ANALISIS
KESALAHAN BERBAHASA
Oleh: Nur Anif, S.Pd.
(Guru SMK Negeri
Nusawungu)
Berikut saya sajikan
contoh soal dan pembahasan mengenai kesalahan berbahasa mulai dari kesalahan fonologi,
morfologi, sintaksis, dan wacana.
1.
Pada kutipan diatas, berisi tentang
watak tokoh Siti.
Langkah I:
Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan kata
“diatas” dalam kalimat (1).
·
Kalimat (1) salah karena unsur
kalimatnya kurang subjek.
·
Dalam kalimat (1) terdapat penggunaan
kata mubazir “tentang”
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di
pada kalimat (1) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
·
Kalimat (1) unsur pembangun kalimatnya
kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena itu, perlu
dilengkapi dengan menambahkan unsur subjek. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan
menghilangkan kata pada sehingga
kalimat tersebut menjadi kalimat yang lengkap unsur pembangunnya. Berikut akan
dijelaskan klasifikasi fungsi kalimat pada kalimat (1).
Kutipan diatas
berisi tentang watak
tokoh Siti.
S Ket. P Pel.
·
Dalam kalimat (1) terdapat penggunaan
kata mubazir, yakni kata “tentang”. Kata tersebut tidak perlu digunakan dalam
kalimat tersebut karena fungsinya tidak begitu peting. Jika kata “tentang”
dihilangkan, makna dalam kalimat tersebut tidak akan berubah. Jadi, lebih baik
kata “tentang” dihilangkan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis tersebut, perbaikan atas kesalahan adalah sebagai
berikut.
·
Kutipan di atas berisi watak tokoh Siti.
2.
Untuk mengajar bahasa memerlukan
pelatihan secara secara berulang-kali.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Kalimat (2) salah karena unsur
kalimatnya kurang subjek.
·
Terdapat kesalahan morfologis pada
reduplikasi “berulang-kali”
·
Terdapat kesalahan nalar pada kata
“mengajar bahasa”
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kalimat di atas unsur pembangun
kalimatnya kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena
itu, perlu dilengkapi dengan menambahkan kata “guru” yang berfungsi sebagai
subjek agar kalimat tersebut lengkap unsur pembangun kalimatnya. Klasifikasi
unsur kalimat (1) sebagai berikut.
Untuk
mengajar bahasa, guru memerlukan pelatihan secara
berulang-kali.
Ket. S P O
Dapat
juga kalimat tersebut dipasifkan:
Pelatihan
secara berulang-kali diperlukan
untuk mengajar bahasa.
S P O
·
Bentuk berulang-kali merupakan bentuk rancu
dari dua bentuk, yakni (1) berulang-ulang
dan (2) berkali-kali. Kedua bentuk tersebut
merupakan bentuk yang betul. Namun, jika digabungkan menjadi berulang-kali, bentuk ini salah karena
merupakan bentuk kontaminasi dari bentuk berulang-ulang
dan berkali-kali.
·
Dalam kalimat (2) yang diajar bukan bahasa, melainkan orang
(peserta didik) sebab yang diajar adalah yang belajar dan oranglah yang
belajar. Bahasa merupakan pelajaran, yakni ”sesuatu yang diajarkan”. Bentuk
aktif diajarkan adalah mengajarkan.
Dalam kalimat (2) bentuk
yang digunakan adalah aktif, yakni mengajarkan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan
kalimat yang benar yaitu:
·
Untuk mengajarkan bahasa, guru
memerlukan pelatihan secara berulang-ulang
(atau berkali-kali) .
3.
Hal ini karena siswa hanya menyimak
penjelasan dari guru sehingga merasa bosan.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan sintaktis dalam
kalimat (3) karena tidak ada unsur Predikat.
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kalimat (3) belum terdapat unsur
predikat sehingga harus dilengkapi dengan menambahkan kata “terjadi” yang
berfungsi sebagai Predikat. Jadi, klasifikasi unsur kalimat pada kalimat (3) adalah
sebagai berikut.
Hal
ini
terjadi karena siswa hanya menyimak penjelasan
dari guru sehingga merasa
S P Ket. Konj. P
bosan.
O
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di
atas perbaikan kalimat di atas yaitu:
·
Hal ini terjadi karena siswa hanya
menyimak penjelasan guru sehingga merasa bosan.
4.
Bagi lulusan dengan predikat cum laude
mempunyai kesempatan menjadi dosen.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Kalimat (4) salah karena unsur
kalimatnya kurang subjek.
·
Kesalahan penulisan kata “cum laude”
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Dalam kalimat (4), penulisan kata “cum
laude” salah karena tidak ditulis dengan huruf miring. Dalam bahasa Indonesia
kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa jawa harus ditulis dengan
huruf miring. Kata “cum laude” berasal dari bahasa latin yang berarti dengan
pujian. Oleh karena itu kata “cum laude” merupakan kata yang diserap dari
bahasa asing sehingga harus ditulis miring.
