MERINDU SOSOK HABIBIE
DALAM MENYONGSONG
INDONESIA GENERASI EMAS
Oleh: Nur Anif, S.Pd. (Guru SMK Negeri Nusawungu)
(anifnur92@gmail.com)
Generasi emas adalah generasi yang
diharapkan menjadi tonggak bagi perubahan suatu bangsa. Generasi emas ini
dicita-citakan menjadi generasi yang produktif, inovatif, dan berperadaban
unggul agar nantinya dapat menjadi perintis perubahan dalam membentuk kehidupan
bangsa yang lebih baik. Dengan demikian, generasi emas adalah generasi unggul
yang digadang-gadang menjadi ujung tonggak kemajuan suatu bangsa. Sebab, maju
mundurnya suatu bangsa ada di tangan generasi muda.
Dalam suatu negara, generasi muda
juga memegang peranan yang sangat penting bagi peradaban dan kemajuan bangsa.
Sebagaimana yang telah digaungkan oleh presiden pertama Indonesia “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan
kucabut semeru. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Dari semboyan Presiden Soekarno itulah dapat diambil kesimpulan bahwa pemuda
memanglah mempunyai peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa.
Dalam pandangan Islam, pemuda juga
mempunyai posisi yang begitu mulia, sebagaimana yang dijelaskan dalam alquran:
“Kamu adalah
umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali 'Imran
[3]: 110).
Pemuda
adalah umat terbaik yang dipilih Allah bagi umat manusia selama mereka selalu
menyuruh kepada kebaikan, mencegah dan melawan segala bentuk kemungkaran dengan
landasan iman kepada Allah.
Sebagaimana
yang telah disabdakan Allah Swt. dalam alquran, pemuda adalah umat terbaik yang
dilahirkan ke dunia ini untuk mengemban tugas sebagai khalifah yang mana setiap langkahnya akan dipertanggungjawabkan di
akhirat. Di akhirat kelak, akan ada
sebuah peradilan yang maha adil, yang tidak akan pernah ada pembelanya. Amanah
sebagai seorang khalifah sungguh
sangat berat. Di peradilan yang agung, setiap jengkal apa yang telah dilakukan
harus dipertanggungjawabkannya di depan hakim Maha Adil. Oleh sebab itu,
sungguh amanah (sebagai khalifah) merupakan amanah yang seharusnya dijalankan
dengan penuh tanggung jawab.
Namun,
kenyataannya dapat kita lihat fenomena pemuda saat ini. Pemuda yang seharusnya
menjadi andalan kemajuan suatu bangsa, malah menjadi biang keladi kemunduran
bangsa. Kenakalan remaja, tawuran antarpelajar, pembunuhan antarremaja, narkoba,
sex bebas, bullying telah menghiasi layar televisi Indonesia. Kebrutalan para
pemuda sudah sangat sulit dibendung. Bukannya berlomba-lomba untuk mencapai
prestasi, tapi mereka lebih tertarik untuk mencari sensasi. Kebobrokan moral
para pemuda sudah merajalela di mana-mana. Lalu, siapa yang hendak disalahkan?
Jika
kita melihat ke belakang, tidakkah kita tertarik untuk mengikuti jejak sosok
salah satu putra terbaik Indonesia yang bernama Habibie? Dengan nama lengkap
Baharuddin Jusuf Habibie, semasa mudanya Habibie telah menjadi sosok pemuda
yang produktif, inovatif, dan mempunyai pemikiran yang genius. Selain genius,
ia juga mempunyai kepribadian unggul, ia juga sosok pekerja keras, tekun dalam
bekerja dan juga jujur. Karena kegeniusannya dan kerja kerasnya itu, ia dapat
menciptakan suatu mahakarya berupa pesawat terbang yang membuat masyarakat
Indonesia dan dunia terkagum-kagum atas prestasinya. Ia juga dinobatkan menjadi
Bapak Teknologi Indonesia. Sungguh sosok yang sangat inspiratif. Selain itu, ia
juga terpilih menjadi ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) yang berkomitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa
Indonesia.
