ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Ternyata hakim-hakim tinggi pun ada yang korupsi.

9.        Pemerintahan siapapun harus konsekwen berjuang mensejahterakan rakyat.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan partikel pun pada kata “siapapun” dalam kalimat (9).
·         Terdapat kesalahan penulisan kata pada kata “konsekwen” dalam kalimat (9).
·         Terdapat kesalahan morfologis pada kata “mensejahterakan” dalam kalimat (9).

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Partikel “pun” pada kata “siapapun” dalam kalimat (9) ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya sehingga penulisannya tidak tepat. Dalam EyD, dijelaskan bahwa partikel “pun” ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Oleh karena itu penulisan yang benar yaitu “siapa pun”.
·         Dalam kalimat (9) terdapat kesalahan penulisan kata “konsekwen”. Kata “konsekwen” berasal dari bahasa inggris “consistent”. Menurut EyD pengindonesiaan ejaan kata tersebut adalah “konsekuen”.
·         Dalam kalimat (9) terdapat kesalahan morfologis pada kata “mensejahterakan”. Bentuk mensejahterakan salah karena tidak sesuai dengan kaidah morfofonemik bahasa Indonesia. Bentuk mensejahterakan berasal dari kata sejahtera memperoleh afiks meng-/-an. Menurut kaidah, konfiks meng-/-an jika diimbuhkan pada kata yang berfonem pertama /s/ menyebabkan /s/ luluh dan prefiks meng- berubah menjadi meny-. Jadi meng-/-kan + sejahtera menjadi menyejahterakan.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Pemerintahan siapa pun harus konsekuen berjuang menyejahterakan rakyat.

10.    Kita bersyukur kepada Allah SWT. dimana sampai saat ini kita telah diberikan berbagai kenikmatan.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan singkatan pada kata “SWT.”
·         Terdapat kesalahan penggunaan kata “dimana” karena membuat kalimat (10) tidak logis.

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         SWT. merupakan singkatan dari subhanahu wa ta’ala yang berasal dari bahasa Arab. Kata itu disingkat dengan tiga huruf. Dalam EyD diatur bahwa singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri dengan tanda titik. Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diatur bahwa singkatan kata tersebut ditulis dengan huruf pertama kapital, sedangkan dua huruf yang lain ditulis dengan huruf kecil. Penulisan singkatan tersebut yang betul adalah Swt.
·          Kata “dimana” dalam kalimat (1) digunakan tidak tepat karena bentuk “di mana” menunjukkan suatu tempat. Fungsi “dimana” dalam kalimat (1) digunakan sebagai konjungtor. Dalam kaidah bahasa Indonesia konjungtor “di mana” tidak ada. Konjungtor yang tepat digunakan dalam kalimat (1) adalah konjungtor subordinatif, yakni “karena”.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Kita bersyukur kepada Allah Swt. karena sampai saat ini kita telah diberikan berbagai kenikmatan.

11.    Dalam makalah ini membahas tentang penggunaan kata-kata serapan dalam Suara Muhammadiyah 2003.
Langkah I: Mengidentifikasi Masalah
·         Kalimat (11) salah karena unsur kalimatnya kurang subjek.
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “Suara Muhammadiyah 2003” dalam kalimat (11).

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kalimat (11) diawali preposisi dalam yang menyebabkan hilangnya Subjek. Frasa makalah ini sesungguhnya merupakan Subjek. Namun, karena didahului preposisi dalam, terbentuklah frasa preposisional dalam makalah ini yang berfungsi sebagai Keterangan. Akibatnya, kalimat (11) tidak bersubjek. Agar bersubjek, kalimat (11) setelah keterangan, diberi Subjek misalnya penulis, dia, kami, dsb. Adapaun klasifikasi unsur kalimatnya adalah sebagai berikut.

Dalam makalah ini  penulis  membahas  tentang penggunaan kata-kata serapan dalam
                 Ket.           S                P                                  Pel
Suara Muhammadiyah 2003.

·         Dalam kalimat (11) terdapat kesalahan penulisan kata “Suara Muhammadiyah 2003” karena tidak ditulis miring. Dalam EyD, huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Dalam makalah ini penulis membahas penggunaan kata-kata serapan dalam Suara Muhammadiyah 2003.