·
Kalimat (4) unsur pembangun kalimatnya
kurang lengkap, yaitu tidak adanya unsur subjek (S). Oleh karena itu, perlu
dilengkapi dengan menambahkan unsur subjek “mereka” agar kalimat tersebut
lengkap unsur pembangun kalimatnya.
Langkah
III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan kalimat (4) yaitu sebagai
berikut.
Bagi
lulusan dengan predikat cum laude,
mereka mempunyai kesempatan menjadi
dosen.
5.
Akhlak bangsa kita rusak dikarenakan kurangnya
suri tauladan dari orang tua.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan kata
“tauladan” dalam kalimat (5) karena kata tersebut tidak baku.
·
Terdapat kesalahan penggunaan kata
“dikarenakan” dalam kalimat (5).
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kata “tauladan” salah karena kata dengan
ejaan itu tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi adanya kata
“teladan” yang artinya perbuatan yang patut ditiru.
·
Dalam kalimat (5) terdapat kesalahan
penggunaan kata “dikarenakan”. Kojungtor “karena” mendapat konfiks di-/-kan. Dalam
kaidah bahasa Indonesia, konjungtor tidak dapat melalui proses afiksasi. Jadi
kata “dikarenakan” harus diubah menjadi “karena”.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas
perbaikan pada kalimat di atas yaitu:
·
Akhlak bangsa kita rusak karena
kurangnya suri teladan dari orang tua.
6.
Keputus asaan adalah merupakan salah
satu ciri orang tidak beriman.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan kata
“keputus asaan” dalam kalimat (6)
·
Terdapat penggunaan kata yang mubazir
dalam kalimat (6).
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kata “keputus asaan” merupakan gabungan
kata yang dirasakan sudah padu sehingga penulisannya harus dirangkai.
·
Dalam kalimat (6) terdapat penggunaan
kata mubazir, yakni pada kata “adalah” dan “merupakan”. Kedua kata tersebut
mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk menjelaskan atau menegaskan suatu makna
tertentu sehingga salah satunya harus dihilangkan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan analisis di atas perbaikan pada kalimat
di atas yaitu:
·
Keputusasaan merupakan salah satu ciri
orang tidak beriman.
7.
Generasi muda seharusnya diberikan
contoh yang baik oleh generasi tua.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Dalam kalimat (7) terdapat kesalahan global
karena dapat membuat salah tafsir bagi pembacanya.
Langkah
II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kata “diberikan” dalam kalimat tersebut digunakan
tidak tepat karena dapat menimbulkan kesalahan tafsiran makna. Jika yang
digunakan kata “diberikan” berarti yang diberikan itu generasi mudanya padahal
seharusnya yang diberikan itu contoh kepada generasi muda. Agar tidak terjadi
kesalahan tafsir, kata “diberikan” diganti dengan “diberi”. Penyimpangan atas kaidah pada kesalahan ini menyebabkan
terjadinya gangguan komunikasi. Petutur tidak dapat memahami maksud tuturan
atau menafsirkan tuturan yang berbeda dengan maksud penutur.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Generasi muda seharusnya diberi contoh
yang baik oleh generasi tua.
8.
Ternyata hakim tinggi-hakim tinggipun
ada yang korupsi.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan morfologis pada
kalimat (8), yakni pada proses pemajemukan kata “hakim tinggi-hakim tinggipun”
·
Terdapat kesalahan penulisan partikel
pun pada kata “tinggipun”.
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Dalam kalimat (8) proses pemajemukan pada kata
“hakim tinggi-hakim tinggipun” kurang tepat karena kedua unsur kata tersebut
diulang semuanya. Jika konstruksi verba majemuk atau nomina majemuk mengalami
reduplikasi, yang dire-duplikasi adalah unsur yang dapat direduplikasi. Oleh
karena itu, penulisannya menjadi “hakim-hakim tinggi pun”.
·
Partikel “pun” dalam kalimat (8) ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya sehingga penulisannya tidak tepat. Dalam
EyD, dijelaskan bahwa partikel “pun” ditulis terpisah dari kata yang
mendahuluinya.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Ternyata hakim-hakim tinggi pun ada yang
korupsi.
9.
Pemerintahan siapapun harus konsekwen
berjuang mensejahterakan rakyat.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan partikel
pun pada kata “siapapun” dalam kalimat (9).
·
Terdapat kesalahan penulisan kata pada
kata “konsekwen” dalam kalimat (9).
·
Terdapat kesalahan morfologis pada kata
“mensejahterakan” dalam kalimat (9).