Walaupun raganya kini telah tiada,
tetapi kobaran semangatnya akan tetap terkenang. Semua kerja kerasnya, semua
jasa-jasanya untuk negara tercinta ini masih tetap menggelora di seluruh
penjuru negeri ini. Sebagaimana peribahasa mengatakan bahwa “Gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia
mati meninggalkan namanya”. Nama dan juga jasa Habibie akan tetap terkenang
bagi masyarakat Indonesia. Harapannya, semangat muda Habibie dapat menjadi suri
teladan bagi para pemuda Indonesia sebagai bekal menuju generasi emas 2045.
Sebab, di tangan pemudalah Indonesia akan menjadi negara yang maju.
Lalu,
seperti apa sebenarnya sifat-sifat yang dapat kita teladani dari sosok B.J.
Habibie sebagai pemuda agar nantinya bisa memotivasi generasi muda di Indonesia
dalam rangka menyongsong generasi emas 2045?
1.
Bersungguh-sungguh dalam Menuntut Ilmu
Masa
muda Habibie tidak disia-siakan begitu saja, Habibie benar-benar menjadi pemuda
yang haus akan ilmu pengetahuan. Sebagaimana semboyan yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”,
dalam hal menuntut ilmu, semangatnya tidak diragukan lagi. Setelah tamat SMA,
Habibie diterima di ITB (Institit Teknologi Bandung). Karena prestasinya,
Habibie juga mendapatkan beasiswa untuk menimba ilmu ke Jerman. Dengan
mengambil jurusan teknik penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat
terbang di Rhein Westfalen Aachen
Technische Hochshule (RWTH), ia lulus dengan predikat cumlaude (sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5. Mulai dari gelar
Doktor hingga Profesor yang ia raih, menandakan bahwa Habibie adalah sosok yang
begitu cerdas dan sungguh-sungguh.
Pun
demikian dalam islam, menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi laki-laki maupun
perempuan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap muslim” (H.R. Ibnu Majah no. 224). Jadi,
jelaslah bahwa kita sebagai pemuda muslim diwajibkan untuk bersungguh-sungguh
dalam menuntut ilmu untuk mencapai peradaban yang lebih baik lagi.
Peradaban
tidak bisa tegak tanpa adanya ilmu. Negara akan menjadi kuat jika pemudanya
mempunyai bekal ilmu yang kuat pula. Pemuda dalam setiap bangsa adalah tulang
punggung yang menjadi unsur penggeraknya sehingga tidak ada suatu bangsa pun
yang mampu bangkit kecuali di atas pundak para pemudanya. Sebagaimana sabda
Rasulullah saw:
“Barang
siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke
surga, sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang
menuntut ilmu karena senang terhadap apa yang diperbuat".
Dijelaskan bahwa Rasulullah saw
memberikan motivasi kepada umat Islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha
untuk dimiliknya. Hadits tersebut mengandung satu syarat dan jawab. Syaratnya,
kalau mau dimudahkan jalannya ke surga maka harus berusaha untuk selalu
menuntut ilmu, sedangkan jawabnya bahwa Allah pasti memudahkan jalannya masuk
ke surga kalau sudah melaksanakan apa yang telah diperintahkan.
Berdasarkan
uraian di atas sungguh sangat jelas bahwa perintah untuk menuntut ilmu adalah
wajib hukumnya baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Hal ini menandakan
bahwa agama Islam tidak membeda-bedakan hak dan kewajiban manusia karena jenis
kelaminnya. Sejatinya manusia baik laki-laki, maupun perempuan hidup di dunia
ini sebagai khalifah diperintah oleh
Allah Swt. untuk menuntut ilmu agar mempunyai bekal yang cukup. Bagaimana
mungkin seseorang dapat mengelola dan merekayasa kehidupan di bumi ini tanpa
bekal ilmu pengetahuan? Hal itu tentu saja akan sangat sulit terealisasikan.
Oleh karena itu, para pemuda diharapkan dapat bersungguh-sungguh dalam menimba
ilmu untuk bekal di dunia maupun akhirat. Dengan bekal ilmu yang memadai, para
pemuda harus optimistis dapat mencapai generasi emas pada tahun 2045.
2.
Disiplin
B.J.