12.    Bangsa Indonesia sedang melawan krisis multi dimensional, terutama krisis moral. Maka dari itu, kita harus berjuang secara sungguh-sungguh.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “dimensional”
·         Terdapat kesalahan penulisan kata “multi dimensional” dalam kalimat (12).
·         Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor “maka dari itu” dalam kalimat (12)

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Kata “dimensional” berasal dari bahasa Inggris “dimensional”. Menurut EyD pengindonesiaan kata “dimensional” adalah “dimensi”. Sementara itu, dalam KBBI kata “dimensional” tidak ditemukan, tetapi yang ada kata “dimensi”. Jadi, kata yang betul dalam kalimat (12) adalah “dimensi”.
·         Kata “multi dimensi” merupakan gabungan kata yang dirasakan sudah padu sehingga penulisannya harus dirangkai.
·         Konjungtor antarkalimat “maka dari itu” tidak terdapat dalam kaidah bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Indonesia konjungtor “maka” merupakan konjungtor subordinatif yang digunakan untuk menghubungkan klausa yang satu dengan klausa lainnya.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·         Bangsa Indonesia sedang krisis multidimensi, terutama krisis moral. Oleh karena itu, kita harus berjuang secara bersungguh-sungguh.
13.    Karena pengetahuan kebahasaannya rendah, sehingga dia sering salah dalam berbahasa Indonesia.
Langkah I: Mengidentifikasi Masalah
·         Pada kalimat (16) terdapat kesalahan penggunaan konjungtor karena dan sehingga.

Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·         Dalam kalimat majemuk bertingkat harus ada klausa yang berkedudukan sebagai induk kalimat. Namun, dalam kalimat (6) semua klausa berkedudukan sebagai anak kalimat. Hal itu terjadi karena dalam kalimat itu digunakan dua konjungtor subordinatif  karena dan sehingga. Agar kalimat itu berinduk, salah satu konjungtor itu harus dihilangkan.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan pada kalimata (16) adalah sebagai berikut.
·         Karena pengetahuan kebahasaannya rendah, dia sering salah dalam berbahasa Indonesia.

14.   Karya sastra merupakan hasil ciptaan seorang pengarang yang diperuntukan sebagai reaksi atau tanggapan atau tanggapan pengarang terhadap keadaan yang terjadi disekelilingnya. Tanggapan tersebut dapat berisi sebuah apresiasi maupun kritikan dari kondisi yang terjadi pada waktu yang lalu, saat ini, bahkan yang akan datang. Sehingga sebuah karya sastra tidak hanya berguna pada masa lampau dan masa kini namun juga akan berguna diwaktu yang akan datang. Pada masa yang lalu, suatu kejadian dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan yang akan datang.
Langkah I: Mengidentifikasi Kesalahan
·         Terdapat kesalahan penggunaan kata “diperuntukan”
·         Terdapat kesalahan penulisan preposisi “di” pada kata “disekelilingnya”
·         Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor “sehingga” karena digunakan untuk menghubungkan kalimat satu dengan kalimat yang lainnya.
·         Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor “namun”
·         Terdapat kesalahan penulisan preposisi “di” pada kata “diwaktu”

Langkah II: Memperbaiki Kesalahan
·         Kata “diperuntukan” dalam tuturan (1) penggunaannya tidak tepat. Hal itu membuat kalimat tersebut rancu. Agar tidak rancu, kata “diperuntukan” harus diganti dengan kata “digunakan”.
·         Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di pada kata “disekelilingnya” ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Penulisan yang benar adalah “di sekelilingnya”.
·         Dalam tuturan (2) konjungtor sehingga digunakan sebagai konjungtor antarkalimat. Menurut kaidah, konjungtor tersebut merupakan konjungtor subordinatif yang berfungsi sebagai perangkai klausa yang satu dengan klausa yang lain dalam kalimat majemuk. Jadi, konjungsi ”sehingga” pada tuturan (2) harus diganti dengan konjungtor antarkalimat ”oleh karena itu”.
·         Dalam tuturan (2) konjungtor “namun” digunakan untuk menghubungkan klausa yang satu dengan klausa yang lain. Menurut kaidah, konjungtor tersebut merupakan konjungtor antarkalimat yang berfungsi sebagai perangkai kalimat satu dengan kalimat yang lain. Jadi, konjungsi “namun” pada tuturan (2) harus  diganti dengan konjungtor “tetapi”.
·         Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di pada kata “diwaktu” ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Penulisan yang benar adalah “di waktu”.

Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan pada kalimata (16) adalah sebagai berikut.
·         Karya sastra merupakan hasil ciptaan seorang pengarang yang digunakan sebagai reaksi atau tanggapan pengarang terhadap keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Tanggapan tersebut dapat berisi sebuah apresiasi maupun kritikan dari kondisi yang terjadi pada waktu yang lalu, saat ini, bahkan yang akan datang. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak hanya berguna pada masa lampau dan masa kini, tetapi juga akan berguna di waktu yang akan datang. Pada masa yang lalu, suatu kejadian dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan yang akan datang.

No comments:

Post a Comment

TEORI SASTRA (PUISI, PROSA DAN DRAMA)

Untuk dapat lebih banyak materi, silakan kunjungi: TEORI SASTRA A.       PUISI 1.          Pengertian Puisi Puisi beras...