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Partikel “pun” pada kata “siapapun”
dalam kalimat (9) ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya sehingga
penulisannya tidak tepat. Dalam EyD, dijelaskan bahwa partikel “pun” ditulis
terpisah dari kata yang mendahuluinya. Oleh karena itu penulisan yang benar
yaitu “siapa pun”.
·
Dalam kalimat (9) terdapat kesalahan
penulisan kata “konsekwen”. Kata “konsekwen” berasal dari bahasa inggris
“consistent”. Menurut EyD pengindonesiaan ejaan kata tersebut adalah “konsekuen”.
·
Dalam kalimat (9) terdapat kesalahan
morfologis pada kata “mensejahterakan”. Bentuk mensejahterakan salah karena tidak
sesuai dengan kaidah morfofonemik bahasa Indonesia. Bentuk mensejahterakan
berasal dari kata sejahtera
memperoleh afiks meng-/-an.
Menurut kaidah, konfiks meng-/-an jika diimbuhkan pada
kata yang berfonem pertama /s/ menyebabkan
/s/ luluh dan prefiks meng- berubah menjadi meny-. Jadi meng-/-kan + sejahtera menjadi menyejahterakan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Pemerintahan siapa pun harus konsekuen
berjuang menyejahterakan rakyat.
10. Kita
bersyukur kepada Allah SWT. dimana sampai saat ini kita telah diberikan
berbagai kenikmatan.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan singkatan pada
kata “SWT.”
·
Terdapat kesalahan penggunaan kata
“dimana” karena membuat kalimat (10) tidak logis.
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
SWT. merupakan singkatan dari subhanahu wa ta’ala
yang berasal dari bahasa Arab. Kata itu disingkat dengan tiga huruf. Dalam EyD
diatur bahwa singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri
dengan tanda titik. Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diatur bahwa singkatan kata tersebut ditulis dengan huruf pertama kapital,
sedangkan dua huruf yang lain ditulis dengan huruf kecil. Penulisan singkatan
tersebut yang betul adalah Swt.
·
Kata “dimana” dalam kalimat (1) digunakan
tidak tepat karena bentuk “di mana” menunjukkan suatu tempat. Fungsi “dimana”
dalam kalimat (1) digunakan sebagai konjungtor. Dalam kaidah bahasa Indonesia
konjungtor “di mana” tidak ada. Konjungtor yang tepat digunakan dalam kalimat
(1) adalah konjungtor subordinatif, yakni “karena”.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Kita bersyukur kepada Allah Swt. karena sampai
saat ini kita telah diberikan berbagai kenikmatan.
11. Dalam
makalah ini membahas tentang penggunaan kata-kata serapan dalam Suara Muhammadiyah
2003.
Langkah
I: Mengidentifikasi Masalah
·
Kalimat (11) salah karena unsur
kalimatnya kurang subjek.
·
Terdapat kesalahan penulisan kata “Suara
Muhammadiyah 2003” dalam kalimat (11).
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kalimat
(11) diawali preposisi dalam yang menyebabkan hilangnya Subjek. Frasa makalah
ini sesungguhnya merupakan Subjek. Namun, karena didahului preposisi dalam,
terbentuklah frasa preposisional dalam makalah ini yang berfungsi
sebagai Keterangan. Akibatnya, kalimat (11) tidak bersubjek.
Agar bersubjek, kalimat (11) setelah keterangan, diberi Subjek
misalnya penulis, dia, kami, dsb. Adapaun klasifikasi
unsur kalimatnya adalah sebagai berikut.
Dalam
makalah ini penulis membahas tentang penggunaan kata-kata serapan dalam
Ket. S P Pel
Suara
Muhammadiyah 2003.
·
Dalam kalimat (11) terdapat kesalahan
penulisan kata “Suara Muhammadiyah 2003” karena tidak ditulis miring. Dalam
EyD, huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah,
dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Dalam makalah ini penulis membahas
penggunaan kata-kata serapan dalam Suara
Muhammadiyah 2003.
12. Bangsa
Indonesia sedang melawan krisis multi dimensional, terutama krisis moral. Maka dari
itu, kita harus berjuang secara sungguh-sungguh.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penulisan kata
“dimensional”
·
Terdapat kesalahan penulisan kata “multi
dimensional” dalam kalimat (12).
·
Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor
“maka dari itu” dalam kalimat (12)
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Kata “dimensional” berasal dari bahasa
Inggris “dimensional”. Menurut EyD pengindonesiaan kata “dimensional” adalah
“dimensi”. Sementara itu, dalam KBBI kata “dimensional” tidak ditemukan, tetapi
yang ada kata “dimensi”. Jadi, kata yang betul dalam kalimat (12) adalah
“dimensi”.
·
Kata “multi dimensi” merupakan gabungan
kata yang dirasakan sudah padu sehingga penulisannya harus dirangkai.