Habibie adalah sosok yang sangat menghargai waktu. Sikap disiplinnya juga tidak
dapat diragukan lagi. Setiap langkahnya selalu diniatkan untuk beribadah. Ia
sangat memperhitungkan sekali setiap kegiatan yang dijalankan setiap harinya,
sebagaimana dikisahkan ketika menimba ilmu dan bekerja di Jerman seluruh
waktunya benar-benar diatur dengan maksimal. Selain itu, ketika Habibie bekerja
di Talbot (Perusahaan kereta api) di tiga bulan pertamanya ia bekerja di
perusahaan tersebut tidak ada waktu untuk tidur. Banyak pengetahuan dan
pandangan baru yang harus ia pahami sehingga ia harus benar-benar mengatur
waktu. Namun, berkat kegigihannya, ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan
maksimal.
Islam
juga mengajarkan bahwa menghargai waktu lebih utama sebagaimana firman Allah
Swt. dalam Surah Al-Asr 103, ayat 1-3 yang artinya, “Demi waktu, sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati
untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”.
Hidup
yang tertib dan teratur sangat menentukan sukses atau tidaknya seoseorang dalam
mengelola waktu secara disiplin. Oleh karena itu, sebagai pemuda muslim yang
baik alangkah baiknya kita dapat menggunakan waktu secara optimal untuk
melakukan hal-hal yang positif, yaitu beribadah di jalan Alloh Swt. Dengan
mengatur waktu secara disiplin, bukan hal yang sulit untuk kita menjadi pemuda
yang berkualitas. Sebab, segala yang kita lakukan sudah terarah dan terencana
dengan baik.
3.
Kerja Keras
Di
era milenial seperti sekarang ini, sangat dibutuhkan pemuda yang mempunyai etos
kerja tinggi. Bagaimana tidak? Bisa kita lihat di negara-negara maju, etos
kerja mereka tidak diragukan lagi. Namun, jika berkaca pada penduduk Indonesia
khususnya pemuda, kita masih sangat jauh tertinggal.
Jika
kita lihat pada sosok Habibie, semasa mudanya ia adalah pemuda yang pekerja
keras. Hal ini terbukti ketika awal mula Habibie hendak menciptakan pesawat
terbang, banyak penolakan dari para ilmuwan yang bekerja di luar negeri. Selain
itu, pandangan sinis dari pimpinan industri pesawat terbang yang ada di
Indonesia juga turut menghiasi perjuangan Habibie. Mereka menganggap bahwa
Habibie bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka yang telah menjual puluhan
peswat terbang di Indonesia.
Dikisahkan
juga pada tahun 1995, satu bulan menjelang penerbangan buah karyanya berupa
pesawat itu, Habibie terus menerus memikirkan persiapan penerbangan perdana
berupa pesawat terbangnya yang diberi nama N-250 Gatotkoco. Bahkan, pada malam
sebelum upacara terbang perdana pesawatnya, Habibie turun langsung memeriksa
satu per satu persiapan penerbangannya itu. Berkat kerja kerasnya itu, pesawat
hasil karya timnya mampu membuat orang-orang Indonesia dan dunia bersikap kagum
dan mereka mengapresiasi atas keberhasilan yang telah ditorehkan oleh salah
satu putra terbaik bangsa Indonesia. Bahkan, pada hari itu menjadi hari
bersejarah bagi bangsa Indonesia dan pada hari itujuga diperingati sebagai hari
Kebangkitan Teknologi. Penghargaan sebagai “Bapak Teknologi Indonesia” juga
disematkan pada diri Habibie,
Dalam pandangan Islam kita juga diperintahkan untuk
bekerja keras sebagaimana dalam Q.S. At-Taubah ayat 105 yang artinya”
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan
Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata,
lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Selain
itu, perilaku kerja keras juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau
tidak hanya menghabiskan waktu untuk mengingat Allah saja, tetapi bekerja keras
untuk berdakwah juga dilakukannya. Berdasarkan hal tersebut, kita sebagai
generasi muda juga selayaknya bisa meneladani sosok Habibie dan Rasulullah saw.
untuk membiasakan perilaku kerja keras. Kita tidak boleh hanya berangan-angan
atau bergantung pada orang lain.
4.
Jujur
Jujur
merupakan kesesuaian antara hati, perkataan, dan perbuatan. Namun, nyatanya kejujuran
itu sangat sulit dilakukan bagi manusia pada umumnya. Apalagi di zaman
sekarang, ada pepatah yang mengatakan bahwa “ora edan, ora keduman”, jika kita tidak ikut-ikutan “gila” seperti
orang-orang di luar sana, kita tidak akan kebagian (menggapai) yang kita inginkan.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi sosok Habibie dan seharusnya hal itu pula
juga tidak berlaku untuk semua orang karena jika semua orang memiliki sifat
yang tamak tersebut, tidak aka nada harapan lagi Negara Indonesia ini bakal
menjadi generasi emas. Sebab, generasi mudanya sudah menjadi generasi yang
mengalami kemerosotan moralnya. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan
tindakan korupsi dan nepotisme akan merambah di mana-mana.
Jika
kita berkaca pada sosok Habibie, sifat jujur sudah melekat pada jiwa raganya.
Hal ini terbukti ketika ia hendak disuap oleh berbagai kalangan mengenai
proyeknya dalam pembuatan pesawat. Dengan halus tanpa menyinggung perasaan, ia
menolak tawaran tersebut. Sebab, ia berkeyakinan bahwa kejujuran adalah kunci
untuk mencapai ridho dari Alloh Swt.
Sudah
semestinya sifat jujur ini menjadi identitas bagi setiap muslim, karena sifat
jujur sudah banyak dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beliau mempunyai sifat
shiddiq dan amanah, yang artinya benar dan dan dapat dipercaya. Dalam setiap
langkahnya beliau selalu menjalankan apa yang diperintah Allah, dan juga
menjauhi segala yang dilarang Allah. Dengan sifat jujur itu pula manusia akan
menjadi tentram dalam hidupnya.
Sungguh
masih banyak keteladaan dari sosok B.J. Habibie yang tidak dapat tergoreskan
dengan pena ini. Lalu, di mana mereka yang sedang kita rindu? Mereka adalah
kita. Kita sebagai generasi muda yang merindu Indonesia benar-benar merdeka
dari segala keterpurukan. Kita yang senantiasa memperbaiki diri, terus
meneladani para nabi terdahulu yang sangat menjaga amanahnya. Kita yang
senantiasa rindu akan teladan-teladan dari para pendahulu dan salah putra
terbaik negara ini, salah satunya yaitu sosok Habibie.
Bersungguh-sungguh dalam Menuntut
Ilmu, Disiplin, Pekerja Keras, dan Jujur
Sifat-sifat
yang demikian jika dapat dimiliki oleh generasi muda saat ini, bukan mustahil
lagi jika Indonesia akan menjadi negara kuat, sebab pemudanya sudah mempunyai
jiwa-jiwa yang bekarakter unggul dan mempunyai pemikiran yang genius sehingga generasi
emas yang tengah digadang-gadang pemerintah untuk menghadapi tahun 2045 akan
dengan mudah terealisasikan.
Generasi
Emas 2045 adalah visi mulia yang harus diemban oleh seluruh elemen masyarakat.
Maka disinilah khususnya generasi muda mempunyai peranan yang sangat penting untuk
mewujudkan hal itu di kemudian hari. Peran penting pemerintah, sekolah, dan keluarga
dalam menyiapkan generasi emas ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Peran mereka juga sangat diharapkan untuk menggali potensi generasi masa depan
Indonesia yang memiliki kecerdasan yang komprehensif, yakni produktif,
inovatif, dan berperadaban unggul.
Selain
itu, ada hal yang lebih penting lagi sebenarnya, generasi muda itu sendiri.
Kita sebagai generasi muda harus segera sadar dan bangkit. Kita harus segera
bangun dari tidur panjang kita. Sebab, di tangan kitalah maju mundurnya suatu
bangsa. Bagaimana Negara akan maju, jika kita sebagai generasi muda tidak ada
semangat untuk maju?. Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda yang
digadang-gadang menjadi tonggak kemajuan bangsa bersatu padu menggelorakan
semangat juang disertai iman dan taqwa untuk mencapai generasi emas tahun 2045
sehingga Indonesia akan menjadi negara maju dan unggul sebagaimana yang selama
ini kita cita-citakan.

No comments:
Post a Comment