·
Konjungtor antarkalimat “maka dari itu”
tidak terdapat dalam kaidah bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Indonesia
konjungtor “maka” merupakan konjungtor subordinatif yang digunakan untuk
menghubungkan klausa yang satu dengan klausa lainnya.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
·
Bangsa Indonesia sedang krisis multidimensi,
terutama krisis moral. Oleh karena itu, kita harus berjuang secara
bersungguh-sungguh.
13. Karena
pengetahuan kebahasaannya rendah, sehingga dia sering salah dalam berbahasa
Indonesia.
Langkah
I: Mengidentifikasi Masalah
·
Pada
kalimat (16) terdapat kesalahan penggunaan konjungtor karena dan sehingga.
Langkah II: Menjelaskan Kesalahan
·
Dalam
kalimat majemuk bertingkat harus ada klausa yang berkedudukan sebagai induk
kalimat. Namun, dalam kalimat (6) semua klausa berkedudukan sebagai anak
kalimat. Hal itu terjadi karena dalam kalimat itu digunakan dua konjungtor
subordinatif karena dan sehingga.
Agar kalimat itu berinduk, salah satu konjungtor itu harus
dihilangkan.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan
analisis di atas perbaikan pada kalimata (16) adalah sebagai berikut.
·
Karena pengetahuan kebahasaannya rendah,
dia sering salah dalam berbahasa Indonesia.
14. Karya sastra merupakan hasil ciptaan seorang
pengarang yang diperuntukan sebagai reaksi atau
tanggapan atau tanggapan pengarang terhadap keadaan yang terjadi disekelilingnya. Tanggapan tersebut dapat berisi
sebuah apresiasi maupun kritikan dari kondisi yang terjadi pada waktu yang
lalu, saat ini, bahkan yang akan datang. Sehingga
sebuah karya sastra tidak hanya berguna pada masa lampau dan masa kini namun
juga akan berguna diwaktu yang akan datang. Pada
masa yang lalu, suatu kejadian dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan yang akan
datang.
Langkah
I: Mengidentifikasi Kesalahan
·
Terdapat kesalahan penggunaan kata
“diperuntukan”
·
Terdapat kesalahan penulisan preposisi
“di” pada kata “disekelilingnya”
·
Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor
“sehingga” karena digunakan untuk menghubungkan kalimat satu dengan kalimat
yang lainnya.
·
Terdapat kesalahan penggunaan konjungtor
“namun”
·
Terdapat kesalahan penulisan preposisi
“di” pada kata “diwaktu”
Langkah
II: Memperbaiki Kesalahan
·
Kata “diperuntukan” dalam tuturan (1)
penggunaannya tidak tepat. Hal itu membuat kalimat tersebut rancu. Agar tidak
rancu, kata “diperuntukan” harus diganti dengan kata “digunakan”.
·
Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di
pada kata “disekelilingnya” ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Penulisan yang benar adalah “di sekelilingnya”.
·
Dalam
tuturan (2) konjungtor sehingga digunakan sebagai konjungtor
antarkalimat. Menurut kaidah, konjungtor tersebut merupakan konjungtor
subordinatif yang berfungsi sebagai perangkai klausa yang satu dengan klausa
yang lain dalam kalimat majemuk. Jadi, konjungsi ”sehingga” pada tuturan (2) harus
diganti dengan konjungtor antarkalimat ”oleh karena itu”.
·
Dalam tuturan (2) konjungtor “namun”
digunakan untuk menghubungkan klausa yang satu dengan klausa yang lain. Menurut
kaidah, konjungtor tersebut merupakan konjungtor antarkalimat yang berfungsi
sebagai perangkai kalimat satu dengan kalimat yang lain. Jadi, konjungsi
“namun” pada tuturan (2) harus diganti
dengan konjungtor “tetapi”.
·
Kata depan atau preposisi di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Jadi, preposisi di
pada kata “diwaktu” ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Penulisan
yang benar adalah “di waktu”.
Langkah III: Memperbaiki Kesalahan
Berdasarkan
analisis di atas perbaikan pada kalimata (16) adalah sebagai berikut.
·
Karya sastra merupakan hasil ciptaan
seorang pengarang yang digunakan sebagai reaksi
atau tanggapan pengarang terhadap keadaan yang terjadi di
sekelilingnya. Tanggapan tersebut dapat berisi sebuah apresiasi maupun
kritikan dari kondisi yang terjadi pada waktu yang lalu, saat ini, bahkan yang
akan datang. Oleh karena itu, sebuah karya
sastra tidak hanya berguna pada masa lampau dan masa kini, tetapi juga akan berguna di waktu
yang akan datang. Pada masa yang lalu, suatu kejadian dapat menjadi pelajaran
bagi kehidupan yang akan datang.
No comments:
Post a Comment